YANG HOT KLIK DI SINI

Kamis, 22 Desember 2011

Catatan Akhir Tahun 2011 : GOR Dharma Ayu Terkesan Diterjang “Tsunami”

Kamis, 22 Desember 2011

LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE

Catatan Akhir Tahun 2011

GOR Dharma Ayu Terkesan Diterjang “Tsunami”

KOTOR DAN KUMUH – Kondisi halaman Gelanggang Olah Raga (GOR) Dharma Ayu Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Kamis (22/12/2011) pagi, terkesan diterjang bencana alam Tsunami. Di sekitar halamannya, sampah basah berserakan dan berair. Menurut warga setempat, kondisi demikian sudah berlangsung berhari-hari dan belum dilakukan tindakan pembersihan oleh penanggung jawab GOR Dharma Ayu. Kabarnya, sejak 18 November 2011 hingga 18 Desember 2011, halaman tempat olahraga itu disewa pengelola hiburan lumba-lumba. Usai dijadikan tempat hiburan, kini diduga yang tersisa sampahnya.(Satim)*** Foto-foto : Satim/Lingkungan Global Online

Minggu, 13 November 2011

Sawah Tandus Dijadikan Lapangan Bola Desa Dermayu

Minggu, 13 November 2011

LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE

Sawah Tandus Dijadikan Lapangan Bola Desa Dermayu

LAPANGAN BOLA DERMAYU – Sawah tandus dan sering disebut-sebut areal tegalan di Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, kini dijadikan lapangan bola. Meski baru tahap pengerjaan pengurukan, namun masyarakat setempat mengharapkan, agar pelaksanaan proyek lapangan bola itu bisa segera selesai. Konon, pembuatan lapangan bola Desa Dermayu itu didanai APBD Kabupaten Indramayu tahun 2011yang dialokasikan melalui Proyek Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP). Namun hingga Sabtu (12/11/2011) sore, pelaksanaan pekerjaan pembuatan lapangan bola Desa Dermayu itu belum berjalan normal, sementara tinggal beberapa minggu lagi sudah tutup anggaran tahun 2011. (Satim)*** Foto-foto : Satim

Sabtu, 04 Juni 2011

Kondisi Air Tanah di Kota Bekasi Memprihatinkan

Sabtu, 4 Juni 2011

LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE

Kalangan Industri untuk Beralih ke PDAM

Kondisi Air Tanah di Kota Bekasi Memprihatinkan

BEKASI, LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE - Kalangan industri di Kota Bekasi mulai diarahkan untuk tak bergantung pada pemakaian air tanah. Pasalnya, kondisi air tanah di Kota Bekasi saat ini sudah memasuki taraf memprihatinkan, menyusul penggunaan yang tinggi oleh kalangan industri dan rumah tangga.

Upaya mendorong pengurangan ketergantungan industri terhadap penggunaan air tanah diperkuat dengan terbitnya Peraturan Daerah tentang Pajak Air Tanah yang disahkan Desember 2010. Pengendalian penggunaan air tanah demi menjaga kelestarian ekosistem lingkungan merupakan salah satu poin utama yang dibahas dalam peraturan tersebut.

Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bekasi Syafei Muhamad mengatakan, secara bertahap pihaknya akan mulai mengurangi keleluasaan industri dalam mengambil air tanah.

Masing-masing industri sudah ditentukan kuota air tanah yang boleh dipergunakan. Setiap tahun, saat perpanjangan izin penggunaan air tanah, kuota yang diberikan akan terus dikurangi hingga akhirnya habis dan industri tak bisa lagi mempergunakannya.

"Kalau penggunaan sudah melebihi kuota yang ditentukan, kelebihan airnya akan dikenakan pajak. Daripada mengeluarkan biaya untuk membayar pajak yang cukup tinggi, kami giring industri untuk beralih ke PDAM," tuturnya.

Peralihan ke PDAM ini, lebih lanjutnya, akan berdampak pada penyelamatan ekosistem lingkungan demi kelestarian sumber air tanah.

Sebelumnya BPLH Kota Bekasi pernah merilis bahwa kualitas dan kuantitas air tanah di Kecamatan Medan Satria dan Bekasi Utara sudah memasuki zona kritis. Muka tanah di lokasi yang menjadi pusat industri ini sudah turun akibat eksploitasi air tanah berlebihan.

Secara terpisah anggota Komisi D DPRD Kota Bekasi Sardi Efendi mengungkapkan, jika Perda Pajak Air Tanah ini dapat diimplementasikan secara maksimal, bukan hanya ekosistem lingkungan yang terselamatkan.

"Kontribusi terhadap PAD dari industri pun tinggi, bisa mencapai Rp 400 miliar per tahunnya. Mudah-mudahan bisa membuat industri berpikir ulang. Mengeksploitasi air tanah hanya akan merusak ekosistem dan juga menambah pengeluaran," katanya.

Perda yang mulai efektif diberlakukan, meski masih menunggu penomoran, ini berlaku tegas. Terhadap pelanggar, dapat dipidanakan. (A-184/kur)***

Source : Pikiran Rakyat Online, Sabtu, 4 Juni 2011

Sabtu, 16 April 2011

Kamus Berjalan Konservasi Lingkungan

Sabtu,
16 April 2011

LINGKUNGAN GLOBAL ONLINE

GANJAR

Kamus Berjalan Konservasi Lingkungan






GANJAR. (Kompas/Rony Ariyanto Nugroho)***

Oleh Cornelius Helmy

Sebagai warga asli Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat, Ganjar merasa bertanggung jawab pada lingkungan kawasan itu. Rasa ingin tahu dan kemauan belajar membuat Ganjar mendapat predikat sebagai ”kamus berjalan” konservasi lingkungan di Taman Hutan Rakyat Djuanda. Pertanyaan tentang sejarah hingga karakteristik flora dan faunanya bisa dia jawab tanpa melihat buku panduan.

Taman Hutan Rakyat (Tahura) Djuanda adalah kawasan pelestarian alam dengan koleksi tumbuhan dan satwa yang bisa dimanfaatkan bagi kepentingan umum. Ini terutama sebagai tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan dan wisata. Lahan yang dikelola Dinas Kehutanan Jawa Barat ini luasnya 590 hektar dengan koleksi sekitar 2.500 tumbuhan.

Tahura yang dibangun pada 1912 ini tercatat sebagai yang tertua dibangun Belanda. Pusat taman yang sebelumnya dikenal sebagai Taman Rakyat Pulosari atau biasa disebut masyarakat sebagai Palasari terletak di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimeyan, Kabupaten Bandung.

Penguasaan tentang beragam pengetahuan ternyata sangat berguna bagi promosi wisata dan aktivitas penelitian di Tahura, baik di dalam maupun luar negeri. Sebagai promosi wisata, Ganjar bisa berperan sebagai pemandu wisata yang paham tentang detail Tahura. Pengunjung tak sekadar melihat obyek yang ada, tetapi juga paham tentang sejarah, perkembangan, dan nilai positif yang tertanam di dalamnya.

Narasumber ahli

Terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan, Ganjar kerap menjadi narasumber bagi peneliti dari berbagai lembaga di dalam dan luar negeri. Contohnya, saat ia melapor kepada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tentang penemuan anggrek kecil dari famili Taeniophyllum yang tumbuh di pohon merawan (Hopea sp) tahun lalu atau saat ia memberikan penjelasan mengenai pohon terbesar di Tahura, mahoni Uganda (Khaya anthotheca), kepada 20 mahasiswa pascasarjana jurusan kehutanan dari Universiti Putera Malaysia. Ganjar fasih menjelaskan berbagai karakteristik dan kegunaan flora di Tahura, termasuk hafal nama latinnya.

”Senang bisa berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan kepada mereka. Saya juga belajar banyak keahlian mereka, seperti cara mendata flora dan fauna yang terstruktur serta ilmiah,” kata Ganjar, yang hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah menengah atas.

Keterlibatan Ganjar dengan kawasan konservasi Tahura dimulai tahun 2004 sebagai petugas di bagian penyemaian, yang dilanjutkan sebagai pegawai kebersihan. Kini jabatannya petugas keamanan. Namun, hal ini tak menghalangi minat Ganjar belajar tentang keragaman hayati di Tahura.

Cara belajarnya pun terbilang unik. Apabila ada kegiatan peneliti atau kunjungan wisata pendidikan di Tahura, ia kerap mengikuti mereka. Tanpa diketahui banyak orang, ia sebenarnya menyimak penjelasan dan menyimpannya dalam ingatan. Sesampainya di rumah, ingatan itu ia tuliskan dalam bentuk dokumen.

”Pernah juga ketika membuntuti salah satu kegiatan, saya ditanya dan ternyata jawaban saya memuaskan. Setelah itu, kami justru saling bertukar ilmu,” katanya.

Ganjar mengaku, selama ini dia banyak belajar dan bertanya kepada pakar kehutanan di Tahura, seperti Bambang dan Lili Romli.

Literatur pribadi

Memori yang ia tuangkan dalam tulisan kini berbuah data yang berharga tentang kekayaan flora di Tahura. Saat ini, kata Ganjar, dia memiliki data lebih banyak ketimbang data resmi Tahura. Data resmi hanya menyebutkan 112 jenis tumbuhan dari 40 famili, sedangkan ia menemukan 170 jenis yang berasal lebih dari 40 famili. Tanaman langka yang masuk data inventarisnya, antara lain, hampelas (Ficus ampelas), biosoro atau peer (Ficus hispida), beunying (Ficus breviscuspis), kondang (Ficus variegata), dan huru leueur (Phoebe excelsa).

Ia mengatakan, semua pohon berbatang keras dan besar dahulu sangat khas di Jawa Barat, tetapi kini keberadaannya terancam punah. Kegunaan pohon ini pun beragam. Contohnya hampelas. Daunnya yang bertekstur kasar digunakan masyarakat zaman dahulu untuk menghaluskan perkakas kayu. Beunying atau kondang terkenal sebagai bahan yang sangat baik untuk pembangunan atap rumah.

Ganjar juga menyisipkan jenis ikan khas yang hidup di berbagai curug atau air terjun di Tahura. Salah satunya adalah hike (Labeobarbus longipinnis) yang hidup di arus deras dan memiliki ciri fisik seperti salmon.

”Saat ini data itu masih jadi literatur pribadi. Namun, saya ingin membuatnya menjadi buku untuk panduan pengunjung atau anak sekolah. Sementara ini memang belum tercapai karena menunggu masukan pakar lebih banyak dan modal,” ujarnya.

Di samping keanekaragaman hayati, Ganjar juga memiliki data tentang sisa kearifan lokal yang tumbuh di sekitar Tahura. Contohnya, Situs Cibitung yang merupakan peninggalan zaman prasejarah. Situs ini berbentuk makam dan pernah ditemukan batu arca di sekitarnya. Setelah ditelaah, ternyata tempat ini dianggap suci karena ada mata air di sekitarnya.

”Ini bisa menjadi potensi wisata sekaligus perlindungan terhadap alam yang harus terus dikembangkan,” ujar Ganjar, yang hingga kini masih berstatus pegawai outsourcing Tahura.

Berdayakan masyarakat

Ganjar melihat keberadaan Tahura dengan peninggalan sejarah serta flora dan faunanya belum dimanfaatkan sepenuhnya. Hampir 90 persen pengunjung minim literatur perlindungan lingkungan. Dia pun memanfaatkan tugasnya sebagai pemandu wisata dan sering menyisipkan pengetahuannya tentang koleksi hayati di Tahura kepada pengunjungnya, terutama anak-anak.

Dia melakukan praktik langsung agar penjelasannya lebih mudah diterima. Sebagai contoh, mengukur pohon mahoni, menghaluskan kayu dengan daun hampelas, dan menirukan suara burung di sekitar Tahura.

Ganjar berpendapat, cara seperti itu lebih mudah ditangkap pengunjung ketimbang sekadar melihat dari buku atau catatan tertulis.

Selain itu, ia juga kerap memberi saran kepada pedagang dan teman- temannya tentang cara menanam pohon dengan benar. ”Saya katakan kepada mereka agar memindahkan tanaman ke tempat yang luas. Tanaman tidak akan tumbuh dengan baik kalau sekadar hidup di dalam pot,” kata Ganjar. Dia kini sedang belajar menggunakan perangkat global positioning system (GPS) untuk memetakan 50 pohon besar di Tahura.

Selain itu, dia juga bercita-cita bersama masyarakat sekitar Tahura menjadi sukarelawan dan bekerja sama dengan pengelola Tahura. Tak sekadar jadi penunjuk arah, tetapi juga jadi masyarakat yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai sejarah dan keragaman hayati di Tahura.

GANJAR

• Lahir: Bandung, 8 Februari 1976 • Istri: Yani (30) • Anak: Siti Hajar Agni Ramadhan (3) • Pelatihan: - Satuan Pemadam Kebakaran Tahura, 2006 - Lebah Madu Tahura, 2009 - Interpreter Tahura, 2008.***

Source : Kompas, Sabtu, 16 April 2011

KOMENTAR

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • kefas dra

Sabtu, 16 April 2011 | 10:00 WIB

matap ganjar,,, ilmu emang gak perlu sekolah tapi kemauan untuk tahu yang tinggi itu yag membuat kita lebihhh banyak pengethuan... SEMANGAT TRUS SALAM PERJUANGAN

Balas tanggapan

Sabtu, 05 Februari 2011

Pencemaran Sungai Ciliwung Sangat Parah

Pencemaran Sungai Ciliwung Sangat Parah

Sabtu, 05/02/2011 - 12:56

KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"

WAKIL Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf (berbaju loreng) ikut memunguti sampah anorganik di Sungai Ciliwung di wilayah Kelurahan Kedung Halang, Kec. Bogor Utara, Kota Bogor, Sabtu (5/2).***

BOGOR, Lingkungan Global - Pencemaran Sungai Ciliwung dinilai sudah sangat parah dan termasuk dalam kategori tercemar berat. Limbah rumah tangga dinyatakan sebagai penyebab utama pencemaran berat yang terjadi di Sungai Ciliwung. Hanya saja, sampai saat ini pemerintah daerah masih sangat kesulitan untuk mengajak masyarakat meninggalkan kebiasaan membuang sampah di sungai.

Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf ketika melakukan penyisiran ke Sungai Ciliwung untuk membersihkan sampah di wilayah Kelurahan Kedung Halang, Bogor Utara, Kota Bogor, Sabtu (5/2).

Lebih lanjut dikatakan Dede, jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan sejumlah daerah yang menggantungkan sumber air dari Ciliwung akan mengalami krisis air pada tahun 2012 atau 2013.

"Berapapun anggaran yang kita keluarkan untuk menanggulangi pencemaran sungai ini tidak akan berarti jika di wilayah hulunya, yakni rumah tangga masih membuang sampah ke sungai. Bukan hanya sampah organik biasa, tetapi termasuk sisa cucian atau kotoran dari pembuangan WC," kata Dede.

Diakui Dede, sampai saat ini kondisi pencemaran di sepanjang Sungai Ciliwung sudah sangat parah. Banyaknya sampah yang ada di sungai, kata Dede juga disinyalir menjadi penyebab aliran sungai tidak bisa lancar. "Aliran air tidak bisa lancar sampai ke hilir karena banyaknya sampah yang menyumbat aliran sungai," lanjutnya.

Dengan kondisi masyarakat yang ada sekarang, kata Dede, sosialisasi akan memakan waktu yang sangat lama. Untuk itu, Pemprov Jabar akan mengeluarkan peraturan gubernur untuk perlindungan dan pengawasan daerah aliran sungai (DAS) yang ada di wilayah Jabar, seperti Ciliwung, Cisadane, dan Cimanuk.

Selain itu, gerakan membuat masyarakat malu membuang sampah ke sungai juga perlu terus digalakkan, terutama dilakukan oleh anak muda. Dengan demikian, para orang tua yang membuang sampah di sungai malu pada anak mereka yang memunguti sampah di sekitar sungai. "Ke depan problematika kedua kita akan muncul yakni ketahanan air. Krisis air dalam waktu dekat, bahkan bisa terjadi karena sumber air tidak terjaga," ungkapnya.

Sementara itu, Hapsono dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) mengatakan kerusakan lingkungan akibat pencemaran di Sungai Ciliwung juga menyebabkan debit air di sungai ini tidak menentu. "Kalau dulu, banjir bandang itu cuma sepuluh tahun sekali, sekarang bisa hampir setahun sekali ada air bandang karena perubahan sungai yang tidak lagi bisa menampung debit air," katanya.

Berdasarkan penelusurannya, ada sekitar 13 titik di aliran Sungai Ciliwung di wilayah Bogor yang tercemar parah. "Yang paling parah berada di sekitar Pasar Jambu Dua dan Pasar Bogor karena limbah pasar masuk ke sungai," lanjutnya.

Hal ini yang menyebabkan wilayah Bogor saat ini sering banjir karena air limpasan sungai. Disayangkan Hapsono, sampai saat ini belum ada perhatian khusus Pemkot Bogor terkait masalah sampah di sungai ini. Pemkot Bogor lebih banyak beralasan adanya keterbatasan wewenang mereka untuk mengatasi masalah ini.

Dari hasil penyisiran yang digagas oleh Circle K dan Greeneration Indonesia ini, ada puluhan karung plastik yang berisi sampah anorganik. (A-155/kur)***

Source : Pikiran-Rakyat Online, Sabtu, 05 Februari 2011

 

TRANSLATE/TERJEMAH BAHASA

My Blog List

Site Info

Followers

LINGKUNGAN GLOBAL Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template