YANG HOT KLIK DI SINI

Tampilkan postingan dengan label Abrasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abrasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 September 2010

Abrasi Air Ancaman Serius

Abrasi Air Ancaman Serius

Jalan sentral ekonomi yang menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan pusat kota Jakarta ambles sepanjang 103 meter dan lebar 4 meter dengan kedalaman 7 meter di Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, Kamis (16/9). Kerusakan yang terjadi sekitar pukul 03.00 itu membuat jalan arteri Ancol-Pelabuhan Tanjung Priok ditutup untuk kendaraan roda empat. (KOMPAS/AGUS SUSANTO)***

JAKARTA - Abrasi air tidak hanya mengancam Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, yang ambles dini hari kemarin, tetapi semua jalan yang berdekatan dengan kali dan laut juga terancam. Selain itu, penurunan tanah 12-26 sentimeter per tahun di Jakarta Utara juga perlu perhatian serius.

Ruas Jalan RE Martadinata, tepatnya di depan rumah pompa Sunter Utara, ambles sepanjang 103 meter, Kamis (16/9) sekitar pukul 03.00. Jalan yang termasuk jalur nadi perekonomian nasional ini ambles diduga karena tanah di bawahnya tergerus air kali dan air laut.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak membenarkan bahwa kikisan sungai menjadi penyebab robohnya badan jalan. Oleh karena itu, Kementerian PU akan memasang sheet pile atau tanggul sungai di bawah badan jalan yang masih utuh agar tanahnya tidak terkikis.

Petugas dari Kementerian PU, Yudo Muktiarto, menjelaskan, amblesnya jalan tersebut kemungkinan diakibatkan adanya rongga antara lapisan tanah dan konstruksi jalan beton itu. Lapisan tanah yang kena abrasi air laut juga telah membuat tanah menjadi labil. Selain itu, kendaraan dengan tonase berat yang kerap melintas di jalan tersebut juga bisa menjadi penyebab amblesnya jalan itu.

Pengajar Teknik Sipil Universitas Trisakti, Fransiskus Trisbiantara, mengatakan, jalan beton itu tidak berdiri di atas tiang pancang, tetapi langsung di atas tanah. Seharusnya, kata Trisbiantara, kontraktor jalan membangun tanggul sungai di tanah yang menjadi penopang badan jalan agar tidak mudah terkikis.

”Perlu diteliti apakah struktur beton di bawah badan jalan sudah sesuai dengan beban dan daya dukung tanahnya. Abrasi sungai sudah terlihat sehingga badan jalan seharusnya didukung struktur bawah yang kuat dan bukan hanya ditopang tanah,” lanjutnya.

Trisbiantara mengatakan, Kementerian PU perlu meneliti seluruh struktur fondasi jalan beton di Jakarta Utara agar kejadian serupa tidak terulang. Selama ini, jalan beton dianggap sanggup menahan beban seberat apa pun. Padahal, jalan beton tetap sebuah konstruksi yang memiliki batasan beban dan harus bertumpu pada fondasi yang kuat.

Pendiri Indonesia Water Institute Firdaus Ali menilai, amblesnya jalan itu juga dipengaruhi oleh penurunan permukaan tanah yang terlalu cepat sehingga daya dukung tanah berkurang.

Menurut Firdaus, berdasarkan penelitian Prof Hasanudin ZA dari Institut Teknologi Bandung dan Dr Robert Delinom dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada tahun 2009, penurunan permukaan tanah di Jakarta Utara berkisar 12 sampai 26 sentimeter per tahun.

Ada tiga penyebab penurunan tanah di Jakarta Utara, yaitu penurunan secara alami karena kondisi batuan yang mengalami pemadatan, penurunan karena adanya penyedotan air tanah secara berlebihan, dan penurunan karena beban berat dari gedung yang ada di Jakarta Utara.

Secara terpisah, Direktur Wilayah II Bina Marga Kementerian PU Winarno mengatakan, amblesnya jalan itu terjadi akibat adanya pengerukan di pesisir pantai Jakarta Utara sehingga berdampak pada hilangnya keseimbangan struktur tanah di Jalan RE Martadinata. ”Kerugian akibat amblesnya jalan ini sebesar Rp 2,835 miliar,” ujar Winarno.

Namun, Corporate Communication PT Pelabuhan Indonesia II Eddy Haristiani menegaskan, lokasi pengerukan pelabuhan jauh dari lokasi amblesnya jalan. ”Silakan jika ada tim investigasi meneliti amblesan jalan itu. Tetapi kami tegaskan, pengerukan yang kami kerjakan berjarak 1,2 kilometer dari sana, yakni dekat PLTGU,” kata Eddy.

Hermanto Dardak mengatakan, untuk memperbaiki badan jalan yang roboh, pihaknya sedang mempertimbangkan dua alternatif, yaitu pembuatan jembatan atau pemasangan tiang penyangga (pile slab) dan badan jalan dari beton diletakkan di atasnya. Biaya perbaikan diperkirakan mencapai Rp 6 miliar. Selain itu, proses konstruksi juga diperkirakan sudah dapat dimulai dua minggu lagi.

Lalu lintas

Eddy Haristiani mengatakan, truk yang hendak menuju pelabuhan disarankan masuk ke Tol Wiyoto Wiyono, masuk dari Gerbang Tol Ancol, lalu keluar di Gerbang Tol Plumpang, kemudian masuk ke Tanjung Priok.

”Namun, sebenarnya arus truk dari Ancol yang melewati Jalan RE Martadinata tidak terlalu banyak. Lebih banyak truk yang melewati jaringan Tol Lingkar Luar Jakarta dan Tol Wiyoto Wiyono yang lewat di Plumpang,” kata Eddy.

Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara Komisaris Irvan Prawira Putra saat ditemui di lokasi kejadian mengatakan, untuk sementara, arus lalu lintas yang melalui ruas jalan itu ditutup. Kendaraan roda empat dan lebih tidak bisa melintas di jalan tersebut karena dikhawatirkan ruas jalan yang menuju Ancol juga bisa ambles. ”Hanya motor yang masih boleh lewat di jalan ini,” kata Irvan.

Sementara itu, arus lalu lintas dari arah Terminal Tanjung Priok menuju Ancol dialihkan melalui tiga jalur, yakni Jalan Sunter Podomoro, Jalan Enggano, dan Jalan Gorontalo. Sebaliknya, dari arah Ancol menuju Pelabuhan dan Terminal Tanjung Priok dialihkan ke Jalan Pengadilan, Jakarta Utara, menuju Danau Sunter dan jalan-jalan hunian.

”Kami akan tempatkan personel kami di jalan-jalan alternatif itu agar tidak terjadi penumpukan kendaraan. Selain itu, untuk kendaraan roda empat, kami imbau mengambil Jalan Tol Wiyoto Wiyono,” ujar Irvan.

Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Timur Pradopo mengatakan, bersama tim investigasi dari kementerian terkait, akan dilakukan pemeriksaan terhadap penyebab insiden itu. Menurut dia, belum bisa dipastikan siapa yang bertanggung jawab atas insiden tersebut. ”Kami masih melakukan penyelidikan terhadap semua pihak terkait,” kata Timur.

Hingga kini, Polres Metro Jakarta Utara juga masih menyelidiki penyebab longsornya jalan yang baru dua bulan lalu selesai dibeton itu. Polisi bersama Badan SAR Nasional juga mencari kemungkinan adanya korban yang hanyut ketika jalan itu ambles.

”Kami sudah menurunkan petugas untuk mencari korban. Namun, hingga kini kami belum menemukan tanda-tanda adanya korban,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Utara Komisaris Susatyo Purnomo Condro.

Pencarian terhadap kemungkinan adanya korban dilakukan atas laporan Markusen yang melihat amblesnya jalan itu. Menurut Markusen, ketika melintas di jalan itu, dia melihat ada sebuah sedan di depan motornya. Ketika itu kondisi gelap sehingga Markusen tidak yakin apakah sedan itu ikut ambles atau selamat.

Sejak akhir 2009, ruas Jalan RE Martadinata ditinggikan 60 sentimeter dengan dibeton. Peninggian ini dilakukan karena ruas jalan itu kerap terendam banjir saat air pasang naik. Akibat banjir, lalu lintas menuju Pelabuhan Tanjung Priok tersendat.

Empat saksi

Susatyo menambahkan, hingga Kamis sore polisi telah meminta keterangan dari empat saksi. Saksi pertama adalah Markusen alias Deden, tukang ojek yang melihat ruas jalan tersebut ambles. Kemudian, tiga orang dari Kementerian PU, yakni Sadiman selaku pengawas proyek, Ir Indra Budi Susiawan selaku pelaksana, dan Ir Hendri Suprayogi selaku pengawas jembatan.

”Ini masih pemeriksaan awal. Kami akan mengembangkannya lebih lanjut, termasuk ke kontraktor yang membangun,” ujar Susatyo. (ECA/ARN/RYO)***

Source : Kompas, Jumat, 17 September 2010 | 02:52 WIB

Ada 13 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • suherman muchdi

Jumat, 17 September 2010 | 15:33 WIB

Benar terjadi penurunan tanah dan tentu jalan beton ikut turun karena tidak ada penopang, tapi daya dukung tanah dibawah tanah yang turun, tidak berarti berkurang. Opini dari Dit Wil II PU tentang pengaruh kegiatan pengerukan, kok asal bunyi. Jika tidak ada perbuatan kriminal, sebaiknya jangan jadikan/ dicari-cari dari kesalahan teknis (perencanaan-design-pelaksanaan-pengawasan) sebagai tindakan pidana.

Balas tanggapan

  • Sabt0 Jaya

Jumat, 17 September 2010 | 13:29 WIB

ini lah kondisi negeri anta branta yg korup, selamat menikmati hai rakyat negeri anta branta, selamat masa bodoh selamat cuek selamat tak peduli hidup negeri korupsi...anta branta namanya, hidup koruptor, hidup para pemimpinnya yg pintar berkelit dan membela diri hihihihihi

Balas tanggapan

  • kelik rickyantoro

Jumat, 17 September 2010 | 10:47 WIB

cepat atau lambat...ambles pastilah...namanya juga inlander...kalo korup pinter dan gesit gesit...amblesnya jalan itu hanya satu dari sekian banyak akibat yg akan terjadi...yg parah dan yg lebih parah juga akan banyak

Balas tanggapan

  • Budianto Muin

Jumat, 17 September 2010 | 09:56 WIB

beberapa tahun ke depan jakarta akan tenggelam, saya membayangkannya seperti venecia, bagus juga!!

Balas tanggapan

  • Benny Saptakusuma

Jumat, 17 September 2010 | 09:43 WIB

Timbul masalah, baru dipikir solusi....kapan ya bangsa kita berpikir kemungkinan kemungkinan masalah baru dibangun/dikerjakan proyek....artinya AMDAL nggak jalan hanya retorika....musibah:(

Balas tanggapan

Jumat, 30 Juli 2010

Kemusnahan mangrove di pesisir utara Jawa dan Bali di ambang pintu

Mangrove Jawa dan Bali, 68 Persen Rusak

Barisan ajir (batang bambu untuk penopang bibit mangrove) dengan jarak tanam yang rapat terendam sepanjang puluhan kilometer di sepanjang garis pantai sebelah barat muara Kali Rambatan Baru, Desa Lamaran Tarung, Kecamatan Cantigi, Indramayu, Jawa Barat, Minggu (8/6). Tidak tampak satu pun bibit mangrove yang tertanam menempel pada ajir. Lokasi tersebut sebenarnya bukan habitat mangrove karena bukan lahan pasang surut. (KOMPAS/LASTI KURNIA)***

JAKARTA - Kemusnahan mangrove di pesisir utara Jawa dan Bali di ambang pintu. Data yang dirilis LSM lingkungan KIARA menyebutkan, kerusakan hutan mangrove mencapai 68 persen dari periode 1997-2003. Sebagai area pemijahan dan asuhan bagi ikan, udang, dan kerang-kerangan, mangrove memberi arti penting bagi nelayan dan masyarakat pesisir. Untuk itu, pemerintah perlu menyegerakan upaya pemulihan kawasan pesisir.

"Rusaknya ekosistem mangrove disebabkan oleh limbah antropogenik daratan di sekitar pantai, khususnya limbah industri. Juga akibat konversi lahan pantai untuk kepentingan industri, kawasan perniagaan, dan permukiman mewah," kata Abdul Halim, Koordinator Program Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dalam siaran persnya, Rabu (28/7/2010).

Hingga 2014, Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan pemulihan kawasan pesisir seluas 1.440 hektare (ha) dari kerusakan lingkungan di sepanjang pantai nasional. Dari target 2014 seluas 1.440 ha, diharapkan capaian per tahunnya mencapai 401,7 persen.

"Besaran target yang dipatok harus dibarengi dengan kesungguhan Menteri Kelautan dan Perikanan dalam melaksanakan program. Kesungguhan ini bisa diwujudkan jika program yang dijalankan tidak berpangku pada ketersediaan anggaran semata, melainkan pada tujuan mulia program, yakni mengembalikan fungsi-fungsi ekologis dan sosial ekosistem pesisir. Dalam kondisi inilah, partisipasi nelayan dan masyarakat pesisir penting untuk dilibatkan," papar Halim.

Pada prinsipnya, mangrove adalah daerah pemijahan dan asuhan bagi ikan, udang, dan kerang-kerangan. Daerah pesisir yang memiliki mangrove juga berfungsi sebagai daerah penyangga atau filter akibat pengaruh daratan, seperti penahan sedimen dan melindungi pantai dari erosi, serta gelombang dan angin kencang.

"Hilangnya mangrove akibat konversi dan proyek reklamasi juga turut memusnahkan hutan mangrove di wilayah pesisir. Bahkan, di Langkat, Sumatera Utara, kami menemui beralihnya hutan mangrove menjadi perkebunan sawit. Inilah bentuk penghancuran hutan mangrove," jelas Halim. (WAH) ***

Source : Kompas.com, Rabu, 28 Juli 2010 | 12:12 WIB

Ada 4 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • bejo sumringah

Jumat, 30 Juli 2010 | 09:44 WIB

lindungi alam merupakan salah satu cara melindungi diri sendiri, salam Budaya.

Balas tanggapan

  • Oki lukito indomaritim

Kamis, 29 Juli 2010 | 17:04 WIB

Ribuan mangrove mudah ditanam tetapi karena pemilihan lokasi tidak tepat dan jenisnya yang salah, hanya menghamburkan uang dan tenaga, salam bahari

Balas tanggapan

  • ali sarton

Rabu, 28 Juli 2010 | 16:50 WIB

tingkatkan pengawasan, memperhatikan masyarakt sekitarnya, ppemmberihan penyuluha, dan tindakan yang positif, mungkin bisa memperkecil perusakan mangrove

Balas tanggapan

  • ali sarton

Rabu, 28 Juli 2010 | 16:47 WIB

mari kita lindungi mangrove kita,,,saatnya kita bersinergi antara kehutanan dengan kelautan kearah yang lebih baik untuk hasil yang lebih maksimal........(fahutan IPB)

Balas tanggapan

Kamis, 25 Maret 2010

Antisipasi Perubahan Iklim, Penyelamatan Pesisir Disepakati

PERUBAHAN IKLIM

Penyelamatan Pesisir Disepakati

JAKARTA - Potensi kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim mengancam kawasan pesisir dan 2.000 pulau di Indonesia. Untuk mengatasi itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Korea International Cooperation Agency menyepakati kerja sama perencanaan dan manajemen penyelamatan pesisir. Kerja sama itu mencakup perencanaan antisipasi penurunan permukaan tanah Jakarta.

Menurut Direktur Pengairan dan Irigasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional M Donny Azdan, perencanaan penyelamatan pesisir dibutuhkan karena Indonesia rentan terhadap dampak perubahan iklim.

”Jika air laut naik 50 cm, diperkirakan 2.000 pulau kita akan hilang. Kenaikan itu juga mengancam sejumlah kota berkembang, termasuk Jakarta dan kota lain di kawasan pantai utara Jawa,” kata Donny seusai menandatangani kesepakatan Kerja Sama Perencanaan dan Manajemen Penyelamatan Pesisir dengan Korea International Cooperation Agency (Koica) di Jakarta, Rabu (24/3).

Sejumlah kota di Indonesia juga mengalami ancaman penurunan permukaan tanah, termasuk Jakarta. Ancaman penurunan permukaan tanah Jakarta lebih kritis dibandingkan ancaman kenaikan permukaan laut.

”Dalam 30 tahun, permukaan tanah Jakarta bisa turun hampir 100 cm. Sementara perhitungan kenaikan permukaan laut dalam 30 tahun berkisar 5-30 cm. Ancaman penurunan permukaan tanah juga dialami Semarang meski lajunya tidak secepat Jakarta,” kata Donny.

Kerja sama dengan Korea Selatan dipilih karena negara itu berpengalaman membangun pesisir. Donny mencontohkan pengalaman Korea Selatan membangun seawall Saemangeum di pesisir kota Gunsan.

Saemangeum adalah dinding pembendung air laut sepanjang 33 kilometer yang dibangun dengan mereklamasi muara Sungai Mangyeung dan Dongjin. ”Saemangeum merupakan seawall terpanjang di dunia. Pengalaman Korea Selatan bisa menjadi referensi kita menangani ancaman perubahan iklim,” kata Donny

Pemerintah Korea Selatan melalui Koica memberikan hibah 3 juta dollar AS untuk membiayai Penelitian dan Manajemen Penyelamatan Pesisir. Kerja sama Bappenas dan Koica itu akan berlangsung dua tahun.

Resident Representative Koica Indonesia Sungho Choi menyatakan, melalui kerja sama itu para pihak akan meninjau kembali rencana antisipasi dampak perubahan iklim masing-masing. ”Dan, kami ingin berbagi pengalaman dengan Indonesia,” kata Sungho.

Ahli Teknik Kelautan Universitas Pukyong, Ro Ryu-cheong, menyatakan, belum ada yang mengetahui cara terbaik menyelamatkan pesisir dari ancaman kenaikan permukaan laut.

”Kita semua harus berbagi pengalaman bagaimana menyelamatkan kawasan pesisir. Karena kita semua masih belajar. Korea Selatan pun akan mendapat manfaat dari kerja sama itu,” katanya. (ROW) ***

Source : Kompas, Kamis, 25 Maret 2010 | 04:10 WIB

 

Tags

TRANSLATE/TERJEMAH BAHASA

My Blog List

Site Info

Followers

LINGKUNGAN GLOBAL Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template