YANG HOT KLIK DI SINI

Sabtu, 29 Mei 2010

Nadine Chandrawinata : Aktif Kampanye Pelestarian Lingkungan Hidup

NADINE CHANDRAWINATA. (KOMPAS/ARBAIN RAMBEY)***

Nadine Chandrawinata

"Menghukum" Diri Sendiri

Pengantar Redaksi

Namanya disorot ketika mewakili Indonesia pada ajang Miss Universe 2006 di Shrine Auditorium, Los Angeles, AS. Nadine Chandrawinata, Puteri Indonesia 2005 ini, belakangan aktif dalam kampanye pelestarian lingkungan hidup.

Sewaktu mengikuti kontes tersebut, dia sempat ”terseleo lidah”. Nadine lalu menjadi bulan-bulanan sebagian masyarakat. Tentang hal itu, ia mengatakan, ”Kita belajar dari kesalahan. Semua caci maki saya terima dengan terbuka. Saya berterima kasih dengan semua respons itu. Ini membuat saya menjadi tegar.”

Selain menjadi macam-macam duta, dia juga menjadi ”orangtua asuh” seekor gajah di Taman Safari Indonesia. Di samping bekerja untuk memengaruhi sebanyak mungkin orang agar peduli kepada kelestarian lingkungan, gadis campuran Jember-Jerman ini juga menjadi juru bicara untuk Badan Narkotika Nasional dan Turisme Indonesia.

Nadine juga menjadi bintang iklan dan bermain dalam sejumlah film, di antaranya Realita, Cinta dan Rock’n Roll dan Generasi Biru.

Nadine, lebih nyaman mana menjadi seorang Duta Lingkungan atau sebagai seorang selebriti?

(Ahmett Sobrie, Rawamangun)

Selebriti (figur publik) bukan status yang saya kejar, tetapi sesuatu yang saya dapatkan dari apa yang dilakukan. Ketika saya melakukan pekerjaan, bukan popularitas yang dicari. Namun, bagaimana bisa bekerja dan fokus dengan apa yang saya tekuni, baik itu dalam akting, modelling, maupun ketika saya mendapat kesempatan menjadi Duta Lingkungan.

Saya sadar, peran figur publik memudahkan saya berkomunikasi dengan masyarakat. Sebagai Duta Lingkungan, saya lebih leluasa mengampanyekan kelestarian lingkungan.

Menurut Nadine, bagaimana pendidikan di Indonesia kini? Sekarang, banyak generasi muda yang memilih budaya luar daripada lokal. Bagaimana mengatasinya?

(Andriani Dwi Hapsari Pertiwi Munaf, xxx@yahoo.com)

Pendidikan di Indonesia semakin maju dan mengalami perkembangan. Namun, sebaiknya kemajuan pendidikan tak hanya terpusat di kota, tetapi sampai pelosok negeri. Di sini, para pendidik yang berkualitas dan memiliki jiwa pendidik sangat dibutuhkan.

Generasi muda dan budaya bangsa? Saya percaya, adanya pendidikan mengenai budaya bangsa sejak dini akan membuat kita lebih mencintai dan menghargai budaya sendiri. Tetapi, kehadiran budaya asing jangan dianggap ancaman. Jadikan itu sebagai acuan kita untuk lebih mengembangkan potensi budaya sendiri.

Saya yakin, jika kita mau menjadi bangsa yang besar, berarti harus berani berkompetisi di kancah dunia, dengan mengedepankan asas keterbukaan akan adanya perbedaan. Kekayaan budaya kita juga menjadi modal. Tinggal tergantung bagaimana kita menanamkan rasa bangga pada budaya sendiri.

Sebagai Duta Lingkungan, bagaimana Anda bereaksi dengan banyaknya produk tak ramah lingkungan, tetapi menguntungkan secara komersial?

(Satrio Riandriyoko, Jakarta, xxx@yahoo.com)

Kita tak bisa menghindari kerusakan lingkungan dalam semua aspek. Tetapi, kita bisa berusaha sedapat mungkin mengurangi kerusakan itu dan selalu melakukan aktivitas yang ramah lingkungan seperti rajin menanam pohon. Sesekali boleh juga kita ”menghukum” diri sendiri, misalnya dengan tak menggunakan listrik sehari dalam sebulan.

Bagaimana Nadine bisa terpilih menjadi orangtua asuh untuk gajah? Apa kriteria untuk menjadi Duta Lingkungan?

(Annisa Priyandita, Tanah Tinggi, Jakarta)

Tak ada kriteria khusus, tetapi saya diberi kepercayaan menjadi Duta Lingkungan dari penilaian masyarakat. Semua yang saya lakukan itu sesuai kepercayaan saya: dari alam untuk alam.

Gajah itu makhluk hidup tertua yang menjaga spesies lain. Dengan membantu menjaga habitatnya, secara otomatis makhluk hidup lain pun terjaga kehidupannya.

Tak ada kebahagiaan tanpa aksi. Inilah kebahagiaan saya, melihat makhluk hidup lain di Bumi mendapatkan hak yang layak untuk hidup.

Halo Nadine, waktu mengikuti kontes Miss Universe 2006 di AS, insiden ”lidah keseleo” sempat membuatmu menjadi bulan-bulanan sebagian masyarakat. Malah ada yang menganggap Nadine memalukan Indonesia. Secara pribadi, marah atau kecewakah Nadine dengan perlakuan itu? Adilkah perlakuan itu, saat Nadine membawa nama Indonesia, justru ditertawakan oleh masyarakat yang seharusnya mendukungmu?

(Arie Paskal Gunawan, xxx@yahoo.com)

Semua yang terjadi dalam hidup saya, baik itu kesalahan maupun prestasi, adalah proses pembelajaran menjadi manusia yang lebih baik. Saya sempat menyesal mengapa melakukan kesalahan. Namun, inilah cara Tuhan mengajar saya, lewat dukungan keluarga, teman, dan keluarga Mustika Ratu, saya bangkit dan tetap maju.

Semua orang melakukan kesalahan. Kita belajar dari kesalahan itu. Semua caci maki saya terima dengan terbuka. Saya justru berterima kasih dengan semua respons, baik positif maupun negatif. Ini membuat saya menjadi tegar.

Apa yang melatarbelakangi persepsi Nadine berhadapan dengan realitas pelestarian lingkungan di Indonesia? Bagaimana menyebar ”virus” pelestarian lingkungan, khususnya kepada perempuan, dengan tahapan berkelanjutan, tersistematis, tersistem, dan terlembaga, tanpa dana pemerintah?

(Azis Malik, Kompleks DPR RI)

Lingkungan hidup harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan. Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang luas dan baik tentang kelestarian alam. Perempuan itu identik dengan kesabaran dan kelembutan. Dengan memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari, seperti membuang sampah di tempatnya dan penghijauan di halaman rumah, itu langkah nyata mengampanyekan lingkungan hidup. Saya yakin hasilnya akan signifikan.

Andai Kak Nadine tak merintis jalan lewat Puteri Indonesia, apakah akan berkecimpung di dunia hiburan atau memilih jalur sosial seperti menjadi Duta Lingkungan? Atau, punya pilihan lain? Terima kasih atas inspirasi Kak Nadine selama ini.

(Christiansimada Sembiring, Yogyakarta)

Saya tak merencanakan menjadi apa. Namun, ketika kesempatan terbuka dan ada jalan meraihnya, saya tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Saya tak tahu menjadi apa jika tidak berkesempatan di dunia hiburan. Tetapi, satu hal pasti, apa pun karier yang dijalani, saya tetap berbicara tentang pelestarian lingkungan dan bertindak ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Sekarang banyak artis cantik ditawari menjadi anggota DPR atau wakil bupati. Jika ada partai yang menawari, Anda tertarik menduduki jabatan itu?

(Diah Marliati A Soeradiredja, Jalan Bukit Duri Selatan, Jakarta Selatan)

Untuk saat ini saya tidak berkompetensi di bidang itu. Saya merasa akan lebih bermanfaat jika memperjuangkan lingkungan di luar sistem pemerintahan. Namun, tak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Selama itu positif dan kita mampu, tak ada salahnya memperjuangkan dunia yang lebih baik dengan kapasitas masing-masing.

Hai Nadine, selamat atas semua aktivitas positif Anda. Anda bisa menjadi role-model untuk kaum muda Indonesia. Siapa sebenarnya role-model Anda? Mengapa? Kalau punya pilihan, bidang apa yang paling Anda inginkan? Apa yang paling ingin Anda katakan tentang negeri tercinta?

(Farid Badron, Rempoa, Tangerang, xxx@yahoo.com.sg)

Seperti yang dikatakan Ibu Theresa: ”We can do great things; only small things with great love.” Itulah yang saya lakukan untuk perairan kita. Perairan itu begitu luas, apa yang kita lakukan mungkin hanya setitik kecil. Tetapi, tanpa ”titik” itu, ada yang hilang dari perairan kita.

Nadine, sudah punya pacar? Kapan menikah?

(John Travolta, xxx@yahoo.co.id)

Ha-ha-ha, saya berhubungan serius dengan seseorang. Tetapi menikah? Saya tak pernah menargetkannya, biarkanlah semua mengalir. Bila waktunya tiba, itu akan menjadi proses hidup. ”Love lasts when the good relationship comes first”.

Kak Nadine, apa yang dilakukan untuk memulihkan nama Indonesia di mata internasional?

(Kenny Liantogunawan, Bogor, xxx@rocketmail.com)

Semua berawal dari hal paling kecil, membenahi diri sendiri dan menghasilkan karya dalam bidang pekerjaan kita. Saya membuat Pantaskah Aku Mengeluh? dan Nadine, Labour of Love yang dirilis di 24 negara. Buku fotografi itu menunjukkan indahnya alam bawah laut dan memperkenalkan desain perancang busana anak bangsa.

Saya yakin, jika semua warga Indonesia sadar dengan mengubah dirinya lebih dulu, kita akan menjadi bangsa besar dan dihargai dunia internasional. Stop menyalahkan orang lain, mulailah mengoreksi diri kita.

Dari semua tempat di Indonesia yang pernah dikunjungi, mana yang berkesan dan menurut Nadine, ”wajib” dikunjungi?

(Kristanto, Banjarmasin, xxx@gmail.com)

Setiap daerah itu unik dan beda. Keindahan itu berbeda, tergantung persepsi manusianya. Sulit bagi saya untuk menentukan mana yang terfavorit. Indonesia memiliki keindahan alam luar biasa, baik di darat maupun di laut. Apalagi ini pun didukung kerajinan, kesenian, dan tradisi masyarakat lokal.

Apa pendapat Mbak Nadine tentang eksploitasi hutan di Kalimantan? Bagaimana langkah konkretnya? Kalau sudah berkeluarga kelak, ada pengaruhnyakah pada kontribusi Mbak terhadap lingkungan?

(Werdi Agung Suwargono, Cilacap)

Kita perlu hukum yang ramah lingkungan. Untuk mengatasinya, perlu penerapan hukum (yang tegas), pengawasan ketat dari aparat terkait, dan kontrol sosial masyarakat serta media massa. Kelak, saya akan tetap mengajarkan ”hukum alam”, apa yang kita lakukan akan berbalik lagi pada kita.

Nadine, Patih Laman, pemimpin Suku Talang Mamak, Indragiri, Riau, menyerahkan kembali Kalpataru 2003 kepada pemerintah karena jerih payahnya musnah oleh illegal logging dan perkebunan sawit. Adakah program khusus menyikapi tragedi itu?

(Winardi, Kuansing, Riau)

Penghargaan Kalpataru itu hasil jerih payahnya memperjuangkan alam kita. Sayang, penghargaan itu dikembalikan, sebab sekecil apa pun usaha kita, haruslah dihargai. Ini amat berarti untuk keseimbangan alam.

”Semakin tinggi pohon, semakin kuat embusan anginnya”. Kita tak bisa menutup mata, masih banyak masyarakat yang melakukan illegal logging. Untuk itulah kita sebaiknya menyadari, manusia itu bisa menjadi penghancur atau penyelamat dunia. Pilihan ada pada diri sendiri.

Source : Kompas, Jumat, 7 Mei 2010 | 05:11 WIB

KEANEKARAGAMAN HAYATI : Spesies Baru di Mamberamo-Foja

Spesies Baru di Mamberamo-Foja

Katak berhidung panjang (Litoria sp. nov.)

KEANEKARAGAMAN HAYATI

Spesies Baru di Mamberamo-Foja

JAKARTA - Ekspedisi Conservation International, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, the National Geographic Society, dan Smithsonian Institution di Papua pada akhir 2008 menemukan sejumlah spesies baru. Penemuan spesies, seperti kupu-kupu hitam dan putih atau Ideopsis fojona, katak berhidung panjang atau Litoria sp. nov., dan pergam kaisar atau Dacula sp. nov., membuktikan tingginya keanekaragaman hayati Papua.

Penelitian bertajuk ”Conservation International’s Rapid Assessment Program (RAP)” itu berlangsung di salah satu lokasi paling terpencil di Suaka Margasatwa Mamberamo-Foja. Suaka margasatwa seluas 2 juta hektar di Kabupaten Mamberamo Raya dan Kabupaten Sarmi, Papua, itu disebut-sebut sebagai generator spesies karena lingkungannya yang terisolasi.

Penelitian RAP dilakukan di kawasan Desa Kwerba hingga ke lereng pegunungan yang sulit dijangkau di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut dalam hutan tropis yang lebat.

Selain menemukan kupu-kupu hitam-putih, katak berhidung panjang, dan pergam (merpati) kaisar, RAP juga menemukan bukti foto dan spesimen kelelawar kembang baru (Syconycteris sp. nov.), tikus pohon kecil (Pogonomys sp. nov.), semak belukar berbunga (Ardisia hymenandroides), dan walabi kecil (Dorcopsulus sp. nov.)

Ketua Tim Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hari Sutrisno menjelaskan, penemuan berbagai spesies itu menjadi prestasi tersendiri bagi para peneliti Indonesia.

”Salah satu peneliti kupu-kupu dari LIPI, Peggie Djunijanti, berperan penting dalam mendeskripsikan kupu-kupu hitam-putih (Ideopsis fojona) yang ditemukannya bersama peneliti D Vane Wright dan Henk van Mastrigt. Peggie dan kedua peneliti itu bersama-sama menjadi pendeskripsi resmi kupu-kupu itu. Berkat kontribusi peneliti Indonesia, spesimen spesies baru lainnya juga akan menjadi tambahan koleksi spesimen Herbarium Bogor dan Museum Zoology Bogor,” kata Hari.

Ornitologis Neville Kemp yang berhasil mendeskripsikan pergam kaisar (Dacula sp. nov.) menjelaskan penemuan itu melalui proses panjang yang direncanakan sejak awal 1990. Kemp menyatakan, beberapa spesies yang diumumkan kali ini sudah diketahui keberadaannya sejak RAP 2005.

”Namun, spesimen beberapa spesies, baru ditemukan pada RAP 2008. Ada juga spesies yang keberadaannya terdokumentasi pada RAP 2008 dan spesimennya langsung didapatkan. Tim harus memeriksa semua spesimen koleksi berbagai herbarium dan museum zoologi di dunia. Setelah dipastikan tidak ada spesimen yang sama, barulah bisa disimpulkan spesies yang ditemukan itu spesies baru,” kata Kemp. (ROW/Kompas)***

Sumber : Kompas, Selasa, 18 Mei 2010 | 04:06 WIB

Es Carstensz Simpan Jejak Sejarah Iklim


Apakah Gurun Sahara Dhulunya Kawasan Hijau ?

Sumber : Kompas, Minggu, 2 Mei 2010






KILAS IPTEK

Es Carstensz Simpan Jejak Sejarah Iklim

Enam peneliti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika; dua peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia; serta sejumlah peneliti dari Byrd Polar Research Center Universitas Negara Bagian Ohio, AS, dan Lamont Doherty Observatory Universitas Columbia, AS, bekerja sama meneliti inti es Puncak Jaya, Papua. Inti es itu menyimpan data sejarah perubahan iklim dan cuaca selama 5.000-6.000 tahun terakhir.

Kepala Bidang Litbang Klimatologi dan Kualitas Udara BMKG Dodo Gunawan mengatakan, ”Kami akan naik ke Carstensz pada 24 Mei. Kami akan mengebor enam lokasi, mengambil silinder inti es berdiameter 10 cm, dengan kedalaman 10–30 meter,” kata Dodo di sela peluncuran tim peneliti itu di Jakarta, Selasa (18/5). Peneliti Lamont Doherty Observatory Universitas Columbia, Dwi Susanto, menyatakan, ”Inti es itu seperti kue lapis legit, selama ribuan tahun menyimpan berbagai informasi tentang kondisi iklim dan cuaca di Papua,” kata Dwi.

Pengambilan inti es itu merupakan yang pertama kali dilakukan. ”Penelitian itu penting untuk dunia karena Indonesia merupakan bagian dari sabuk sirkulasi udara global sehingga inti es Puncak Jaya menyimpan berbagai debu yang terbawa udara global,” kata Dwi. Menurut peneliti Byrd Polar Research Center Universitas Negara Bagian Ohio, Lonnie G Thompson, timnya telah meneliti inti es pegunungan Andes, Peru, Amerika Selatan. ”Kami akan bisa merekonstruksi sejarah fenomena El Nino dan El Nina dengan membandingkan data inti es dari Andes dengan inti es Puncak Jaya,” katanya. (ROW/Kompas) ***

Sumber : Kompas, Kamis, 20 Mei 2010 | 03:18 WIB

Selasa, 18 Mei 2010

Segenggam Pasir Timah, Segunung Risiko...

Segenggam Pasir Timah, Segunung Risiko...

Oleh Yulvianus Harjono dan Wisnu Aji Dewabrata

Hanya sunyi yang terlihat di Pantai Pala, wilayah terujung barat di Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, pagi itu. Keindahan hamparan pasir putih, laut jernih, dan batu-batu besar di pantai tidak mampu menyembunyikan suasana mencekam saat itu.

Sudah beberapa hari terakhir ini mayoritas masyarakat di Teluk Limau tidak melaut. Kapal-kapal bersandar di tepi pantai, begitu pula ponton-ponton rakit yang biasa digunakan warga menambang timah secara ilegal di lepas pantai. ”Kami dengar akan ada razia polisi. Kami tak maulah ditangkap,” ujar Lakibu (40), seraya mengisap keretek di atas ponton rakitnya yang tengah menganggur. Pria asal Buton, Sulawesi Tenggara, ini adalah operator buruh penambang timah ilegal. Sudah dua hari ini ia tak melaut.

Lakibu dulu juga nelayan. Seiring maraknya penambangan timah ilegal di laut sejak 2006, ia banting setir menjadi penambang timah. Dalam seminggu ia bisa mendapat Rp 400.000-Rp 1 juta. Ini bedanya dengan melaut. Dalam seminggu melaut, belum tentu nelayan dapat uang Rp 300.000. Tak ayal, pasir timah mengundang banyak pendatang dari daerah asal Lakibu.

Namun, ini bukan pekerjaan mudah. Selain harus kucing-kucingan dengan polisi, risiko keselamatan tidak kalah besar. Mayoritas anak muda asal Buton yang merantau di Bangka Belitung adalah penyelam-penyelam tangguh pencari pasir timah. Postur tubuh mereka mayoritas ramping, tapi berotot. Di dalam tim, posisi mereka adalah ”jangkar”. Mereka menyelam dengan peralatan seadanya, yaitu masker dengan udara dari kompresor dan alat pengisap pasir merek Dongfeng. Menyelam hingga kedalaman 40-50 meter bukan hal mustahil bagi mereka. ”Bagi yang baru belajar, biasanya hidung atau telinga keluar darah. Beberapa, gendang telinganya pecah,” ungkap Lakibu.

Sudah tidak terhitung lagi korban yang jatuh, di darat, khususnya di laut, akibat menambang timah secara ilegal.

Simpul Wahana Lingkungan Hidup Bangka Belitung mencatat tiap minggu rata-rata 4-5 jiwa melayang akibat tambang timah inkonvensional. Sedikit yang tercatat di kepolisian. Periode Oktober-November 2004, 145 penambang ilegal tewas, sebagian di antaranya di laut.

Istri para penyelam tiap hari cemas, menanti nasib suaminya. Perasaan ini dialami Dewi (33). Perempuan asal Buton ini tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah suaminya memilih pekerjaan berisiko tinggi ini.

”Buat cari modal dulu. Kalau sudah cukup, baru nanti pulang kampung buat usaha,” ujarnya menjelaskan alasan suaminya memilih pekerjaan itu.

Namun, nyatanya, tiga tahun menekuni profesi itu, belum terlihat tanda-tanda sejahtera. Hingga kini keluarganya masih tinggal di gubuk 4 meter x 8 meter beratap daun kelapa. Tak ada apa-apa di gubuk itu kecuali radio usang.

Menurut Joni (32), pekerja tambang inkonvensional lain, hasil mencari timah yang tak seberapa sering kali sebagian harus disetorkan kepada oknum ”aparat” TNI dan polisi. ”Sudah capek-capek, berisiko tinggi, hasil kami juga masih harus dibagi. Untuk bisa dapat tempat di laut saja, ya, masih harus bayar ’beli bendera’ Rp 500.000,” kata Joni.

Pasir timah di Bangka kini menjadi yang paling dicari. Tidak jarang menjadi ”pemantik” perselisihan. Gesekan sosial akibat tambang timah di Bangka akhir-akhir ini makin sering terjadi. Karena itu, suasana pantai Teluk Limau dalam beberapa pekan terakhir pun mencekam.

Di lain pihak, sebagian warga menolak penambangan. Dengan perahu motor, warga terus berpatroli untuk mengantisipasi masuknya kapal isap di wilayah pantai. Pekan lalu, warga beramai-ramai mengusir sebuah kapal isap yang beroperasi hanya 200 meter dari garis pantai.

Selain merusak terumbu karang, keberadaan kapal isap ini dikhawatirkan menghabiskan cadangan pasir timah yang banyak diburu warga. Menurut nelayan bernama Ratno Budi, tambang timah telah mengubah kultur dan ekonomi warga Bangka Belitung. Separuh populasi nelayan di Batu Belubang, Bangka Tengah, berubah profesi, jadi penambang ilegal.

”Para penambang timah di sini sebenarnya nelayan juga. Kalau tangkapan ikan sedang turun, kami jadi penambang timah,” kata Salimin, seorang penambang.

Modal untuk membuat ponton tambang inkonvensional (TI), atau tambang ilegal apung, bisa dari kantong nelayan sendiri, atau biaya cukong, yang berhak membeli perolehan pasir timah. Satu ponton TI apung bersama mesin penyedot dan mesin penyemprot bernilai Rp 35 juta.

Di Batu Belubang, penambang tak lagi menyelam, sebab sedimentasi lumpur sangat parah. Mereka menggunakan rajuk,

pipa plastik sepanjang empat meter, sebagai penyedot pasir timah. Untuk menanam dan mencabut rajuk dari dasar laut, harus dilakukan empat orang sekaligus.

Suasana di atas TI apung sangat tidak nyaman. Deru mesin penyedot pasir dan mesin penyemprot air memekakkan telinga, sedangkan asap yang ditimbulkan oleh mesin penyedot dan penyemprot mengganggu pernapasan. Belum lagi sengat panas matahari dan ombak yang mengguncang ponton.

Indra Ambalika, dosen Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung, memprediksi, jika dasar laut Bangka Belitung terus dieksploitasi, cadangan timah di sana diperkirakan akan habis pada 2027.

Ketika air mata habis akibat banyaknya nyawa melayang, yang akan tersisa nanti hanyalah laut yang rusak dan tercemar, kelangkaan ikan, dan anak-anak yang terbelakang akibat kurang protein.

Wisata pantai, dan nelayan yang mencari ikan pun, kelak tinggal cerita. ***

Source : Kompas, Senin, 17 Mei 2010 | 05:23 WIB

Emil Salim : Membangun Babel Tanpa Timah

Membangun Babel Tanpa Timah

Oleh Emil Salim

Usaha pertambangan sering menimbulkan kesan ganda, di satu pihak usaha ini penting bagi pembangunan menaikkan pendapatan negara, di lain pihak merusak lingkungan sosial dan alam.

Bahan tambang adalah sumber daya alam tak terbarukan dan punya batas waktu tertentu bisa terkuras sampai susut habis. Pertambangan jaya selama masih ada bahan tambangnya, tetapi jadi petaka begitu bahan tambang habis dan kegiatan ekonomi pindah ke tempat lain dengan meninggalkan ”kolong kosong”.

Teknik penambangan merusak adalah pola ”penambangan terbuka” mengupas kulit Bumi untuk disedot bahan tambangnya. Hutan dan tumbuhan dicukur habis termasuk untuk jaringan jalan dan perkampungan karyawannya. Pola penambangan terbuka ini juga menghasilkan limbah sisa galian yang menjadi incaran penambang rakyat. Hasil akhir penambangan terbuka adalah lubang galian menjadi kolam air di bentangan kawasan tanah liat bercampur pasir.

Harga bahan tambang berada di tangan pengolah yang memprosesnya menjadi barang jadi di negara maju. Keuntungan utama dalam pertambangan terletak pada nilai tambah hasil processing bahan mentah tambang. Pemerintahan negara maju sering menetapkan tarif bea masuk untuk barang jadi tambang lebih tinggi daripada tarif bahan mentahnya. Karena itu, bagi pengusaha tambang negara berkembang lebih menguntungkan mengekspor bahan mentah ke luar negeri ketimbang memprosesnya di dalam negeri. Maka kecil perkembangan industri processing bahan tambang di negara berkembang sehingga rendah dampak kegiatan pertambangan pada penciptaan lapangan kerja.

Dengan penekanan usaha pada produksi bahan mentah dan ekspor, maka ”kaitan ekonomi ke dalam negeri” tidak besar. Hasil manfaat usaha pertambangan lebih besar terletak pada nilai devisa hasil ekspor yang berkaitan ”ke luar negeri”. Apabila harga bahan tambang di pasar internasional naik tinggi, maka hasrat mengekspor terpacu lebih besar dan semakin intensif penggalian pertambangan.

Menggeser pertanian

Pulau Bangka Belitung (Babel) adalah unik karena terletak di ”lidah tambang timah” yang terbentang dari Thailand- Malaysia-Singapura dan berhenti di Babel. Timah tidak hanya terdapat di daratan, tetapi juga di lautan kawasan ini.

Yang menarik bahwa Thailand dan Singapura mengalihkan titik berat ekonominya dari pertambangan timah ke sektor ekonomi jasa, seperti pertanian, pariwisata, dan perbankan yang dipandang lebih menyejahterakan rakyatnya. Hanya Pulau Bangka selama puluhan tahun tetap mengandalkan pembangunannya pada pertambangan timah. Bahkan, akibat kenaikan harga timah akhir-akhir ini, ekonomi masyarakat tergeser dari pertanian ke penggalian tambang inkonvensional. Dulu Pulau Babel dikenal dengan lada putihnya, tetapi kini tanaman ini terdesak leyap oleh penambangan timah.

Kalangan ahli memperkirakan sumber alam tambang Pulau Babel akan susut habis di tahun 2030. Jangka waktu 20 tahun, 2010-2030, mencakup satu generasi yang perlu diajak mengubah paradigma menjadi ”Membangun Babel Tanpa Timah” menjelang tahun 2030. Babel punya sumber daya alam tanah daratan, pantai dan laut yang berpotensi luas menopang pola pembangunan Babel secara berkelanjutan.

Ada kegiatan menarik dipelopori tokoh-tokoh terkemuka Babel untuk menghijaukan dan merehabilitasi lahan tambang di sekitar Bandara Depati Amir Pangkal Pinang dengan tanaman ketapang, jambu mente, cemara angina, dan sengon. Lahan milik masyarakat dikelola bersama, tetapi status lahan tetap milik masyarakat. Tanah areal bekas penambangan disuburkan dengan kotoran dan urine sapi yang diolah jadi kompos dan disebar ke tanah areal bekas penambangan.

Para tokoh pengusaha terkemuka Babel juga membangun Bangka Botanical Garden (BBG) seluas 300 hektar di Ketapang, Pangkal Pinang, menjadi lokasi pembibitan tanaman dan juga pemeliharaan jenis sapi FH perah, sapi Limousine, sapi Brangus, sapi Simental, dan sapi Bali berjumlah 300 ekor. Hasil susu sebanyak 300 liter sehari disumbangkan kepada murid-murid taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Dengan mengindahkan udara panas Pulau Bangka, maka BBG mengembangkan buah bernilai tinggi, seperti buah naga merah yang mulai banyak digemari di luar negeri.

Usaha BBG membuktikan bahwa areal lahan bekas penambangan timah bisa ”dihidupkan” kembali dengan pemupukan, pembibitan buah yang sesuai dengan suhu udara. Juga bisa dikembangkan pembibitan ikan hias yang bernilai tinggi.

Pantai pasir putih Babel, seperti tergambarkan dalam film Laskar Pelangi, lebih indah dalam wujud aslinya dan memiliki potensi pariwisata tinggi apabila ditopang prasarana jalan, listrik, air minum, dan lain-lain. Belum lagi diangkat potensi wisata sejarah dengan hadirnya tempat-tempat pengasingan para pemimpin kemerdekaan kita, Bung Karno, Bung Hatta, Haji Agus Salim, Mohammad Roem, dan lain lain. Yang diperlukan adalah penuangan tempat bersejarah bangsa dalam kisah menarik.

Maka, terpampang di hadapan kita ”Babel tanpa Timah” yang didasarkan pada pengembangan multisektor mencakup sumber daya terbarukan pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan, pariwisata, dan sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia.

Banyak putra-putri Babel meraih posisi intelektual tinggi di luar Babel. Jika di masa lalu perspektif masa depan hanya terbatas pada sektor tunggal penambangan timah, kini tiba saatnya mengembangkan multisektor ekonomi Babel menggantikan peranan pertambangan timah pasca-2030. Untuk ini diperlukan pengembangan sumber daya manusia andal.

PT Timah merencanakan pembangunan Menara Timah yang menjulang tinggi sebagai ikon Pulau Babel. PT Timah bisa berjasa besar apabila Menara Timah dijadikan sentra pendidikan pascasarjana S-3, doktor, dan ilmuwan ulung dengan pusat laboratorium, pusat perpustakaan, serta pusat sains dan teknologi yang mampu menanggapi tantangan pembangunan membangun Babel tanpa timah dan menjadikannya pusat Indonesia unggul umumnya abad ke-21 ini. ***

Emil Salim,

Dosen Pascasarjana UI

Source : Kompas, Senin, 17 Mei 2010 | 03:19 WIB

Perizinan Tambang Seharusnya Selektif

TAMBANG TIMAH

Perizinan Tambang Seharusnya Selektif

PANGKAL PINANG - Kerusakan lingkungan hidup yang tidak terkendali di Bangka Belitung terjadi karena tidak memperhitungkan prinsip tambang yang berkelanjutan. Tambang berkelanjutan adalah proses penambangan selektif yang meminimalkan kerusakan lingkungan di sekitarnya, ditengarai pula oleh tidak adanya ”obral” perizinan dari pemerintah daerah setempat.

Demikian penilaian pemerhati masalah lingkungan Emil Salim di Jakarta, Senin (17/5), ketika dimintai tanggapannya menyangkut kerusakan parah lingkungan perairan dan daratan Provinsi Bangka Belitung akibat aktivitas penambangan timah. ”Tambang itu sumber daya tidak terbarukan. Tambang timah Bangka Belitung akan habis pada tahun 2030. Jangan sampai habis timah, habis pula riwayat Bangka Belitung,” kata Emil.

Tambang berkelanjutan merupakan eksploitasi yang tidak berlebihan, mengenal zonasi agar tidak mengancam sumber daya lainnya. Seperti di laut, penambangan harus diupayakan tidak merusak sumber daya lain seperti biota kelautan.

Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup itu melihat keberadaan penambang timah inkonvensional di Bangka Belitung sebagai wujud kegagalan pemerintah daerah setempat, atau perusahaan tambang sekaliber PT Timah, dalam menjamin kelangsungan hidup masyarakat di sekitar tambang.

Emil mencontohkan, ada perusahaan Bangka Botanical Garden yang terbukti berhasil membudidayakan buah naga di Bangka. ”Perusahaan seperti PT Timah dan pemerintah daerah harus mengenalkan gaya ekonomi baru, gaya ekonomi berotak, yang mengoptimalkan sumber terbarukan meliputi pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, dan sebagainya,” kata Emil.

Sebagai perusahaan paling besar, menurut Emil, PT Timah memiliki tanggung jawab menjamin kelangsungan hidup masyarakat di sekitar lokasi tambang. Caranya, dengan menciptakan pendapatan dengan sumber terbarukan.

Tidak berdaya

Sikap tidak berdaya ditunjukkan Gubernur Bangka Belitung Eko Maulana Ali dengan menyatakan aktivitas penambangan di laut sulit dihentikan dan ditertibkan.

Alasannya, sekitar 80 persen masyarakat Bangka dan Belitung kini telanjur menggantungkan hidup pada timah secara langsung maupun tidak langsung. ”Sepanjang belum ada lapangan kerja pengganti, penambangan timah harus terus dilakukan, tetapi dengan cara legal dan mematuhi tata ruang,” kata Gubernur.

Gubernur Bangka Belitung menambahkan, izin tambang timah di laut berasal dari pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi. Pemerintah kabupaten menerbitkan izin untuk lokasi tambang yang terletak 0-4 mil (0-6,4 kilometer) dari pantai, sedangkan pemerintah provinsi menerbitkan izin untuk lokasi 4-12 mil (6,4-19,3 kilometer).

Sementara itu, Bupati Belitung Darmansyah Husein menyatakan telah melarang penambangan timah di laut, terutama di wilayah barat, selatan, utara, dan sebagian wilayah tengah Pulau Belitung. Kawasan tersebut dikhususkan untuk pariwisata dan budidaya perikanan.

Sejumlah nelayan Bangka kini juga menolak kehadiran kapal penyedot timah di laut yang dioperasikan PT Timah (Persero) Tbk dan kalangan swasta lainnya. Alasannya, penyedotan bahan tambang itu dari dasar laut selama ini telah merusak ekosistem laut sekaligus memperparah kemiskinan yang diderita para nelayan. (WAD/JON/JAN/NAW/KOMPAS) ***

Source : Kompas, Selasa, 18 Mei 2010 | 04:57 WIB

Penambangan Batu Bara Dinilai Merusak Sumber Daya Alam

Warga Tolak Tambang

Penambangan Batu Bara Dinilai Merusak Sumber Daya Alam

MUARA ENIM - Mayoritas warga Desa Pulau Panggung, Kecamatan Tanjung Agung, Muara Enim, menolak rencana pembukaan tambang batu bara oleh PT Bara Anugerah Sejahtera. Warga khawatir akan terjadi kerusakan lingkungan, seperti pencemaran mata air, sungai, dan hutan adat.

Menurut Angga (39), warga Pulau Panggung, Minggu (16/5), ratusan warga dan tokoh masyarakat sudah beberapa kali mengadakan pertemuan untuk menyikapi rencana pembukaan tambang batu bara di desa setempat. ”Hasilnya, kami sepakat menolak aktivitas tambang di desa kami yang akan digarap PT Bara Anugerah Sejahtera. Kami juga menuntut Pemkab Muara Enim mencabut izin usaha,” katanya.

Alasan penolakan warga antara lain lokasinya dekat dengan permukiman, fasilitas pendidikan (SDN II Pulau Panggung), dan lahan peternakan warga. Selain itu, aktivitas tambang berpotensi mencemari mata air yang selama ini menjadi satu-satunya sumber air bersih, mencemari Sungai Enim, dan merusak hutan adat.

Bupati Muara Enim Muzakir Sai Sohar pernah menggelar dialog dengan warga Desa Pulau Panggung dua pekan silam. Tujuannya memediasi dan memberikan pemahaman kepada warga. Namun, warga bersikukuh menolak tambang batu bara.

”Jika pemerintah dan perusahaan tetap memaksa, kami sepakat turun ke lokasi beramai-ramai. Kami akan mengusir setiap karyawan perusahaan batu bara secara paksa,” kata Sanuri, warga setempat yang enggan disebutkan nama sebenarnya.

Hargai sikap warga

Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Lingkungan Hidup Kabupaten Muara Enim Rizal Fauzi menyarankan pemkab agar tak menutup mata terhadap aspirasi warga. Alasannya, kekhawatiran dan penolakan warga sangat masuk akal karena pertambangan itu bisa mengganggu atau merusak sumber daya alam yang selama ini dibutuhkan warga.

”Kalau pemerintah bijaksana, seharusnya pertambangan ini dialihkan ke tempat lain yang lebih representatif, dan bukannya memaksa,” kata Rizal.

Lahan desa yang akan dibuka dan difungsikan jadi tambang batu bara seluas 197 hektar. PT Bara Anugerah Sejahtera menggarap dua kawasan, yakni blok I dan II. Izin usaha pertambangan sudah diberikan bupati dan saat ini masih dalam tahap eksplorasi.

Direktur Operasional PT Bara Anugerah Sejahtera Toyib menyayangkan reaksi warga. Alasannya, perusahaan telah mengganti rugi lahan warga seluas 16 hektar. Nilai ganti rugi Rp 75 juta per hektar. ”Jika warga khawatir soal mata air, sungai, dan hutan, sekali lagi saya tegaskan PT Bara Alam Sejahtera tetap akan menjaganya,” katanya. (ONI/KOMPAS)***

Source : Kompas, Senin, 17 Mei 2010 | 05:09 WIB

Kamis, 06 Mei 2010

Isnen, Penjaga Mangrove Pulau Pahawang

ISNEN.(Kompas/Yulvianus Harjono)***

Isnen, Penjaga Mangrove Pulau Pahawang

Oleh Yulvianus Harjono

Isnen Hayani tak terlalu paham tentang tetek bengek isu pemanasan global. Ia juga tidak mencermati Konferensi Tingkat Tinggi Kelautan Sedunia, layaknya warga awam yang lain. Namun satu hal yang dia tahu pasti, lingkungan pesisir dan hutan mangrove harus dilestarikan.

Jauh sebelum isu pemanasan global dibicarakan di forum-forum internasional seperti World Ocean Conference di Manado atau Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, tahun 2009, Isnen sudah menjalankan prinsip mitigasi perubahan iklim.

Lewat wadah Badan Pengelola Daerah Perlindungan Mangrove (BPDPM) Desa Pulau Pahawang, Kabupaten Pesawaran, Lampung, dia giat memotori gerakan reboisasi mangrove dan terumbu karang. Isnen menduduki jabatan strategis sebagai Koordinator Pengawasan BPDPM.

Bersama tiga warga Pahawang lainnya pada divisi itu, ia harus menjalani tugas berat, menjaga areal mangrove dan terumbu karang seluas 30 hektar dari ancaman, gangguan, dan perusakan. Tugas berat itu secara resmi dilakukannya sejak 2006.

Bagi sebagian orang, tanggung jawab memegang jabatan itu awalnya dianggap ”gila” atau tak lazim. Selain tidak digaji, Isnen harus melawan ”arus” dan menanggung risiko berhadapan dengan mereka yang berseberangan pola pikirnya, yaitu para perambah mangrove dan pengebom ikan.

”Banyak sekali gangguan memegang tanggung jawab ini. Saya pernah dimusuhi orang- orang di lingkungan saya sendiri. Saya sering kewalahan ditanyai, ’Apa, sih, untungnya kamu melarang kami menebang mangrove? Apa kamu mau menanggung makan kami?’” ucapnya menirukan pernyataan warga yang berseberangan dengan keyakinannya.

Menanggapi berbagai pernyataan itu, Isnen menjawab, ”Kalau dipikir-pikir, semua itu jelas tidak memberikan keuntungan materi langsung buat saya. Saya tak ada gaji, tidak ada fasilitas, tapi yang harus kita pikirkan jauh ke depan, apa jadinya hidup kita nanti kalau hutan mangrove pulau ini hilang, habis semua?”

Jawaban semacam itulah yang kemudian menyadarkan warga setempat untuk mengubah perilaku. Dulu, Isnen dan 1.665 warga Pahawang pernah merasakan langsung pengalaman buruk akibat rusaknya lingkungan mereka.

Akibat hancurnya areal mangrove seluas 141,94 hektar di pulau itu, mulai tahun 1975-an warga Desa Pahawang diterpa wabah malaria. ”Kami jadi merusak diri sendiri. Nyamuk menyerbu ke desa gara-gara hutan bakau yang menjadi ekosistemnya rusak,” ujar Isnen.

Ditimpa malang

Belum hilang pengalaman pahit yang membawa Pahawang menyabet label daerah endemik malaria, warga harus ditimpa kesulitan lain; susutnya mata pencarian nelayan akibat kerusakan ekosistem terumbu karang. Kondisi ini menyusul maraknya aksi pengeboman ikan pada akhir 1990-an hingga pertengahan 2000-an.

”Bagaimana mau mencari ikan kalau umpan udang yang biasa dipakai memancing semakin sulit dicari? Udang, kan, biasa hidup di mangrove,” tuturnya dengan nada geram. ”Ya, hancur lebur kita kalau ini dibiarkan terus,” tegasnya.

Pengalaman-pengalaman pahit itulah yang kemudian menguatkan mental Isnen untuk tetap bersemangat menjaga ekosistem mangrove dan terumbu karang. ”Kalau bukan kami, warga di sini, siapa lagi yang mau peduli? Kalau masih mau anak cucu kita hidup tenteram nantinya, kita harus berubah,” gugatnya.

Sehari-hari Isnen hidup dari berkebun kakao. Di luar pekerjaannya itu, ia menghabiskan waktu dengan menanam bibit bakau dan mengawasinya, termasuk hamparan terumbu karang di kawasan tersebut.

Dalam menjalankan tugas, dia hanya berbekal sebilah golok yang selalu menempel di pinggang serta sebuah sampan kecil untuk berpatroli keliling pulau. Tak jarang ia terlibat perdebatan, bahkan perselisihan sengit dengan para pencuri kayu, pengebom ikan, atau pengambil cacing yang melakukan aksinya secara diam-diam.

”Umumnya mereka itu orang dari luar (Pahawang), bukan warga setempat. Itulah repotnya, kami harus waspada menjaga dan pandai-pandai menjelaskan hal-hal yang dilarang,” ungkapnya.

Bom dan suap

Tak jarang, dalam menjalankan tugasnya itu, Isnen harus menanggung risiko sampai nyawa pun terancam. Ia bercerita, tahun 2007 ketika memergoki perahu pengebom ikan, dia hampir dilempar bom ikan. Untungnya, hal itu urung mereka lakukan.

”Bomnya sudah diangkat, tapi tak jadi mereka lemparkan karena perahu sudah bergerak,” ceritanya.

Menghadapi berbagai ancaman dan hambatan, ia punya satu pegangan, yaitu dirinya tak boleh lemah atau kalah galak dibandingkan si pengancam.

Selain itu, dia juga harus tahan menghadapi berbagai godaan. Pernah suatu hari, cerita Isnen, seorang pengusaha mencoba menyuap dia agar diizinkan mencuri terumbu karang di Desa Pahawang. Tawaran pengusaha itu dia tolak mentah-mentah.

”Setiap manusia membutuhkan duit, tapi saya tidak mau melakukannya (menerima suap). Paling-paling dapat Rp 500.000, ini tak sebanding dengan susah payahnya kami menjaga (lingkungan). Buat apa saya menjadi pengawas di BPDPM jika berkhianat?” ucapnya berapi-api.

Dalam perjalanan hidupnya, Isnen pernah merantau ke sejumlah tempat, terakhir ia tinggal di Banten, sebelum kembali ke tanah kelahirannya, Pahawang pada tahun 2002.

Meskipun Pahawang termasuk daerah terisolasi karena belum mendapat layanan umum memadai, seperti listrik dari PLN, air bersih, dan telepon, dia mengaku tetap betah tinggal di desanya.

Menurut dia, Pahawang justru menjadi perhatian masyarakat luas karena konsisten menjalankan prinsip hidup berwawasan lingkungan. Isnen yakin Pahawang akan semakin dikenal dan meninggalkan ketertinggalannya lewat konsep ekowisata yang tengah dirintis.

Bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM) Mitra Bentala, Pulau Pahawang tengah mengarah menjadi kawasan percontohan ekowisata di Lampung. Isnen ikut aktif menjemput bola berpromosi, termasuk meminta dukungan politisi dan pendanaan untuk pengembangan sarana dan infrastruktur desa dari pemerintah dan para calon bupati Pesawaran.

”Jika mereka terpilih, akan kami tagih janjinya untuk peduli dengan pengembangan ekowisata Pahawang,” ucapnya.

Isnen yakin pengembangan daerah berwawasan lingkungan itu tak hanya membutuhkan dukungan warga, tetapi juga komitmen dari pemerintah.

ISNEN HAYANI
• Lahir: Pulau Pahawang, Kabupaten Pesawaran, Lampung, 14 Februari 1972
• Pendidikan: SMPN 1 Anyer, Banten
• Istri: Safiah (29)

• Anak:
- Yunita Purnamasari (8)
- Vikri Kurniawan (5)

• Pekerjaan:
- Petani kakao
- Koordinator Pengawas Badan Pengelola Daerah Perlindungan Mangrove (BPDPM) Desa Pulau Pahawang.

Source : Kompas, Selasa, 4 Mei 2010 | 03:59 WIB

Mantan Anggota DPR Terancam 20 Tahun

PROYEK TANJUNG API-API

Mantan Anggota DPR Terancam 20 Tahun

JAKARTA - Tiga mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang menjadi terdakwa dalam perkara dugaan suap proyek pelepasan kawasan Hutan Lindung Pantai Air Telang untuk Pelabuhan Samudera Tanjung Api-api, Sumatera Selatan, menjalani sidang perdana. Ketiga terdakwa, yaitu Azwar Chesputra, Hilman Indra, dan Fachri Andi Leluasa, terancam hukuman 20 tahun penjara.

Selain perkara itu, ketiga mantan anggota Komisi IV DPR yang dikenal sebagai ”Tim Gegana DPR” ini saat yang sama juga menghadapi dakwaan dalam perkara suap dari Anggoro Widjojo, rekanan Departemen Kehutanan (Dephut). ”Terdakwa menerima suap dalam bentuk cek perjalanan Bank Mandiri dan BNI Cek Multi Guna dengan jumlah berbeda,” kata jaksa penuntut umum KMS Roni di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (4/5).

Jaksa menyebutkan, Azwar menerima Rp 450 juta, Hilman Rp 425 juta, dan Fachri Rp 335 juta dari rekanan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Chandra Antonio Tan, melalui politisi PKB, Yusuf Erwin Faishal. ”Uang itu diberikan karena kedudukan mereka sebagai anggota Komisi IV DPR agar menyetujui usulan pelepasan Hutan Lindung Pantai Air Telang seluas 600 hektar menjadi Pelabuhan Tanjung Api-api,” kata Roni.

Jaksa menjerat ketiganya dengan Pasal 12 Huruf a Undang- Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 KUHP dengan hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Pada dakwaan kedua, ketiganya bersama Yusuf Erwin Faishal didakwa menerima suap dari Anggoro Widjojo selaku calon penyedia barang dalam kegiatan revitalisasi Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) di Dephut. Pada Agustus 2007 hingga Maret 2008, Anggoro memberikan uang 5.000 dollar Singapura kepada Azwar, 140.000 dollar Singapura kepada Hilman Indra, dan 30.000 dollar Singapura kepada Fachri.

Roni menambahkan, pada Juni dan Juli 2007, Yusuf Erwin Faishal melakukan pembicaraan dengan Anggoro Widjojo perihal usulan rancangan pagu anggaran. Dalam pembicaraan itu juga disebutkan adanya imbalan agar Anggoro diloloskan sebagai rekanan.

Pada 16 Juli 2007, Komisi IV mengesahkan rancangan pagu Dephut yang telah ditandatangani MS Kaban selaku Menhut. ”Pada Maret 2008, Yusuf Erwin terima uang dari Anggoro melalui Mukhtaruddin di Restoran Din Tai Fung, Pasific Place,” katanya. (AIK/Kompas)***

Source : Kompas, Rabu, 5 Mei 2010 | 03:14 WIB

Senin, 03 Mei 2010

Ancaman terbesar pembukaan area tambang Indonesia di masa mendatang diduga datang dari India karena pertumbuhan kebutuhan akan batu bara di negeri itu

Pertambangan batu bara merambah sekitar 40 hektar areal Hutan Pendidikan dan Penelitian Universitas Mulawarman dalam Taman Hutan Raya Bukit Soeharto di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pertambangan di dunia masih akan terus berlangsung seratus tahun lagi. (Kompas/Ambrosius Harto)***

PERTAMBANGAN

Ancaman Terbesar Datang dari India

JAKARTA - Ancaman terbesar pembukaan area tambang Indonesia di masa mendatang diduga datang dari India karena pertumbuhan kebutuhan akan batu bara di negeri itu.

Hal itu dikemukakan Roger Moody, pakar pertambangan dari Mines and Communities, dalam kuliah umumnya pada program Konsultasi Publik Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Minggu (2/5) di Jakarta.

”Ancaman terbesar adalah dari India yang pada tahun 2012 butuh 110.000 ton batu bara per hari. Mereka melihat ke Indonesia sebagai sumber batu bara,” ujar Roger. Saat ini tambang batu bara Indonesia yang terbesar adalah di Kalimantan, mencapai sekitar 200 juta ton per tahun (legal dan ilegal) atau sekitar 548.000 ton per hari. Selain India, konsumsi batu bara dunia juga meningkat pesat karena kenaikan permintaan dari China.

Moody menambahkan, Indonesia diprediksikan menjadi eksportir batu bara nomor satu pada dua tahun mendatang. Saat ini, Indonesia ada di urutan kedua.

Moody, dalam kuliah umumnya, menjelaskan peta pertumbuhan pertambangan sekitar empat dekade terakhir.

Digambarkan tentang upaya perusahaan pertambangan memperbaiki citranya dengan mengusung isu pembangunan berkelanjutan. Hal ini terjadi menjelang World Summit for Sustainable Development (WSSD) di Johannesburg, Afrika Selatan. Upaya ini gagal karena tak ada realisasi di lapangan.

Moody juga menjelaskan peran berbagai lembaga pendanaan dan jenis pendanaan yang berperan mendorong pertumbuhan industri tambang global. Sifat investasi di sini, menurut Moody, ”Uang kembali cepat dengan profit besar.” Risiko dari investasi pun besar sehingga kolapsnya pendanaan bisa memicu peningkatan harga hasil tambang.

Saat ini setidaknya ada tiga negara (asal) industri tambang terbesar, yaitu Amerika Serikat, Australia, Inggris. Dalam waktu dekat akan disusul negara-negara Brasil, Rusia, India, dan China.

Dalam diskusi publik hadir sebagai pembicara mantan Menteri Lingkungan Hidup Sony Keraf; ahli kelautan IPB, Alan F Koropitan; Yanuar Rizki dari Aspirasi Indonesia Research Institute; dan Hendro Sangkoyo dari Sekolah Ekonomika Demokratik.

Kesaksian

Selain kuliah umum yang disusul dengan diskusi publik, sebelumnya juga digelar kesaksian dari tiga orang warga yang tinggal di daerah tambang, yaitu dari Bengalon, Kalimantan Timur; Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara; dan dari Lok Nga, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Acara yang diadakan di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki tersebut disertai pameran foto dan atraksi seni sebagai ekspresi gugatan terhadap industri pertambangan yang menyisakan kesengsaraan di kalangan masyarakat sekitar lokasi tambang.

Sahrul dari Pulau Kabaena mengatakan, ”Eksploitasi tambang mengakibatkan sumber mata air kami mengering, sedang tanah kami diberi ganti rugi Rp 1.000 per meter persegi.” (ISW)***

Source : Kompas, Senin, 3 Mei 2010 | 04:36 WIB

Pemerintah Kabupaten Samosir mengakui, penyebab banjir bandang di Desa Buntumauli dan Desa Sabula, Kecamatan Sitiotio, salah satunya adalah kerusakan

Hutan Perbatasan Rusak

Kepastian Tapal Batas Samosir dan Hasundutan Mendesak

MEDAN - Pemerintah Kabupaten Samosir mengakui, penyebab banjir bandang di Desa Buntumauli dan Desa Sabula, Kecamatan Sitiotio, salah satunya adalah kerusakan hutan di hulu Sungai Silogologo dan Mabulak. Namun, lokasi kerusakannya berada di daerah perbatasan dengan Kabupaten Humbang Hasundutan.

Asisten Pemerintah Kabupaten Samosir Ombang Siboro, Sabtu (1/5), mengatakan, penyebab banjir bandang yang mengakibatkan satu orang tewas dan empat orang masih hilang memang karena degradasi lingkungan di hulu sungai.

”Tetapi, kalau disebut salah satunya karena kerusakan di kawasan Hutan Sitonggitonggi, sepertinya tidak karena kawasan itu terletak lebih dari 10 kilometer dari hulu sungai dan terdapat bukit yang membatasinya. Ini memang kerusakan di hulu, tepatnya di daerah perbatasan Samosir dengan Humbang Hasundutan,” kata Ombang.

Ombang mengakui mendapat laporan tentang terdapatnya aktivitas penebangan dan pengolahan kayu di kawasan hutan yang menjadi hulu sungai. Namun, ia belum dapat memastikan, keberadaan sawmill tersebut masuk ke wilayah Samosir atau Humbang Hasundutan.

Kawasan Hutan Sitonggitonggi yang disebut rusak, menurut Ombang, merupakan areal hak pengusahaan hutan (HPH) milik salah satu perusahaan.

Hutan Sitonggitonggi dulunya memang hutan alam yang kemudian menjadi hutan produksi setelah berada dalam kawasan HPH itu.

Masalah tapal batas

Menurut Ombang, kawasan hulu Sungai Silogologo dan Mabulak yang sering disebut daerah Tombak Haranggaol merupakan perbatasan antara Kabupaten Samosir dan Humbang Hasundutan. Selama ini, belum ada tapal batas yang jelas di antara kedua kabupaten itu.

Ombang menuturkan, konflik di daerah perbatasan sempat terjadi antarwarga dua kabupaten itu. Namun, belum jelas warga dari mana yang melakukan perambahan kawasan hutan di Tombak Haranggaol. ”Itulah makanya kami minta Pemprov Sumut agar membantu mengatasi persoalan tapal batas kabupaten ini biar jelas nanti kawasan tangkapan air ini dijaga oleh pemerintah kabupaten yang mana. Kalau tanpa kejelasan begini, tak ada yang berwenang menjaga kawasan tersebut,” lanjutnya.

Hingga saat ini, korban hilang akibat banjir terus dicari. Menurut Anggiat Sinaga dari Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat Parapat, yang ikut membantu pencarian korban, upaya pencarian menemukan kesulitan karena ketiadaan alat berat. ”Kami sudah meminta bantuan Pemkab Samosir agar ada alat berat, tetapi masih juga belum ada yang datang,” kata Anggiat.

Masyarakat berharap, anjing pelacak didatangkan untuk mencari korban yang hilang. (BIL/Kompas)***

Senin, 3 Mei 2010 | 04:28 WIB

Anak Gunung Rinjani di Lombok Meletus Lagi

GUNUNG BERAPI

Anak Gunung Rinjani di Lombok Meletus Lagi

MATARAM - Gunung baru, anak Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat, meletus lagi. Pendakian pun hanya diperbolehkan sampai Pelawangan di Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur, dan Desa Senaru, Lombok Utara, tiga jam perjalanan ke Danau Segara Anak, kaldera Rinjani.

Letusan pertama terjadi Jumat (30/4) sebanyak empat kali, amplitudo 53 mm dengan menyemburkan asap letusan sekitar 1.600 meter ke arah utara. Pada Minggu pagi kemarin, aktivitas magmatik gunung berketinggian 2.376 meter di atas permukaan laut itu cenderung menurun. Aktivitasnya pada pukul 00.00-06.00 Wita ditandai oleh gempa satu kali dengan amplitudo 10 mm.

”Kondisinya masih fluktuatif, dengan jarak letusan tiap 6-12 jam,” tutur Mutaharlin, petugas Pos Pengamat Gunung Api Rinjani di Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur.

Mengingat risiko bahayanya, pendakian ke puncak Rinjani dan Danau Segara Anak untuk sementara dilarang. Menurut Heryadi Rahmat, geolog dan pengamat gunung api, dalam beberapa dasawarsa terakhir, material letusan Rinjani mencapai jarak jauh hingga ke kawasan danau. Status waspada ditetapkan sejak Agustus 2009.

Namun, Sukrati, petugas loket pendakian Gunung Rinjani di Desa Senaru, mengatakan, pendakian ke Pelawangan tetap berjalan. Minggu pagi tercatat 16 wisatawan asal Perancis, Belanda, dan Australia yang naik. Sehari sebelumnya ada 18 wisatawan Hongaria, Perancis, dan Selandia Baru yang mendaki hingga ke Desa Senaru. (RUL/Kompas)***

Source : Kompas, Senin, 3 Mei 2010 | 04:26 WIB

 

TRANSLATE/TERJEMAH BAHASA

My Blog List

Site Info

Followers

LINGKUNGAN GLOBAL Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template