YANG HOT KLIK DI SINI

Sabtu, 03 Maret 2012

Lingkungan Cimanuk Indramayu

Rabu, 29 Februari 2012

LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE

Lingkungan Cimanuk Indramayu

Cimanuk Lama Perlu Ditata

DEPAN RUMAH SAKIT – Di depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, masih terlihat kumuh dan tak sedap dipandang mata. Kondisi demikian sudah berlangsung belasan tahun. Terlebih lagi dengan banyaknya bangunan “liar” berbentuk warung-warung di sepanjang tanggul Sungai Cimanuk lama yang berada di Jalan Murah Nara Indramayu, sehingga diduga turut memicu kesemerawutan sekitar bantaran Cimanuk itu. Beberapa warga mengharapkan, agar warung-warung tersebut ditata dengan apik, supaya mengundang selera wisatawan yang berkunjung ke Kota Mangga itu. Kondisi Cimanuk lama yang kurang terurus, seperti gambar yang diambil, Rabu (29/02/2012) siang, terkesan turut memperparah pemandangan di sekitar depan RSUD Indramayu.(Satim)*** Foto-foto : Satim/Lingkungan Global Online

Jembatan Waduk Bojongsari pada Suatu Pagi

Kamis, 01 Maret 2012

LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE

Jembatan Waduk Bojongsari pada Suatu Pagi

MENDUNG – Suasana di sekitar Jembatan Bojongsari, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, pada suatu pagi yang berselimut mendung. Setiap hari, lalu-lintas di Jembatan Bojongsari yang membelah Waduk Bojongsari itu, selalu ramai. Tampak dalam gambar yang diambil, Kamis (01/03/2012) pagi, kepadatan lalu-lintas didominasi para pelajar dan para orangtua yang mengantarkan anaknya ke sekolah.(Satim)*** Foto : Satim/Lingkungan Global Online

Saluran Sekunder Panyindangan Wetan Rusak

Selasa, 28 Februari 2012

LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE

Saluran Sekunder Panyindangan Wetan Rusak

JARINGAN RUSAK – Kalen, atau pihak Dinas Peengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Pertambangan dan Energi (Tamben) Kabupaten Indramayu menyebutnya dengan julukan Saluran Sekunder (SS) di Desa Panyindangan Wetan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, saat ini kondisinya mengalami kerusakan parah. Penyebabnya, selain faktor alam, juga diduga akibat ulah manusia yang masih hobi membuang sampah ke sungai itu. Apalagi jenis sampahnya didominasi sampah plastik yang tak mudah hancur. Pendangkalan dan kerusakan jaringan irigasi itu cenderung menjadi-jadi. Seperti tampak dalam gambar yang diambil, Selasa (28/02/2012) siang. Konon, kabarnya, pihak Dinas PSDA dan Tamben Kabupaten Indramayu tahun 2012 ini, akan menenderkan proyek normalisasi jaringan irigasi Desa Panyindangan Wetan itu. (Satim)*** Foto-foto : Satim/Lingkungan Global Online

Jumat, 03 Februari 2012

Saluran Irigasi Desa Legok Masih “Pesta” Sampah

Jumat, 03 Februari 2012

LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE

Saluran Irigasi Desa Legok Masih “Pesta” Sampah

SAMPAH LEGOK – Jalur Pantura Desa Legok Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, masih terlihat kotor. Karena sampah yang berada di saluran irigasi desa itu, sempat mampet dan menjadi pemandangan yang terkesan kotor dan berbau tak sedap. Hingga Jumat (03/02/2012) siang, sampah-sampah yang didominasi sampah plastik seperti tengah “demo” beriringan ikut hanyut oleh derasnya air saluran irigasi Desa Legok tersebut.(Satim)*** Foto-foto : Satim/Lingkungan Global Online

Kamis, 22 Desember 2011

Catatan Akhir Tahun 2011 : GOR Dharma Ayu Terkesan Diterjang “Tsunami”

Kamis, 22 Desember 2011

LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE

Catatan Akhir Tahun 2011

GOR Dharma Ayu Terkesan Diterjang “Tsunami”

KOTOR DAN KUMUH – Kondisi halaman Gelanggang Olah Raga (GOR) Dharma Ayu Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Kamis (22/12/2011) pagi, terkesan diterjang bencana alam Tsunami. Di sekitar halamannya, sampah basah berserakan dan berair. Menurut warga setempat, kondisi demikian sudah berlangsung berhari-hari dan belum dilakukan tindakan pembersihan oleh penanggung jawab GOR Dharma Ayu. Kabarnya, sejak 18 November 2011 hingga 18 Desember 2011, halaman tempat olahraga itu disewa pengelola hiburan lumba-lumba. Usai dijadikan tempat hiburan, kini diduga yang tersisa sampahnya.(Satim)*** Foto-foto : Satim/Lingkungan Global Online

Minggu, 13 November 2011

Sawah Tandus Dijadikan Lapangan Bola Desa Dermayu

Minggu, 13 November 2011

LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE

Sawah Tandus Dijadikan Lapangan Bola Desa Dermayu

LAPANGAN BOLA DERMAYU – Sawah tandus dan sering disebut-sebut areal tegalan di Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, kini dijadikan lapangan bola. Meski baru tahap pengerjaan pengurukan, namun masyarakat setempat mengharapkan, agar pelaksanaan proyek lapangan bola itu bisa segera selesai. Konon, pembuatan lapangan bola Desa Dermayu itu didanai APBD Kabupaten Indramayu tahun 2011yang dialokasikan melalui Proyek Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP). Namun hingga Sabtu (12/11/2011) sore, pelaksanaan pekerjaan pembuatan lapangan bola Desa Dermayu itu belum berjalan normal, sementara tinggal beberapa minggu lagi sudah tutup anggaran tahun 2011. (Satim)*** Foto-foto : Satim

Sabtu, 04 Juni 2011

Kondisi Air Tanah di Kota Bekasi Memprihatinkan

Sabtu, 4 Juni 2011

LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE

Kalangan Industri untuk Beralih ke PDAM

Kondisi Air Tanah di Kota Bekasi Memprihatinkan

BEKASI, LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE - Kalangan industri di Kota Bekasi mulai diarahkan untuk tak bergantung pada pemakaian air tanah. Pasalnya, kondisi air tanah di Kota Bekasi saat ini sudah memasuki taraf memprihatinkan, menyusul penggunaan yang tinggi oleh kalangan industri dan rumah tangga.

Upaya mendorong pengurangan ketergantungan industri terhadap penggunaan air tanah diperkuat dengan terbitnya Peraturan Daerah tentang Pajak Air Tanah yang disahkan Desember 2010. Pengendalian penggunaan air tanah demi menjaga kelestarian ekosistem lingkungan merupakan salah satu poin utama yang dibahas dalam peraturan tersebut.

Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bekasi Syafei Muhamad mengatakan, secara bertahap pihaknya akan mulai mengurangi keleluasaan industri dalam mengambil air tanah.

Masing-masing industri sudah ditentukan kuota air tanah yang boleh dipergunakan. Setiap tahun, saat perpanjangan izin penggunaan air tanah, kuota yang diberikan akan terus dikurangi hingga akhirnya habis dan industri tak bisa lagi mempergunakannya.

"Kalau penggunaan sudah melebihi kuota yang ditentukan, kelebihan airnya akan dikenakan pajak. Daripada mengeluarkan biaya untuk membayar pajak yang cukup tinggi, kami giring industri untuk beralih ke PDAM," tuturnya.

Peralihan ke PDAM ini, lebih lanjutnya, akan berdampak pada penyelamatan ekosistem lingkungan demi kelestarian sumber air tanah.

Sebelumnya BPLH Kota Bekasi pernah merilis bahwa kualitas dan kuantitas air tanah di Kecamatan Medan Satria dan Bekasi Utara sudah memasuki zona kritis. Muka tanah di lokasi yang menjadi pusat industri ini sudah turun akibat eksploitasi air tanah berlebihan.

Secara terpisah anggota Komisi D DPRD Kota Bekasi Sardi Efendi mengungkapkan, jika Perda Pajak Air Tanah ini dapat diimplementasikan secara maksimal, bukan hanya ekosistem lingkungan yang terselamatkan.

"Kontribusi terhadap PAD dari industri pun tinggi, bisa mencapai Rp 400 miliar per tahunnya. Mudah-mudahan bisa membuat industri berpikir ulang. Mengeksploitasi air tanah hanya akan merusak ekosistem dan juga menambah pengeluaran," katanya.

Perda yang mulai efektif diberlakukan, meski masih menunggu penomoran, ini berlaku tegas. Terhadap pelanggar, dapat dipidanakan. (A-184/kur)***

Source : Pikiran Rakyat Online, Sabtu, 4 Juni 2011

Sabtu, 16 April 2011

Kamus Berjalan Konservasi Lingkungan

Sabtu,
16 April 2011

LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE

GANJAR

Kamus Berjalan Konservasi Lingkungan






GANJAR. (Kompas/Rony Ariyanto Nugroho)***

Oleh Cornelius Helmy

Sebagai warga asli Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat, Ganjar merasa bertanggung jawab pada lingkungan kawasan itu. Rasa ingin tahu dan kemauan belajar membuat Ganjar mendapat predikat sebagai ”kamus berjalan” konservasi lingkungan di Taman Hutan Rakyat Djuanda. Pertanyaan tentang sejarah hingga karakteristik flora dan faunanya bisa dia jawab tanpa melihat buku panduan.

Taman Hutan Rakyat (Tahura) Djuanda adalah kawasan pelestarian alam dengan koleksi tumbuhan dan satwa yang bisa dimanfaatkan bagi kepentingan umum. Ini terutama sebagai tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan dan wisata. Lahan yang dikelola Dinas Kehutanan Jawa Barat ini luasnya 590 hektar dengan koleksi sekitar 2.500 tumbuhan.

Tahura yang dibangun pada 1912 ini tercatat sebagai yang tertua dibangun Belanda. Pusat taman yang sebelumnya dikenal sebagai Taman Rakyat Pulosari atau biasa disebut masyarakat sebagai Palasari terletak di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimeyan, Kabupaten Bandung.

Penguasaan tentang beragam pengetahuan ternyata sangat berguna bagi promosi wisata dan aktivitas penelitian di Tahura, baik di dalam maupun luar negeri. Sebagai promosi wisata, Ganjar bisa berperan sebagai pemandu wisata yang paham tentang detail Tahura. Pengunjung tak sekadar melihat obyek yang ada, tetapi juga paham tentang sejarah, perkembangan, dan nilai positif yang tertanam di dalamnya.

Narasumber ahli

Terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan, Ganjar kerap menjadi narasumber bagi peneliti dari berbagai lembaga di dalam dan luar negeri. Contohnya, saat ia melapor kepada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tentang penemuan anggrek kecil dari famili Taeniophyllum yang tumbuh di pohon merawan (Hopea sp) tahun lalu atau saat ia memberikan penjelasan mengenai pohon terbesar di Tahura, mahoni Uganda (Khaya anthotheca), kepada 20 mahasiswa pascasarjana jurusan kehutanan dari Universiti Putera Malaysia. Ganjar fasih menjelaskan berbagai karakteristik dan kegunaan flora di Tahura, termasuk hafal nama latinnya.

”Senang bisa berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan kepada mereka. Saya juga belajar banyak keahlian mereka, seperti cara mendata flora dan fauna yang terstruktur serta ilmiah,” kata Ganjar, yang hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah menengah atas.

Keterlibatan Ganjar dengan kawasan konservasi Tahura dimulai tahun 2004 sebagai petugas di bagian penyemaian, yang dilanjutkan sebagai pegawai kebersihan. Kini jabatannya petugas keamanan. Namun, hal ini tak menghalangi minat Ganjar belajar tentang keragaman hayati di Tahura.

Cara belajarnya pun terbilang unik. Apabila ada kegiatan peneliti atau kunjungan wisata pendidikan di Tahura, ia kerap mengikuti mereka. Tanpa diketahui banyak orang, ia sebenarnya menyimak penjelasan dan menyimpannya dalam ingatan. Sesampainya di rumah, ingatan itu ia tuliskan dalam bentuk dokumen.

”Pernah juga ketika membuntuti salah satu kegiatan, saya ditanya dan ternyata jawaban saya memuaskan. Setelah itu, kami justru saling bertukar ilmu,” katanya.

Ganjar mengaku, selama ini dia banyak belajar dan bertanya kepada pakar kehutanan di Tahura, seperti Bambang dan Lili Romli.

Literatur pribadi

Memori yang ia tuangkan dalam tulisan kini berbuah data yang berharga tentang kekayaan flora di Tahura. Saat ini, kata Ganjar, dia memiliki data lebih banyak ketimbang data resmi Tahura. Data resmi hanya menyebutkan 112 jenis tumbuhan dari 40 famili, sedangkan ia menemukan 170 jenis yang berasal lebih dari 40 famili. Tanaman langka yang masuk data inventarisnya, antara lain, hampelas (Ficus ampelas), biosoro atau peer (Ficus hispida), beunying (Ficus breviscuspis), kondang (Ficus variegata), dan huru leueur (Phoebe excelsa).

Ia mengatakan, semua pohon berbatang keras dan besar dahulu sangat khas di Jawa Barat, tetapi kini keberadaannya terancam punah. Kegunaan pohon ini pun beragam. Contohnya hampelas. Daunnya yang bertekstur kasar digunakan masyarakat zaman dahulu untuk menghaluskan perkakas kayu. Beunying atau kondang terkenal sebagai bahan yang sangat baik untuk pembangunan atap rumah.

Ganjar juga menyisipkan jenis ikan khas yang hidup di berbagai curug atau air terjun di Tahura. Salah satunya adalah hike (Labeobarbus longipinnis) yang hidup di arus deras dan memiliki ciri fisik seperti salmon.

”Saat ini data itu masih jadi literatur pribadi. Namun, saya ingin membuatnya menjadi buku untuk panduan pengunjung atau anak sekolah. Sementara ini memang belum tercapai karena menunggu masukan pakar lebih banyak dan modal,” ujarnya.

Di samping keanekaragaman hayati, Ganjar juga memiliki data tentang sisa kearifan lokal yang tumbuh di sekitar Tahura. Contohnya, Situs Cibitung yang merupakan peninggalan zaman prasejarah. Situs ini berbentuk makam dan pernah ditemukan batu arca di sekitarnya. Setelah ditelaah, ternyata tempat ini dianggap suci karena ada mata air di sekitarnya.

”Ini bisa menjadi potensi wisata sekaligus perlindungan terhadap alam yang harus terus dikembangkan,” ujar Ganjar, yang hingga kini masih berstatus pegawai outsourcing Tahura.

Berdayakan masyarakat

Ganjar melihat keberadaan Tahura dengan peninggalan sejarah serta flora dan faunanya belum dimanfaatkan sepenuhnya. Hampir 90 persen pengunjung minim literatur perlindungan lingkungan. Dia pun memanfaatkan tugasnya sebagai pemandu wisata dan sering menyisipkan pengetahuannya tentang koleksi hayati di Tahura kepada pengunjungnya, terutama anak-anak.

Dia melakukan praktik langsung agar penjelasannya lebih mudah diterima. Sebagai contoh, mengukur pohon mahoni, menghaluskan kayu dengan daun hampelas, dan menirukan suara burung di sekitar Tahura.

Ganjar berpendapat, cara seperti itu lebih mudah ditangkap pengunjung ketimbang sekadar melihat dari buku atau catatan tertulis.

Selain itu, ia juga kerap memberi saran kepada pedagang dan teman- temannya tentang cara menanam pohon dengan benar. ”Saya katakan kepada mereka agar memindahkan tanaman ke tempat yang luas. Tanaman tidak akan tumbuh dengan baik kalau sekadar hidup di dalam pot,” kata Ganjar. Dia kini sedang belajar menggunakan perangkat global positioning system (GPS) untuk memetakan 50 pohon besar di Tahura.

Selain itu, dia juga bercita-cita bersama masyarakat sekitar Tahura menjadi sukarelawan dan bekerja sama dengan pengelola Tahura. Tak sekadar jadi penunjuk arah, tetapi juga jadi masyarakat yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai sejarah dan keragaman hayati di Tahura.

GANJAR

• Lahir: Bandung, 8 Februari 1976 • Istri: Yani (30) • Anak: Siti Hajar Agni Ramadhan (3) • Pelatihan: - Satuan Pemadam Kebakaran Tahura, 2006 - Lebah Madu Tahura, 2009 - Interpreter Tahura, 2008.***

Source : Kompas, Sabtu, 16 April 2011

KOMENTAR

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • kefas dra

Sabtu, 16 April 2011 | 10:00 WIB

matap ganjar,,, ilmu emang gak perlu sekolah tapi kemauan untuk tahu yang tinggi itu yag membuat kita lebihhh banyak pengethuan... SEMANGAT TRUS SALAM PERJUANGAN

Balas tanggapan

Sabtu, 05 Februari 2011

Pencemaran Sungai Ciliwung Sangat Parah

Pencemaran Sungai Ciliwung Sangat Parah

Sabtu, 05/02/2011 - 12:56

KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"

WAKIL Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf (berbaju loreng) ikut memunguti sampah anorganik di Sungai Ciliwung di wilayah Kelurahan Kedung Halang, Kec. Bogor Utara, Kota Bogor, Sabtu (5/2).***

BOGOR, Lingkungan Global - Pencemaran Sungai Ciliwung dinilai sudah sangat parah dan termasuk dalam kategori tercemar berat. Limbah rumah tangga dinyatakan sebagai penyebab utama pencemaran berat yang terjadi di Sungai Ciliwung. Hanya saja, sampai saat ini pemerintah daerah masih sangat kesulitan untuk mengajak masyarakat meninggalkan kebiasaan membuang sampah di sungai.

Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf ketika melakukan penyisiran ke Sungai Ciliwung untuk membersihkan sampah di wilayah Kelurahan Kedung Halang, Bogor Utara, Kota Bogor, Sabtu (5/2).

Lebih lanjut dikatakan Dede, jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan sejumlah daerah yang menggantungkan sumber air dari Ciliwung akan mengalami krisis air pada tahun 2012 atau 2013.

"Berapapun anggaran yang kita keluarkan untuk menanggulangi pencemaran sungai ini tidak akan berarti jika di wilayah hulunya, yakni rumah tangga masih membuang sampah ke sungai. Bukan hanya sampah organik biasa, tetapi termasuk sisa cucian atau kotoran dari pembuangan WC," kata Dede.

Diakui Dede, sampai saat ini kondisi pencemaran di sepanjang Sungai Ciliwung sudah sangat parah. Banyaknya sampah yang ada di sungai, kata Dede juga disinyalir menjadi penyebab aliran sungai tidak bisa lancar. "Aliran air tidak bisa lancar sampai ke hilir karena banyaknya sampah yang menyumbat aliran sungai," lanjutnya.

Dengan kondisi masyarakat yang ada sekarang, kata Dede, sosialisasi akan memakan waktu yang sangat lama. Untuk itu, Pemprov Jabar akan mengeluarkan peraturan gubernur untuk perlindungan dan pengawasan daerah aliran sungai (DAS) yang ada di wilayah Jabar, seperti Ciliwung, Cisadane, dan Cimanuk.

Selain itu, gerakan membuat masyarakat malu membuang sampah ke sungai juga perlu terus digalakkan, terutama dilakukan oleh anak muda. Dengan demikian, para orang tua yang membuang sampah di sungai malu pada anak mereka yang memunguti sampah di sekitar sungai. "Ke depan problematika kedua kita akan muncul yakni ketahanan air. Krisis air dalam waktu dekat, bahkan bisa terjadi karena sumber air tidak terjaga," ungkapnya.

Sementara itu, Hapsono dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) mengatakan kerusakan lingkungan akibat pencemaran di Sungai Ciliwung juga menyebabkan debit air di sungai ini tidak menentu. "Kalau dulu, banjir bandang itu cuma sepuluh tahun sekali, sekarang bisa hampir setahun sekali ada air bandang karena perubahan sungai yang tidak lagi bisa menampung debit air," katanya.

Berdasarkan penelusurannya, ada sekitar 13 titik di aliran Sungai Ciliwung di wilayah Bogor yang tercemar parah. "Yang paling parah berada di sekitar Pasar Jambu Dua dan Pasar Bogor karena limbah pasar masuk ke sungai," lanjutnya.

Hal ini yang menyebabkan wilayah Bogor saat ini sering banjir karena air limpasan sungai. Disayangkan Hapsono, sampai saat ini belum ada perhatian khusus Pemkot Bogor terkait masalah sampah di sungai ini. Pemkot Bogor lebih banyak beralasan adanya keterbatasan wewenang mereka untuk mengatasi masalah ini.

Dari hasil penyisiran yang digagas oleh Circle K dan Greeneration Indonesia ini, ada puluhan karung plastik yang berisi sampah anorganik. (A-155/kur)***

Source : Pikiran-Rakyat Online, Sabtu, 05 Februari 2011

Kamis, 11 November 2010

Ketika Merapi Berstatus Awas

VULKANOLOGI

Ketika Merapi Berstatus Awas

Oleh Yuni Ikawati

Gunung Merapi sejak Senin (25/10) dinyatakan berstatus Awas. Peningkatan status ini berdasarkan kenaikan kegempaan vulkanik, deformasi signifikan kubah, serta peningkatan jumlah guguran kubah lava. Curah hujan yang tinggi berpotensi menimbulkan lahar panas di lereng Merapi.

Perubahan status Siaga menjadi Awas gunung berapi di Yogyakarta yang tingginya 2.950 meter itu, jelas Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono, berdasarkan adanya peningkatan signifikan jumlah dan intensitas gempa vulkanik sejak Jumat (22/10) hingga Minggu (24/10). Dalam tiga hari, gempa bumi vulkanik meningkat dari 52 menjadi 80 gempa.

Selain itu, juga terjadi peningkatan pertumbuhan kubah—disebut ”laju inflasi”— hampir empat kali lipat sejak Kamis (21/10) sampai Minggu (24/10). ”Laju inflasi, dari 10,5 cm menjadi 42 cm per hari pada 24 Oktober 2010,” ujar Surono. Laju inflasi diukur dengan memasang reflektor di dekat puncak Merapi.

Jumlah guguran lava sebelum 21 Oktober 2010 kurang dari 100 kejadian menjadi 194 kejadian pada 24 Oktober 2010. Meningkatnya jumlah guguran lava ini mengancam daerah di selatan hingga tenggara Merapi, yaitu Kabupaten Sleman dan Klaten, serta berpotensi menimbulkan awan panas.

Menurut Dewi Sri, staf peneliti di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, curah hujan yang tinggi pada musim hujan ini akan muncul ancaman banjir lahar dingin di lereng selatan dan tenggara karena tumpukan lava akan tererosi hanyut bersama air hujan menjadi lahar dingin hingga turun menjadi banjir lahar, masuk ke sungai di hilir. Lahar dingin berpotensi mengalir di tujuh kali: Kali Boyong, Kuning, Gendol, Woro, Bebeng, Krasak, dan Kali Bedog.

Menurut Dalidjo, pengamat di BPPTK, daerah pertumbuhan tahun ini mirip dengan lokasi tahun 2006. Pada gunung berapi yang berlokasi di empat kabupaten—Sleman, Klaten, Magelang, dan Boyolali—itu terlihat bahwa daerah selatan dan barat menunjukkan aktivitas lebih tinggi dibandingkan sisi lainnya.

Pola pertumbuhan

Menurut Mas Atje Purbawinata—mantan Kepala BPPTK, mengamati Merapi pada 1980-2007—Merapi adalah gunung api teraktif di Pulau Jawa. Aktivitasnya dipengaruhi hunjaman Lempeng Australia ke Lempeng Eurasia di bawah dapur magma Merapi yang relatif lebih aktif daripada zona subduksi lain di selatan Jawa.

Karakter Merapi berbeda dengan gunung berapi umumnya. Pembentukan kubahnya relatif cepat, kubah itu tidak stabil karena akan hancur oleh magma yang menerobos di lubang kepundan. Aktivitas vulkanis ini mengakibatkan guguran lava sehingga menimbulkan awan panas. ”Periode munculnya awan panas guguran sekitar empat tahunan,” lanjut Mas Atje.

Dalam volume besar, material yang gugur berubah menjadi rock avalanche (guguran batuan)—dikenal dengan sebutan wedhus gembel, yaitu campuran material berukuran debu hingga blok bersuhu lebih dari 700 derajat celsius, meluncur dengan kecepatan 100 km per jam.

Pola ini diamati sejak tahun 1930, setelah terjadi ”awan panas letusan” tahun itu. Letusan Merapi terjadi karena besarnya suplai magma. Ketika itu letusan mengarah ke Kali Gendol dan Bebeng dan dampaknya mencapai areal sejauh 12 km.

Suplai magma yang besar ditunjukkan dengan keluarnya banyak gas dari lubang kepundan yang telah terbuka. Gas ini mengandung banyak silika. Peningkatan kandungan silika pada batuan dari lubang kepundan dapat menunjukkan sifat atau tingkat letusan gunung berapi. Merapi akan menimbulkan letusan ketika kandungan silika 58 persen-60 persen.

Dari tingkat keasamannya, Merapi masuk kategori menengah. Gunung yang masuk kategori eksplosif tinggi adalah Krakatau—kandungan silika 62 persen, ujar Mas Atje yang meraih doktornya dari Universitas Otago, Selandia Baru.

Berbeda dengan gunung berapi lain, Merapi memiliki konduit terbuka sehingga aliran magma dari kantung magma mudah naik dan keluar dari lubang kepundan. Hal ini ditunjang oleh tekanan besar di dapur magma.

Kubah baru

Pada Mei tahun 2006, ketika terjadi guguran lava, citra satelit Ikonos dan SPOT yang didapat Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) menunjukkan ada kubah lava baru berdiameter sekitar 500 meter. Kubah baru ini menimbulkan guguran lava pijar dan awan panas lebih besar dari kubah pertama yang muncul sebelumnya.

Beberapa waktu lalu Priyadi Kardono dari Deputi Pengembangan Sumber Daya Alam Bakosurtanal mengingatkan turunnya lahar di kawasan permukiman di zona rawan bencana. Dari citra satelit SPOT5 terlihat ada permukiman baru di daerah zona rawan bencana awan panas, aliran lava, guguran batu (pijar), gas beracun, dan aliran lahar. Seharusnya kawasan itu bebas permukiman agar tidak timbul korban jiwa jika terjadi letusan. Priyadi menyarankan revisi peta Rawan Bencana dan membuat peta jalur evakuasi yang lebih baik.

Di Indonesia ada 129 gunung berapi—terbanyak di dunia. Di Jawa ada 34 gunung berapi, di Sumatera ada 30, dan Nusa Tenggara ada 28 gunung berapi.***

Source : Kompas, Selasa, 26 Oktober 2010 | 04:14 WIB

Guguran Material Meningkat

Guguran Material Meningkat

YOGYAKARTA - Intensitas guguran material dan gempa di Gunung Merapi terus meningkat. Gemuruh guguran material terdengar hingga ke desa-desa sekitar. Warga pun berkemas, di samping meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan pemantauan secara swadaya.

Berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, gempa multifase yang mengindikasikan adanya pertumbuhan kubah lava kembali meningkat menjadi 514 kali sepanjang Jumat (22/10). Jumlah ini merupakan yang tertinggi selama tiga hari terakhir. Rabu lalu gempa multifase sebanyak 479 kali, sedangkan Kamis turun menjadi 321 kali.

Guguran material sepanjang Jumat tercatat 81 kali. Pemantauan di Dusun Gondang, Kelurahan Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu dini hari, suara guguran material terdengar hingga jarak 4 kilometer dari puncak Merapi.

Aktivitas Merapi yang tertinggi terjadi sekitar Kamis menjelang Jumat pukul 00.00 hingga 01.00, dengan suara gemuruh terdengar sekitar tiga kali dalam satu jam. Meskipun aktivitas tinggi, sejauh ini kubah lava belum terbentuk.

Kepala BPPTK Yogyakarta Subandriyo mengatakan, pola kegempaan, perubahan deformasi, dan belum terbentuknya kubah lava masih mengindikasikan erupsi tahun ini bisa berenergi lebih besar daripada tahun 2006. ”Kalau kubah lava tidak terbentuk, erupsi akan dipicu oleh letusan dulu. Letusan itulah yang bisa berbahaya,” katanya.

Semakin keras

Sejumlah warga yang memantau aktivitas Merapi dari Dusun Gondang menceritakan, suara gemuruh guguran material terdengar semakin keras dan sering selama tiga hari terakhir. Selain itu, terlihat pula asap sulfatara pekat bertekanan rendah.

Kondisi Merapi yang demikian membuat warga desa seputaran lereng Merapi kini meningkatkan kewaspadaan dengan mengadakan pemantauan secara swadaya. Sejumlah warga desa di Kabupaten Magelang dan Klaten di Jawa Tengah serta Sleman di DI Yogyakarta—yang dekat Merapi—juga saling berhubungan dan bertukar informasi.

Agus Sarnyata (36), pengelola induk radio HT Balerante, Klaten, mengatakan, pemantauan swadaya berlangsung 24 jam secara bergantian. ”Cara ini efektif karena informasi dapat diterima langsung oleh warga,” katanya.

Dari Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto mengatakan, penambangan pasir dan pendakian di desanya telah ditutup. Warga juga telah siap bila harus mengungsi sewaktu-waktu. Namun, aktivitas keseharian warga masih normal.

Hal serupa dilaporkan dari Boyolali, Jawa Tengah. Disebutkan, warga di zona merah Gunung Merapi di Dusun Takeran, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, kemarin, merasakan suhu udara yang lebih tinggi. Karena itu, mereka mulai berkemas agar siap dievakuasi.

”Saya sudah menyiapkan baju yang bakal dibawa jika sewaktu-waktu harus mengungsi. Saya siap mengungsi (jika terjadi erupsi Merapi). Namun, saya bingung, bagaimana dua sapi saya jika saya tinggal mengungsi,” kata Sutras (50), warga Takeran, saat sosialisasi siaga evakuasi yang diselenggarakan Komando Distrik Militer 0724 Boyolali di Balai Dusun Takeran, kemarin.

Sosialisasi itu dimaksudkan untuk mengingatkan masyarakat agar memerhatikan sirene bahaya, sekaligus mengingatkan rute ataupun kelompok evakuasi.

Di Semarang, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah menyatakan siap mengungsikan 53.639 warga yang tercatat tinggal di zona merah Merapi di Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten. ”Pengungsian warga akan dilakukan ketika status Merapi menjadi awas,” ujar Kepala BPBD Jateng Priantono Djarot Nugroho seusai rapat koordinasi tanggap Merapi di Semarang.

Sementara itu, dari Bantul, DI Yogyakarta, dilaporkan, kemarin pukul 13.30 daerah tersebut dilanda angin kencang. Hal serupa terjadi di Kota Yogyakarta. (GAL/EGI/DEN/IRE/ARA)***

Source : Kompas, Minggu, 24 Oktober 2010 | 04:00 WIB

Erupsi Merapi Bisa Berenergi Besar

GUNUNG BERAPI

Erupsi Merapi Bisa Berenergi Besar

MAGELANG - Erupsi Gunung Merapi diprediksi akan muncul dengan energi besar. Indikasi ini menguat dengan adanya gejala praerupsi berupa frekuensi gempa vulkanik tinggi—lebih dari 50 kali—jauh melebihi frekuensi gempa vulkanik pada masa praerupsi tahun-tahun sebelumnya.

Dari pemantauan di Kalitengah Lor, Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, titik api mulai terlihat di tenggara puncak Merapi, Kamis (21/10) malam. Aktivitas Merapi terlihat meningkat sekitar pukul 21.00-22.00, ditandai kepulan asap sulfatara tebal, diiringi beberapa kali gempa multifase dan gemuruh suara guguran material. Guguran material mengarah ke Kali Gendol, Cangkringan, rata-rata berjarak 1,5 kilometer.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo, Jumat, menjelaskan, jika pada tahun-tahun sebelumnya Gunung Merapi sudah meletus ketika gempa vulkanik terjadi kurang dari 40 kali sehari, pada saat ini Gunung Merapi masih belum menampakkan tanda-tanda erupsi, walaupun jumlah gempa vulkanik telah mencapai lebih dari 50 kali dalam sehari.

”Ini sungguh merupakan gejala yang tidak lazim,” kata Subandriyo seusai rapat koordinasi dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Magelang, Jumat, di Magelang.

Namun, gempa multifase yang mengindikasikan pembentukan kubah lava justru turun, dari 479 kali, Rabu, menjadi 321 kali, sepanjang Kamis. Namun, guguran material semakin meningkat, bahkan pernah mencapai jarak terjauh 3,5 kilometer.

Turunnya frekuensi gempa multifase itu justru mengkhawatirkan karena bisa mengindikasikan adanya penyumbatan gas. Dampaknya, erupsi Merapi tahun ini bisa jadi lebih besar dari tahun 2006. ”Kalau kubah lava segera terbentuk, pola erupsi akan seperti biasanya. Tapi, kalau tidak juga terbentuk, bisa jadi erupsi tahun ini lebih besar dan mendadak dari biasanya atau tipe erupsi vulkanian,” katanya.

Dengan kondisi ini, seluruh masyarakat dan aparat pemerintah di empat kabupaten, yaitu Klaten, Boyolali, Magelang, dan Sleman, agar meningkatkan kesiapsiagaan.

BPPTK Yogyakarta mengimbau warga di lereng Merapi tidak beraktivitas di radius 8 kilometer dari badan sungai, lebih jauh dibandingkan radius saat status waspada, yaitu 7 kilometer dari badan sungai.

Pihaknya belum dapat memprediksi arah letusan Merapi. Jika bersifat eksplosif, menyembur ke atas, maka dampak letusan akan dirasakan merata di empat kabupaten yang mengelilinginya. Namun, jika lebih mengarah ke samping, maka letusan berpeluang tinggi mengarah ke Sleman karena deformasi kubah lava juga mengarah ke sana.

Bupati Magelang Singgih Sanyoto mengatakan, Pemerintah Kabupaten Magelang akan segera memperbaiki jalur-jalur evakuasi yang rusak dengan menutup lubang jalan dengan batu dan tanah. (EGI/IRE/RWN)***

Source : Kompas, Sabtu, 23 Oktober 2010 | 02:56 WIB

Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • andreas budijanto

Sabtu, 23 Oktober 2010 | 12:25 WIB

Awas !! berita terakhir: ratusan monyet sudah mulai turun gunung ... mereka lebih peka terhadap tanda2 alam daripada alat2 buatan manusia. Apakah ini pertanda letusan gunung Merapi akan eksplosif ?

Balas tanggapan

  • Gregorious Aris Buntarman

Sabtu, 23 Oktober 2010 | 09:10 WIB

Material yang dimuntahkan Gunung Merapi juga punya nilai ekonomi bagi masyarakat Yogyakarta. Masalahnya sekarang, bagaimana mengelolanya dengan baik dan efisien? Semua jalan di Yogyakarta kondisinya sangat bagus dibanding dengan jalan-jalan yang ada di luar Yogya. Itu bisa diadakan karena selain tersedianya dana dan juga material ( pasir, batu ) yang kualitasnya sangat baik.

Balas tanggapan

  • Kirjito Vincentius

Sabtu, 23 Oktober 2010 | 07:00 WIB

Kok hanya ditutup batu dan tanah ta Pak Singgih? Musim penghujan begini apa tidak diperhitungkan? Masak ta tidak punya aspal hotmic yang mudah mengerjakannya. Dan jalan sebaiknya mudah untuk papasan dua mobil sayur maupun mobil untuk evakuasi ya biasanya truk glodhag2 itu.

Balas tanggapan

Pesona Abadi Gunung Semeru

Pesona Abadi Gunung Semeru

Pemandangan dari Puncak Semeru. (ARUM TRESNANINGTYAS DAYUPUTRI)***

Kabut tipis menyelimuti deretan tenda pendaki yang berjajar rapi di pinggir Danau Ranu Kumbolo, Minggu (15/8). Sang surya perlahan bergerak meninggi, menghangatkan pagi yang beku. Bayangan pohon pinus dan cemara yang berbaris rapi di sekeliling danau terpantul sempurna pada permukaan air yang mengilap diterpa matahari. Langit biru yang tersapu awan putih seakan turut becermin di permukaan danau, membuat semesta tampak dekat menyatu dengan permukaan air.

Danau yang menyerupai mangkok besar di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut tersebut merupakan lokasi persinggahan pendaki dalam perjalanan menuju puncak Mahameru. Bermalam di Ranu Kumbolo, mampu menghapus lelah perjalanan panjang pendaki dari Desa Ranu Pane. Keindahan danau berwarna biru kehijauan tersebut mampu memberi energi tambahan untuk melanjutkan pendakian ke puncak Semeru.

Gunung Semeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut. Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06' LS dan 120°55' BT.

Pesona Mahameru mengundang banyak pendaki untuk datang, baik dari pendaki lokal maupun asing. Bahkan, Arya Cahya, seorang bocah berusia 5 tahun, pun bersemangat untuk mendaki Gunung Semeru, didampingi keluarganya. (Arum Tresnaningtyas Dayuputri)***

Source : Kompas, Minggu, 24 Oktober 2010 | 04:02 WIB

Rabu, 10 November 2010

Erupsi Merapi Makin Dekat

Erupsi Merapi Makin Dekat

Para pengungsi yang sebagian besar berusia lanjut dan anak-anak lelap di barak pengungsian Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (25/10) malam. Status aktivitas Gunung Merapi saat ini meningkat dari Siaga menjadi Awas, terhitung sejak Senin (25/10) pukul 06.00. (KOMPAS/WAWAN H PRABOWO)***

YOGYAKARTA, Lingkungan Global - Erupsi Gunung Merapi tinggal menunggu waktu dan diperkirakan erupsi itu bersifat eksplosif setelah statusnya naik menjadi Awas sejak Senin (25/10) pukul 06.00.

Peningkatan aktivitas vulkanik empat hari terakhir menandakan gejala erupsi makin dekat.

Prakiraan erupsi yang bersifat eksplosif berbeda dari pola efusif (aliran) yang lebih kerap terjadi atas gunung api dengan ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut itu.

”Tidak ada alasan statusnya ditahan-tahan,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Surono di Yogyakarta, Senin.

Seiring peningkatan status Merapi dari Siaga menjadi Awas, kawasan wisata di lereng Merapi, yakni Kaliurang, Kaliadem, Kalikuning, dan Taman Nasional Gunung Merapi, Senin, dinyatakan tertutup. Sementara itu, evakuasi terhadap penduduk mulai dilakukan di wilayah Merapi yang masuk Jawa Tengah, dan di wilayah DI Yogyakarta.

Peningkatan status dari Siaga ke Awas didasarkan data visual dan instrumental yang meningkat tajam selama empat hari terakhir. Sebelum tanggal 21 Oktober, saat status dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga, jumlah guguran material di bawah 100 kali per hari. Sejak 23 Oktober, guguran mencapai di atas 180 kali per hari.

Deformasi puncak yang hingga 21 Oktober hanya 10,5 sentimeter per hari kini mencapai 42 sentimeter per hari. Kondisi itu menunjukkan magma dari perut gunung sudah semakin mendekati puncak. ”Dari segi energi kegempaan, hal ini sudah jauh melampaui saat erupsi tahun 2006,” kata Surono.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo menambahkan, laju deformasi terfokus di sekitar kubah lava erupsi tahun 1911. Kubah itu rapuh karena usianya mencapai 100 tahun. ”Namun, kami belum tahu erupsi akan bersifat eksplosif (letusan) atau efusif (aliran). Masih 50:50,” ujarnya.

Ahli vulkanologi dari Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengatakan, berdasarkan gejalanya, erupsi Merapi saat ini diperkirakan bertipe vulkano murni, yaitu erupsi eksplosif dengan pola letusan yang menyemburkan material ke berbagai arah.

Lava meluncur

Sekitar pukul 13.01 terlihat luncuran lava ke arah barat, yaitu ke Kali Senowo, dan Kali Lamat di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, semuanya di Jawa Tengah. ”Pada kejadian sebelumnya, luncuran lava selalu mengarah ke selatan, ke arah Kali Gendol,” kata Repiyo, petugas Pos Pengamatan Ngepos, Srumbung, Magelang.

Repiyo mengatakan, lava tersebut bukan merupakan guguran lava pijar. Luncuran lava sepanjang 2 kilometer itu berlangsung selama dua menit. Guguran lava ini menimbulkan gumpalan asap putih dari atas gunung, yang terlihat dari Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung. Hal ini sempat membuat panik penduduk yang mengira guguran lava itu gumpalan awan panas (wedhus gembel).

Di Klaten, warga Dusun Karangbutan, Desa Sidorejo, yang berada di daerah aliran Kali Woro, merasakan meningkatnya suhu udara.

Penduduk Kabupaten Boyolali, Jateng, di daerah Selo, sejak dua hari lalu juga melihat belasan ekor kera dan burung turun dari hutan Merapi ke kebun-kebun penduduk.

Mengungsi

Subandriyo menjelaskan, sekitar 40.000 warga di kawasan rawan bencana III (radius 10 kilometer) sekeliling Merapi kemarin mulai diungsikan, terutama anak-anak dan orang lanjut usia.

Mereka berasal dari 12 desa yang tersebar di Sleman (DIY, 7 desa), Magelang (Jateng, 2 desa), dan Klaten (Jateng, 3 desa). Evakuasi dilakukan di sisi selatan dan barat daya Merapi yang mengalami deformasi berupa penggembungan, dan jadi arah guguran lava.

Pemerintah Kabupaten Magelang, Senin, mulai mengungsikan 2.260 warga di enam dusun di Kecamatan Srumbung ke titik kumpul di Balai Desa Srumbung. Meskipun begitu, hingga petang kemarin Pemerintah Kabupaten Klaten belum mengevakuasi warga Desa Balerante, Tegalmulyo, dan Sidorejo di Kecamatan Kemalang.

Di DIY, pengungsian dilakukan di tujuh barak pengungsian di Glagaharjo, Kepuharjo, Umbulharjo (Kecamatan Cangkringan); Hargobinangun dan Purwobinangun (Pakem); serta Girikerto dan Wonokerto (Turi).

Jika erupsi terjadi, diperkirakan lava bisa mengalir ke tujuh sungai yang hulunya di Merapi.

Untuk mengecek persiapan tempat penampungan para pengungsi bilamana terjadi erupsi Gunung Merapi di perbatasan Provinsi DIY dan Jateng, Wakil Presiden Boediono, Selasa siang ini, akan meninjau lokasi persiapan penampungan pengungsi di Sleman. Wapres juga akan meninjau Pos Pengamatan Merapi di Kaliurang, Sleman.

Demikian diungkapkan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono di Jakarta. Sore harinya, Agung langsung mengecek kesiapan penanganan Merapi di Sleman.

Juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan, mengaku masih merasa kerasan tinggal di Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, yang berjarak sekitar 4 kilometer dari puncak Merapi. Mbah Maridjan yang ditanyai banyak orang enggan berkomentar banyak, kecuali berharap dan berdoa.(GAL/EGI/ILO/PRA/ENG/IRE/HAR)***

Source : Kompas, Selasa, 26 Oktober 2010 | 02:56 WIB

Ada 10 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • anton sulistiono

Selasa, 26 Oktober 2010 | 19:24 WIB

Semoga Alloh senantiasa melindungi kita semua amiiin.

Balas tanggapan

  • Hussein Benhadi

Selasa, 26 Oktober 2010 | 18:58 WIB

semoga saja Pak Beye tidak pelesiran ke luar negeri di saat masyarakat tertimpa musibai

Balas tanggapan

  • Bayu Wiratsongko

Selasa, 26 Oktober 2010 | 15:52 WIB

Kalo dilihat dari sudut mistis, letusan tidak akan mengarah ke arah selatan. Namun semua kembali kepada masing-masing orang.

Balas tanggapan

  • Cah Kenthis

Selasa, 26 Oktober 2010 | 15:26 WIB

berdoa , berusaha , pasrah !

Balas tanggapan

  • sulistiyono nogoprakoso

Selasa, 26 Oktober 2010 | 13:02 WIB

berdoa dan terus berdoalah mendekatkan diri kepada sang Khaliq........ agar kita senantiasa diberikan perlindungan dari segala ancaman bencana........... mbah marijan .......... laksanakan tugasmu sebagaimana yang telah kerap kali engkau lakukan ketika merapi mulai bergejolak.........

Balas tanggapan

 

TRANSLATE/TERJEMAH BAHASA

My Blog List

Site Info

Followers

LINGKUNGAN GLOBAL Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template