YANG HOT KLIK DI SINI

Sabtu, 09 Januari 2010

Perpaduan Hutan Alam dan Tradisi Bali

Pintu Gerbang Kebun Raya Bedugul, Bali

Patung besar Rahwana melawan bala tentara kera pimpinan Hanoman, salah satu sekuen dari epos Ramayana , menghiasi jalan utama pintu gerbang Kebun Raya Bedugul di Kabupaten Tabanan, Bali, akhir tahun lalu. (Foto : Kompas/Hariadi Saptono)***

KEBUN RAYA BEDUGUL

Perpaduan Hutan Alam dan Tradisi Bali

Oleh Benny Dwi Koestanto dan Samuel Oktora

Meski terhitung sebagai kebun raya paling muda—usianya tahun ini 51 tahun—Kebun Raya ”Eka Karya” Bali, alias Kebun Raya (KR) Bedugul, punya magi yang kuat memesona. Setidaknya dibanding tiga kebun raya lain di Indonesia.

KR Bedugul di Desa Candikuning, Baturiti, Kabupaten Tabanan, adalah ”simbiosis” situs purba dan kearifan lokal pengobatan, arsitektur, dan sastra lama. Begitu rupa?

Ya, begitulah rupanya. Tiga KR lain sebagai bandingan yang kami maksud adalah KR Purwodadi di Jawa Timur (usia 69 tahun, luasnya 85 hektar, koleksi spesiesnya khas dataran rendah dan kering), KR Cibodas (158 tahun, 125 ha, koleksi spesies khas dataran tinggi dan lembab), dan KR Bogor (193 tahun, 125 ha, dengan koleksi spesies khas dataran rendah dan basah).

Jika Anda berkunjung ke KR Bedugul pada musim kemarau, rekaman batin kita akan berbeda dibanding menikmatinya saat hujan rintik-rintik, apalagi hujan deras. Pada saat hujan, KR Bedugul akan memancarkan aura senyap. Dan sensasi tambahannya, kabut turun sampai ke batang-batang pohon, bersama kesakralan yang mengikat.

Itu sebabnya, Guesthouse Etnobotani, berupa bungalo berarsitektur Bali, dan Guesthouse ”VIP” dengan 14 kamar itu sering jadi ajang workshop kesenian, dan kerohanian oleh masyarakat umum. Menurut informasi, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, pernah menginap di Guesthouse ”VIP” di sana, di dalam kawasan hutan seluas 157,5 hektar untuk mengoleksi spesies tanaman khas dataran tinggi lembab kawasan Indonesia Timur itu.

Kepala Kebun Raya Bali Ir Nyoman Lugrayasa menjelaskan, pengembangan sarana fisik di KR Bedugul memang berbasis budaya, senapas dengan pendidikan konservasi.

Salah satu yang paling kentara adalah gerbang utama kebun raya berupa candi bentar (terbelah), sebagaimana bangunan pura di Pulau Dewata. ”Orientasi fisik yang berbasis budaya dan lebih spesifik pendidikan konservasi itu terus dipertahankan, kalau bisa bahkan ditambah,” kata Lugrayasa.

Boulevard Ramayana, jalan utama dari pintu gerbang utama menuju Kantor Administrasi Kebun Raya Bali, menampilkan pemandangan eksotis, dan wacana sastra lama tadi.

Ada deretan sembilan patung, sekuen dari epos Ramayana yang amat populer di Indonesia. Yakni, patung Rama dan Shinta, Rama memanah kijang, Sinta diculik Rahwana, Jatayu melawan Rahwana, Jatayu Gugur, Anoman Duta, Pertempuran Rahwana, Rahwana Gugur, dan Shinta Obong. Kiri-kanan patung tadi, deretan bunga kana merah darah, dan di kejauhan lebatnya hutan.

Di kebun raya, ada dua pura dan satu situs, yaitu Pura Batumeringgit dan Terataibang di sisi barat daya kompleks, serta situs kuno patung singa mendekam yang berlumut di sisi timur Museum Etnobotani.

Pura Batumeringgit dipenuhi aneka patung yang disucikan di bagian belakang kompleks pura Hindu. Namun, di sisi kiri kompleks, terdapat bangunan konco atau kelenteng Buddhis. Pura Terataibang, letaknya di bawah sebuah lereng di tengah hutan, sumber keluarnya belerang. Secara rutin, pada hari keagamaan, aktivitas persembahyangan dilaksanakan di kedua pura itu.

Pemandangan khas tersaji ketika kita masuk ke tengah hutan, sekitar 300 meter dari jalan aspal. Patung singa besar dalam posisi mendekam. Lumut menyelimuti seluruh bagian patung. Patung itu dikeramatkan baik oleh warga sekitar ataupun pengelola kebun raya itu. Menurut cerita tutur, patung singa besar itu dibuat oleh pengelana dari India di masa silam. Aneka banten (sesaji) terlihat di depan patung itu, awal Desember lalu. ”Kami percaya patung itu sebagai satu situs bersejarah,” kata Lugrayasa dan Ida Bagus Ketut Arinasa, Koordinator Peneliti Bambu KR Bedugul.

Semula KR Bali dengan ciri khas koleksi tanaman dataran tinggi kering/lembab ini didirikan dengan tujuan untuk mengoleksi tumbuhan berdaun jarum (Gymnospermae), salah satunya jenis cemara dari seluruh dunia. Namun, kemudian berkembang menjadi kawasan konservasi eks-situ tumbuhan pegunungan tropika kawasan timur Indonesia, yakni dari Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Berkat kerja keras, koleksi tumbuhan KR Bali saat ini mencapai 2.171 jenis, dan 18.494 spesimen tanaman.

Kebun raya ini memiliki koleksi khusus meliputi anggrek, kaktus, tumbuhan paku, tumbuhan air, tumbuhan obat, tumbuhan upacara adat, mawar, serta begonia.

Taman Panca Yadnya

Harmoni yang elok antara KR Bedugul dan budaya Hindu Bali ditunjukkan dengan keberadaan Taman Panca Yadnya seluas 5,53 ha, dengan koleksi lebih dari 218 jenis tumbuhan dari berbagai kabupaten di Bali. Tumbuhan yang dikoleksi merupakan tanaman yang biasa dipakai sebagai bahan bangunan, hiasan pura, sesaji, dan kegiatan upacara keagamaan lainnya.

Keunikan KR Bedugul tak lepas dari keberadaan Taman Usada (Sansekerta Ausadhi: tumbuhan yang mengandung khasiat obat). Area taman seluas 1.600 meter persegi itu dikhususkan lebih dari 300 tumbuhan yang berkhasiat dalam pengobatan tradisional Bali.

Pengetahuan pengobatan tradisional itu berasal dari India yang menyebar ke Bali seiring dengan perkembangan agama Hindu pada abad ke-5 M. Yang kemudian diwariskan secara turun-temurun melalui lontar usada (manuskrip sistem pengobatan, bahan obat dan cara pengobatan tradisional yang ditulis di atas daun lontar/siwalan.

”Yang juga membedakan, Kebun Raya Bali adalah kebun raya yang pertama didirikan putra bangsa dan juga putra Bali setelah RI merdeka. Kebun raya lain berdiri di masa kolonial Belanda,” kata Lugrayasa. (hrd)***

Source : Kompas, Sabtu, 9 Januari 2010 | 03:50 WIB

Kapal Ady Gil Dibiarkan Tenggelam

LINGKUNGAN

Kapal Ady Gil Dibiarkan Tenggelam

CANBERRA, Jumat - Para pencinta lingkungan meninggalkan kapal yang rusak akibat bertabrakan dengan para penangkap paus dari Jepang. Para pencinta lingkungan tersebut melakukan kampanye agresif untuk menghentikan perburuan paus di tengah kekhawatiran kontaminasi air di kawasan Antartika.

Haluan kapal milik Masyarakat Penjaga Laut, Ady Gil, terpangkas pada Rabu (6/1) karena bertabrakan dengan kapal penangkap paus Jepang yang lebih besar. Tabrakan itu merupakan yang paling serius yang terjadi di perairan beku.

Penangkap paus itu, Shonan Maru No 2, sama sekali tidak terlihat rusak. Kedua belah pihak saling menyalahkan atas kecelakaan itu yang terjadi karena Ady Gil terlalu mepet dan mengganggu kapal Jepang itu.

Jepang membunuh sekitar 1.200 ekor paus dalam satu tahun di Antartika. Penangkapan itu berada di bawah program ilmu pengetahuan yang diperbolehkan oleh Komisi Paus Internasional walaupun aktivitas itu lebih merupakan kegiatan komersial.

Para pengkritik mengatakan, program tersebut merupakan penangkapan paus ilegal dan Masyarakat Penjaga Laut mengirimkan kapal mereka ke Antartika setiap musim untuk berupaya menghentikan perburuan tersebut. Upaya itu difilmkan di program televisi ”Animal Planet” dengan judul Perang Paus.

Di tengah kekhawatiran kapal Ady Gil akan tenggelam, kapal milik Masyarakat Penjaga Laut kedua, Bob Barker, mulai diluncurkan di dekat pusat riset Dumont d'Urville, Perancis, yang berjarak sekitar 300 kilometer.

Akan tetapi, tali penolong gagal dikaitkan sehingga Ady Gil ditinggalkan tenggelam begitu saja. Bob Barker pun meneruskan perjuangan menyusul kapal Jepang itu. Demikian dikatakan pemimpin Bob Barker, Peter Hammarsedt. Kapal itu diberi nama menurut pembawa acara di televisi yang menyumbangkan dana sebesar 5 juta dollar AS untuk membeli Bob Barker.

”Kami perkirakan kapal itu (Ady Gil) akan tenggelam dalam dua atau tiga jam. Kami memutuskan untuk mengejar kapal Jepang itu sekali lagi,” ujar Hammarsedt. (AP/joe)

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

suraryo @ Sabtu, 9 Januari 2010 | 08:06 WIB
Syukurlah ada yang peduli terhadap kehidupan satwa laut. Jepang sebagai negara maju semestinya tidak mengijinkan warganya berburu paus.

Source : Kompas, Sabtu, 9 Januari 2010 | 03:53 WIB

Begonia dan Bambu Kebanggaan Mendunia

Rumah Kaca Kaktus Bedugul

Salah satu koleksi Rumah Kaca Kaktus di kompleks Kebun Raya Bedugul, Tabanan, Bali. Ida Bagus Ketut Arinasa, koordinator peneliti bambu Kebun Raya Bedugul, saat memberi penjelasan kepada pengunjung, akhir Desember 2009.(Foto : Kompas/Hariadi Saptono)***

KOLEKSI KEBUN RAYA BEDUGUL

Begonia dan Bambu Kebanggaan Mendunia

Oleh Samuel Oktora dan Benny Dwi Koestanto

Memasuki tahun 2010, Kebun Raya Eka Karya Bali di Candikuning, Baturiti, Tabanan, Bali, genap berusia 51 tahun. Suatu perjalanan membanggakan karena prestasinya dalam mengembangkan sejumlah koleksi tanaman yang mendunia.

Namun, kebun raya yang akrab disebut Kebun Raya Bedugul dan didirikan 15 Juli 1959 ini ternyata merupakan kebun raya paling muda dibandingkan dengan tiga kebun raya lain di Indonesia, yaitu Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas yang terletak di kaki Gunung Gede-Pangrango, Jawa Barat, serta Kebun Raya Purwodadi di jalan raya antara Surabaya dan Malang, Jawa Timur.

Meski demikian, Kebun Raya Bedugul yang juga sebagai kebun raya pertama yang didirikan oleh putra bangsa setelah Indonesia merdeka itu mampu menghasilkan banyak karya yang tak mengecewakan.

Semula Kebun Raya Bali dengan ciri khas koleksi tanaman dataran tinggi kering didirikan dengan tujuan untuk mengoleksi tumbuhan berdaun jarum (Gymnospermae), salah satunya jenis cemara dari seluruh dunia.

Namun, kemudian berkembang menjadi kawasan konservasi ex-situ tumbuhan pegunungan tropika kawasan timur Indonesia, yakni dari Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Berkat kerja keras karyawan Kebun Raya Bali, koleksi tumbuhan Kebun Raya Bali saat ini mencapai 2.171 jenis dan 18.494 spesimen tanaman.

Tiap tahunnya koleksi di hutan penelitian dan pendidikan ini terus bertambah, berasal dari hasil eksplorasi, pertukaran biji antarkebun raya, perbanyakan tanaman, ataupun dari pembibitan komersial.

Kebun raya ini memiliki koleksi khusus meliputi anggrek, kaktus, tumbuhan paku, tumbuhan air, tumbuhan obat, tumbuhan upacara adat, mawar, serta begonia. Bahkan, untuk begonia baik yang endemik dan eksotik dari luar negeri merupakan koleksi unggulan.

Kebun raya ini merupakan salah satu kebun raya yang memiliki koleksi begonia terbesar di dunia, yang saat ini mempunyai lebih dari 200 jenis. Kebun Raya Bali juga menjadi pusat koleksi dan pengembangan begonia di Indonesia.

”Terkait budidaya begonia, peneliti dari Kebun Raya Bali, Hartutiningsih Siregar, baru-baru ini, tanggal 29 Desember 2009, meraih juara pertama Lomba Penelitian Kegiatan Tematik di lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bahkan, ada satu tanaman begonia yang diberi nama Begonia hartutiningsih siregar karena tanaman tersebut hasil silangan yang dilakukan oleh yang bersangkutan,” kata Kepala Kebun Raya Eka Karya Bali I Nyoman Lugrayasa.

Kawasan Kebun Raya Bali dengan suhu 18-20 derajat celsius berada pada ketinggian 1.250-1.450 meter di atas permukaan laut. Letaknya sekitar 60 kilometer (km) dari Denpasar dan dari Kuta 80 km ke arah Singaraja.

Taman yang unik

Hari Senin, 7 Desember 2009, dipandu koordinator peneliti bambu Kebun Raya Eka Karya Bali, Ida Bagus Ketut Arinasa, butuh waktu hampir seharian untuk mengitari sejumlah obyek di kebun raya seluas 157,7 hektar (ha) itu. Fajar hampir tenggelam saat pengamatan berakhir sekitar pukul 09.00. Namun, kepenatan tak terlalu membebani dengan adanya kesejukan dan keteduhan pepohonan rindang, aneka warna tumbuhan berbunga, juga koleksi khusus yang ditempatkan dalam rumah-rumah kaca dengan bentuk dan gaya pertamanan yang unik.

Salah satunya di Taman Begonia seluas 692,35 meter persegi. Di dalam taman itu terdapat jenis yang menarik, seperti Begonia acetosa yang mempunyai daun indah berwarna hijau dan permukaan bawah berwarna merah menyala dengan tekstur lembut seperti beludru.

Tanaman begonia yang lebih dikenal sebagai tanaman hias ini diramalkan akan menjadi salah satu tren masa depan. Daunnya yang tidak simetris, dengan teksturnya menampilkan bentuk-bentuk unik, misalnya lembut seperti beludru, kasar, berbingkul, mengerut, dan keriting, serta warna yang menarik, membuatnya mulai diminati banyak kalangan.

”Kebun Raya Bali juga mempunyai keunikan yang tidak dimiliki kebun raya lainnya di Indonesia, yang secara khusus mengadopsi budaya setempat, terutama untuk melestarikan tanaman yang biasa dipakai dalam upacara agama Hindu maupun tanaman untuk pengobatan tradisional Bali,” tutur Nyoman.

Para peneliti atau ahli botani asing juga mengagumi konsep yang dikembangkan Kebun Raya Bali lewat konservasi tumbuhan. Namun, sekaligus juga mengapresiasi budaya Hindu Bali lewat perbanyakan bibit tumbuhan untuk upacara agama Hindu ataupun pengobatan tradisional Bali.

Hal itu ditunjukkan dengan keberadaan Taman Panca Yadnya seluas 5,53 hektar, yang memiliki koleksi lebih dari 218 jenis tumbuhan dari beberapa kabupaten di Bali. Tumbuhan yang dikoleksi merupakan tanaman yang biasa dipakai sebagai hiasan pura, sesaji, ataupun bahan bangunan suci, dan kegiatan upacara keagamaan lainnya.

Di Bali tak sembarangan kayu yang digunakan untuk bangunan pura. Sebagai contoh jenis yang biasa dipakai adalah kayu perabu, antara lain cempaka kuning (Michelia champaca L), dan majegau (Dysoxylum caulostachyum) yang juga merupakan maskot flora Provinsi Bali. Begitu pula kayu nangka.

Keunikan yang lain tak lepas dari keberadaan Taman Usada, dengan koleksi lebih dari 300 tumbuhan yang berkhasiat dalam pengobatan tradisional Bali. Pengetahuan pengobatan tradisional tersebut berasal dari India yang menyebar ke Bali seiring dengan perkembangan agama Hindu pada abad ke-5 Masehi. Yang kemudian diwariskan secara turun-temurun melalui lontar usada {manuskrip tentang sistem pengobatan, bahan obat dan cara pengobatan tradisional yang ditulis di atas daun lontar/siwalan (Borassus flabellifer)}.

Kebun raya ini juga memiliki fasilitas Herbarium Hortus Botanicus Baliense (THBB), yang menyimpan koleksi kering dan basah, juga biji yang berasal dari tanaman koleksi kebun maupun hasil eksplorasi. Koleksi THBB lebih dari 10.000 spesimen dari lumut sampai tumbuhan berbunga.

Hingga kini Kebun Raya Bali memperbanyak tanaman endemik Bali yang nyaris punah, antara lain paku kidang (Dicksonia blumei), yang di Sumatera dikenal berkhasiat untuk mengatasi pendarahan pada ibu melahirkan.

Selain itu, cemara pandak (Podocarpus imbricatus blume) dan nyabah, satu tanaman jenis baru sejenis palem yang diberi nama Pinanga arinasae JR Witono. Tanaman itu ditemukan pertama kali oleh Ida Bagus Ketut Arinasa tahun 1976 dan kemudian diidentifikasi oleh Arinasa bersama peneliti Kebun Raya Bogor, Joko Ridho Witono, tahun 2000.

”Fokus Kebun Raya Bali terutama pada tanaman endemik Bali langka, seperti Pinanga arinasae yang hanya terdapat di kawasan Gunung Mesehe, Bali barat, dan Gunung Batukau. Namun, kini kondisinya tidak mengkhawatirkan karena perbanyakan telah dilakukan hingga ribuan bibit. Dan kami kami juga melakukan reintroduksi di daerah tanaman endemik tersebut,” ujar Arinasa.

Daya tarik bambu

Banyaknya koleksi Kebun Raya Bali yang unik juga menarik perhatian peneliti asing, seperti dari Amerika Serikat, Eropa, dan Australia, khususnya pada tumbuhan bambu.

Dari lebih kurang 1.000 jenis bambu di dunia, sekitar 150 jenis bambu terdapat di Indonesia, dan Kebun Raya Bali memiliki 62 jenis bambu, enam jenis di antaranya merupakan bambu jenis baru yang ditemukan di Bali.

Keenam jenis bambu itu adalah jajang aya (Gigantochloa aya), jajang taluh (Gigantochloa taluh), jajang tiing liplip (Dinochloa sepang), jajang tiing ooh (Bambusa ooh), jajang tiing Bali (Gigantochloa baliana), dan jajang wuluh kedampal (Schizoseachyum casthanium). ”Indonesia begitu kaya dengan keanekaragaman hayati, termasuk jenis flora. Seperti bambu telah menarik perhatian peneliti dari Eropa sebab di sana tak banyak bambu sehingga mereka pun belajar di sini menyangkut ekologi, sistem budidaya, dan pemanfaatan bambu ini,” katanya.

Arinasa juga menjelaskan, dalam upaya memperkaya koleksi, tiap tahun selalu ada pertukaran benih dan tumbuhan antara Kebun Raya Bali dan kebun raya di luar negeri. Sebagai contoh yang sudah berjalan, Australia pernah meminta tanaman langka, kepelan (Manglitia glouca), sedangkan Kebun Raya Bali meminta benih Eucalyptus.

KR Bali juga menjadi sarana studi, terutama bagi pelajar SMK yang mengikuti magang sehubungan dengan tugas akhirnya ataupun dari perguruan tinggi yang melakukan kuliah kerja lapangan. ”SMK yang rutin tiap tahun magang di sini dari Kabupaten Jembarana, Badung, maupun Sumba Barat (Nusa Tenggara Timur). Sementara dari perguruan tinggi biasanya Universitas Udayana,” kata Arinasa. (HRD)***

Source : Kompas, Sabtu, 9 Januari 2010 | 03:06 WIB

TELUK JAKARTA

Muara Angke

Petugas kebersihan melintasi tumpukan sampah di atas kapal pengangkut sampah yang sandar di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (21/11). Sampah-sampah tersebut merupakan sampah Teluk Jakarta yang berhasil diangkat. Dalam sehari tidak kurang dari tiga truk sampah berhasil diangkat dari laut.(Foto : Kompas/Wisnu Widiantoro)***

TELUK JAKARTA

Inovasi Bioremediasi Laut

Oleh Elvi Yetti

Perairan Teluk Jakarta saat ini ibarat ”kolam sampah raksasa”. Sampah tak sekadar menumpuk di bibir pantai, tetapi juga memenuhi perairan. Warna laut pun berubah kotor. Pantai yang semestinya bersih dengan air berwarna biro jernih tak berlaku di Teluk Jakarta.

Teluk yang membentang dari Pantai Kamal di ujung barat Jakarta hingga Marunda di sebelah timur Jakarta ini kondisinya memprihatinkan. Selain air laut sangat kotor, juga terkadang mengeluarkan bau menyengat.

Teluk Jakarta sebenarnya dikenal memiliki keanekaragaman sumber daya alam yang merupakan aset pembangunan, baik sumber daya alam terpulihkan (renewable resources) maupun sumber daya alam tak terpulihkan (nonrenewable resources). Namun, di sisi lain berbagai laporan tentang pencemaran di pesisir Teluk Jakarta selalu menjadi sorotan.

Pencemaran di Teluk Jakarta bukan lagi berita baru. Ada beberapa informasi yang menguatkan hal ini. Contohnya, di Teluk Jakarta pada tahun 1974 terjadi ledakan populasi alga yang disebut red tide yang dapat menyebabkan ikan mati.

Kemudian, Kompas edisi Rabu, 8 Agustus 2001, mengeluarkan tulisan berjudul, Teluk Jakarta Tercemar, Nelayan Tak Bisa Melaut. Penyebab tercemarnya air laut Teluk Jakarta adalah limbah kimia yang diduga dibuang oleh pabrik-pabrik pengawetan kayu di sekitar Marunda dan Kalibaru. Kejadian ini menyebabkan air berwarna merah kecoklatan serta ikan, kepiting, udang, bahkan kerang hijau mati.

Hasil penelitian Akbar (2002), menunjukkan kadar Zn dan Pb di Teluk Jakarta telah melampaui ambang batas pada kerang hijau yang dibudidayakan di perairan Muara Kamal, Teluk Jakarta.

Selanjutnya pada tahun 2004 terjadi blooming dari fitoplankton di Teluk Jakarta yang menyebabkan ikan-ikan mati.

Mengutip Kementerian Negara Lingkungan Hidup, sekitar 1.500 meter kubik sampah Jakarta per hari masuk ke Teluk Jakarta melalui sungai.

Mengatasi pencemaran

Kemajuan bidang bioteknologi saat ini membuka harapan untuk mengatasi masalah pencemaran secara ramah lingkungan. Dalam bioteknologi dikenal teknologi bioremediasi, yaitu suatu proses yang melibatkan mikroorganisme, fungi, tanaman hijau ataupun enzim yang dihasilkannya untuk mengembalikan kondisi lingkungan yang telah diubah oleh kontaminan menjadi seperti kondisi sebelumnya.

Kontaminan yang dimaksud adalah bahan pencemar atau limbah yang masuk ke dalam perairan. Kelebihan teknologi ini ditinjau dari aspek komersial, relatif lebih ramah lingkungan, biaya penanganan yang relatif lebih murah, dan bersifat fleksibel.

Ada empat teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi. Pertama, stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi pH, dan sebagainya. Kedua, inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus. Ketiga, penerapan immobilized enzymes, dan, keempat, penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar.

Bila diteliti, pencemaran Teluk Jakarta disebabkan oleh berbagai jenis bahan pencemar, antara lain logam berat, senyawa organik yang tergolong persistent organic pollutant (POP) dan hidrokarbon (minyak).

Beberapa mikroorganisme telah diketahui memiliki kemampuan mendegradasi bahan-bahan ini. Salah satu bakteri yang populer dalam mengubah senyawa berbahaya menjadi tidak berbahaya adalah Pseudomonas sp. Dengan kemajuan teknologi rekayasa genetika memungkinkan dihasilkan beberapa bakteri yang spesifik menangani limbah kimia tertentu sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan.

Beberapa bakteri sudah dikenal dapat meremediasi berbagai jenis limbah, seperti bakteri Sulfurospirillum Barnesii. Selanjutnya beberapa mikroorganisme, seperti Sphingomonas, Pseudomonas, Stenotrophomonas, Ochrobactrum, Alcaligenes, Pandorea, Labrys, dan Fusarium, dikenal dapat mendegradasi limbah semacam Polisiklik Aromatik Hidrokarbon.

Dengan kekayaan potensi mikroorganisme di Indonesia, kita pun dapat berharap pencemaran Teluk Jakarta dapat diatasi melalui teknologi bioremediasi.

Elvi Yetti ,

Peneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI

Sabtu, 9 Januari 2010 | 03:51 WIB

Taman Rimbo Mulai Berbenah

Taman Rimbo Mulai Berbenah

Citra Kebun Binatang Taman Rimbo Jambi perlahan-lahan mulai membaik. Kebun binatang seluas tiga hektar itu tidak lagi dianggap sebagai kawasan yang jorok dan tak terawat. Warga kini mulai berdatangan seiring pembenahan yang dilakukan Dinas Peternakan Provinsi Jambi.

”Beberapa tahun lalu saya tidak berani datang ke Taman Rimbo. Selain sampah di mana-mana, kawasan ini dikuasai preman yang suka memeras,” tutur Tony (41), warga Kota Baru, yang datang ke Taman Rimbo bersama keponakannya, Hanny (6), Kamis (7/1).

Selain menantikan kedatangan sepasang harimau sumatera (Panthera tigris sumatrensis) dan lima pasang rusa tutul (Axis axis) dari Kebun Binatang Ragunan Jakarta, Tony mengantar sang kemenakan yang ingin melihat satwa sambil bermain. Saat Hanny bermain ayunan dan jungkat-jungkit, Tony beristirahat di tempat duduk seperti halte yang disediakan pengelola.

Di depan tempat duduk yang dipilih Tony terhampar taman dengan bunga berwarna-warni. ”Sekarang Taman Rimbo sudah tertata rapi. Saya senang karena memiliki tambahan tempat berlibur dengan keluarga,” ungkap ayah tiga putra ini. Dia juga mengaku merasa aman karena Taman Rimbo sudah dikelilingi pagar dan dijaga sejumlah petugas keamanan.

Selain Tony, beberapa keluarga tampak mengunjungi Taman Rimbo. Sambil menggendong sang buah hati, Widodo (38) menikmati ”pertunjukan” empat beruang madu yang berlarian ke sana kemari. Dia pun sempat meminta sang istri, Herawati (34), memotret dirinya di depan keempat ekor satwa tersebut.

”Meskipun koleksi satwanya masih sedikit, iktikad baik pemerintah untuk mengembangkan Taman Rimbo perlu didukung,” kata lelaki yang mempunyai usaha jual-beli sepeda motor ini.

Kendati sudah dibuka sejak tahun 1973, perhatian terhadap Taman Rimbo sebenarnya baru ditunjukkan pemerintah mulai tahun 2008. Kala itu, Dinas Peternakan Provinsi Jambi memusatkan Taman Rimbo di atas tanah seluas tiga hektar. Sejumlah kandang dibangun guna menampung 118 ekor satwa dari tiga jenis hewan, yakni mamalia, reptil, dan aves.

Meskipun sudah dipagari berkeliling, pengelolaan dan pengawasan Taman Rimbo belum optimal. Petugas keamanan hanya berjaga setengah hari dan penerangan di setiap kandang belum ada.

Akibatnya, seseorang bernama Samsudin berhasil meracuni, menguliti, dan membawa kabur harimau sumatera betina, Sheila, dari kandangnya pada Agustus 2009. ”Tak lama setelah kejadian itu, Dinas Peternakan menetapkan Taman Rimbo menjadi unit pelaksana teknis (UPT) dan mengangkat saya sebagai kepala kebun binatang,” tutur Adrianis.

Dengan menjadi UPT, Taman Rimbo memiliki anggaran untuk pembenahan. Tahun ini, pemerintah mengalokasikan dana Rp 1,3 miliar untuk membangun sejumlah fasilitas.

Menurut Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi Didy Wurjanto, jumlah kandang yang menggunakan kerangkeng besi akan dikurangi dan digantikan dengan kandang berkonsep alam terbuka. Lahan yang masih kosong juga akan diprioritaskan untuk pembuatan taman.

”Konsep alam terbuka dan taman perlu dikedepankan agar pengunjung tidak memandang satwa sebagai obyek tontonan semata, melainkan bagian dari kehidupan mereka,” katanya. (RIZ)***

Source : Kompas, Sabtu, 9 Januari 2010 | 03:44 WIB

 

TRANSLATE/TERJEMAH BAHASA

My Blog List

Site Info

Followers

LINGKUNGAN GLOBAL Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template