YANG HOT KLIK DI SINI

Rabu, 10 November 2010

Erupsi Merapi Makin Dekat

Erupsi Merapi Makin Dekat

Para pengungsi yang sebagian besar berusia lanjut dan anak-anak lelap di barak pengungsian Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (25/10) malam. Status aktivitas Gunung Merapi saat ini meningkat dari Siaga menjadi Awas, terhitung sejak Senin (25/10) pukul 06.00. (KOMPAS/WAWAN H PRABOWO)***

YOGYAKARTA, Lingkungan Global - Erupsi Gunung Merapi tinggal menunggu waktu dan diperkirakan erupsi itu bersifat eksplosif setelah statusnya naik menjadi Awas sejak Senin (25/10) pukul 06.00.

Peningkatan aktivitas vulkanik empat hari terakhir menandakan gejala erupsi makin dekat.

Prakiraan erupsi yang bersifat eksplosif berbeda dari pola efusif (aliran) yang lebih kerap terjadi atas gunung api dengan ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut itu.

”Tidak ada alasan statusnya ditahan-tahan,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Surono di Yogyakarta, Senin.

Seiring peningkatan status Merapi dari Siaga menjadi Awas, kawasan wisata di lereng Merapi, yakni Kaliurang, Kaliadem, Kalikuning, dan Taman Nasional Gunung Merapi, Senin, dinyatakan tertutup. Sementara itu, evakuasi terhadap penduduk mulai dilakukan di wilayah Merapi yang masuk Jawa Tengah, dan di wilayah DI Yogyakarta.

Peningkatan status dari Siaga ke Awas didasarkan data visual dan instrumental yang meningkat tajam selama empat hari terakhir. Sebelum tanggal 21 Oktober, saat status dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga, jumlah guguran material di bawah 100 kali per hari. Sejak 23 Oktober, guguran mencapai di atas 180 kali per hari.

Deformasi puncak yang hingga 21 Oktober hanya 10,5 sentimeter per hari kini mencapai 42 sentimeter per hari. Kondisi itu menunjukkan magma dari perut gunung sudah semakin mendekati puncak. ”Dari segi energi kegempaan, hal ini sudah jauh melampaui saat erupsi tahun 2006,” kata Surono.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo menambahkan, laju deformasi terfokus di sekitar kubah lava erupsi tahun 1911. Kubah itu rapuh karena usianya mencapai 100 tahun. ”Namun, kami belum tahu erupsi akan bersifat eksplosif (letusan) atau efusif (aliran). Masih 50:50,” ujarnya.

Ahli vulkanologi dari Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengatakan, berdasarkan gejalanya, erupsi Merapi saat ini diperkirakan bertipe vulkano murni, yaitu erupsi eksplosif dengan pola letusan yang menyemburkan material ke berbagai arah.

Lava meluncur

Sekitar pukul 13.01 terlihat luncuran lava ke arah barat, yaitu ke Kali Senowo, dan Kali Lamat di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, semuanya di Jawa Tengah. ”Pada kejadian sebelumnya, luncuran lava selalu mengarah ke selatan, ke arah Kali Gendol,” kata Repiyo, petugas Pos Pengamatan Ngepos, Srumbung, Magelang.

Repiyo mengatakan, lava tersebut bukan merupakan guguran lava pijar. Luncuran lava sepanjang 2 kilometer itu berlangsung selama dua menit. Guguran lava ini menimbulkan gumpalan asap putih dari atas gunung, yang terlihat dari Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung. Hal ini sempat membuat panik penduduk yang mengira guguran lava itu gumpalan awan panas (wedhus gembel).

Di Klaten, warga Dusun Karangbutan, Desa Sidorejo, yang berada di daerah aliran Kali Woro, merasakan meningkatnya suhu udara.

Penduduk Kabupaten Boyolali, Jateng, di daerah Selo, sejak dua hari lalu juga melihat belasan ekor kera dan burung turun dari hutan Merapi ke kebun-kebun penduduk.

Mengungsi

Subandriyo menjelaskan, sekitar 40.000 warga di kawasan rawan bencana III (radius 10 kilometer) sekeliling Merapi kemarin mulai diungsikan, terutama anak-anak dan orang lanjut usia.

Mereka berasal dari 12 desa yang tersebar di Sleman (DIY, 7 desa), Magelang (Jateng, 2 desa), dan Klaten (Jateng, 3 desa). Evakuasi dilakukan di sisi selatan dan barat daya Merapi yang mengalami deformasi berupa penggembungan, dan jadi arah guguran lava.

Pemerintah Kabupaten Magelang, Senin, mulai mengungsikan 2.260 warga di enam dusun di Kecamatan Srumbung ke titik kumpul di Balai Desa Srumbung. Meskipun begitu, hingga petang kemarin Pemerintah Kabupaten Klaten belum mengevakuasi warga Desa Balerante, Tegalmulyo, dan Sidorejo di Kecamatan Kemalang.

Di DIY, pengungsian dilakukan di tujuh barak pengungsian di Glagaharjo, Kepuharjo, Umbulharjo (Kecamatan Cangkringan); Hargobinangun dan Purwobinangun (Pakem); serta Girikerto dan Wonokerto (Turi).

Jika erupsi terjadi, diperkirakan lava bisa mengalir ke tujuh sungai yang hulunya di Merapi.

Untuk mengecek persiapan tempat penampungan para pengungsi bilamana terjadi erupsi Gunung Merapi di perbatasan Provinsi DIY dan Jateng, Wakil Presiden Boediono, Selasa siang ini, akan meninjau lokasi persiapan penampungan pengungsi di Sleman. Wapres juga akan meninjau Pos Pengamatan Merapi di Kaliurang, Sleman.

Demikian diungkapkan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono di Jakarta. Sore harinya, Agung langsung mengecek kesiapan penanganan Merapi di Sleman.

Juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan, mengaku masih merasa kerasan tinggal di Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, yang berjarak sekitar 4 kilometer dari puncak Merapi. Mbah Maridjan yang ditanyai banyak orang enggan berkomentar banyak, kecuali berharap dan berdoa.(GAL/EGI/ILO/PRA/ENG/IRE/HAR)***

Source : Kompas, Selasa, 26 Oktober 2010 | 02:56 WIB

Ada 10 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • anton sulistiono

Selasa, 26 Oktober 2010 | 19:24 WIB

Semoga Alloh senantiasa melindungi kita semua amiiin.

Balas tanggapan

  • Hussein Benhadi

Selasa, 26 Oktober 2010 | 18:58 WIB

semoga saja Pak Beye tidak pelesiran ke luar negeri di saat masyarakat tertimpa musibai

Balas tanggapan

  • Bayu Wiratsongko

Selasa, 26 Oktober 2010 | 15:52 WIB

Kalo dilihat dari sudut mistis, letusan tidak akan mengarah ke arah selatan. Namun semua kembali kepada masing-masing orang.

Balas tanggapan

  • Cah Kenthis

Selasa, 26 Oktober 2010 | 15:26 WIB

berdoa , berusaha , pasrah !

Balas tanggapan

  • sulistiyono nogoprakoso

Selasa, 26 Oktober 2010 | 13:02 WIB

berdoa dan terus berdoalah mendekatkan diri kepada sang Khaliq........ agar kita senantiasa diberikan perlindungan dari segala ancaman bencana........... mbah marijan .......... laksanakan tugasmu sebagaimana yang telah kerap kali engkau lakukan ketika merapi mulai bergejolak.........

Balas tanggapan

0 komentar:

Posting Komentar

 

TRANSLATE/TERJEMAH BAHASA

My Blog List

Site Info

Followers

LINGKUNGAN GLOBAL Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template