YANG HOT KLIK DI SINI

Kamis, 24 Desember 2009

Isu Laut Menghilang dari Teks Visi Bersama

PERUBAHAN IKLIM

Isu Laut Menghilang dari Teks Visi Bersama

KOPENHAGEN - Isu kelautan yang sebelumnya banyak diadopsi dalam belasan paragraf draf pembahasan konferensi, dalam perkembangannya, menghilang dari teks usulan pada bagian visi bersama.

Draf usulan baru yang kini menjadi pegangan para negosiator menghilangkan pengakuan kerentanan ekosistem laut dan pesisir pada visi bersama.

Draf pembahasan justru memunculkan pengakuan kawasan pegunungan sebagai salah kawasan rentan dampak perubahan iklim. Hal itu mengadopsi kepentingan negara-negara, seperti Nepal dan Tibet, dengan pegunungan atau bongkahan besar es (gletser) yang terus meleleh.

”Kami akan terus berupaya agar dimensi kelautan diakui dalam draf kesepakatan bersama. Itu penting bagi Indonesia,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dalam jumpa pers di Bella Center, Senin (14/12) sore waktu Kopenhagen (Senin tengah malam WIB).

Indonesia berjuang

Penghilangan teks dalam draf masih diperjuangkan delegasi RI agar dimasukkan lagi. Indonesia merasa perlu dengan pengadopsian isu kelautan dalam draf kesepakatan. Selain luas laut Indonesia yang mencapai 2/3 total luas kedaulatan, puluhan juta jiwa tinggal di kawasan pesisir.

Indonesia, yang sukses menyelenggarakan Konferensi Kelautan Sedunia (WOC) di Manado, Sulawesi Utara, pada Mei lalu, juga merasa wajib mendorong pengakuan itu. Pertemuan yang dihadiri delegasi dari 87 negara tersebut menghasilkan Deklarasi Manado, yang di antaranya berisi komitmen mendorong isu kelautan diadopsi dalam negosiasi iklim.

Di Kopenhagen, Dana untuk Lingkungan Global (GEF) mengumumkan komitmen pendanaan sebesar 63 juta dollar AS bagi Inisiatif Segitiga Terumbu Karang (CTI), yang meliputi enam negara, termasuk Indonesia.

Kawasan Segitiga Terumbu Karang merupakan penyuplai penting produk laut bagi ratusan juta manusia. Kini laut terancam oleh proses pengasaman.

Pengasaman laut yang diakibatkan meningkatnya konsentrasi karbon dioksida di atmosfer berakibat fatal bagi ekosistem laut. Karbon dioksida yang banyak diserap laut menyebabkan kematian massal terumbu karang, yang akan berdampak langsung pada produktivitas biota laut.

Menurut Hendra Yusran Siry, negosiator RI bidang kelautan, isu kelautan sudah diakui dalam mitigasi, adaptasi, transfer teknologi, dan pembangunan kapasitas. ”Kami khawatir seluruh pencapaian di mitigasi dan lainnya menjadi tidak berarti karena di visi bersama tidak tercantum,” katanya. Delegasi RI sudah memasukkan lagi dalam usulan draf teks baru di bawah Kelompok Kerja Adhoc Rencana Kerja Sama Jangka Panjang (LCA).

Ketiadaan pengakuan kerentanan laut dan pesisir dalam visi bersama bertentangan dengan kesepakatan tahun 1992, yang tegas diadopsi dalam Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC). Di sana diakui peran penting ekosistem laut dan pesisir sebagai penyerap dan ”gudang” karbon, yang sewaktu-waktu juga dapat mengemisikan ke atmosfer.

Soal prioritas

Indonesia bersama 12 negara lain sepakat mendorong isu kelautan diadopsi dalam kesepakatan konferensi. Kelompok negara tersebut dibentuk pada pertemuan membahas iklim di Bonn, Jerman, tahun ini.

Namun, kebersamaan itu dalam negosiasi di Kopenhagen kurang tecermin. ”Bukan berarti tidak ada lagi, tetapi mungkin soal prioritas setiap negara,” kata Hendra. Hal tersebut tidak melemahkan niat Indonesia tetap memasukkan isu itu dalam draf kesepakatan. Data Konvensi Keanekaragaman Hayati, yang dirilis di Kopenhagen, memperkirakan, keasaman laut akan meningkat 150 persen pada tahun 2050, atau 100 kali lebih cepat dibandingkan dengan pengalaman selama 20 juta tahun. Dampaknya, rantai kehidupan biota akan terganggu sehingga mengancam suplai makanan bagi manusia. (GSA)***

Source : Kompas, Rabu, 16 Desember 2009 | 05:36 WIB

10 Dollar AS Dapat Selamatkan Hutan(?)

PERDAGANGAN KARBON

10 Dollar AS Dapat Selamatkan Hutan(?)

Harga karbon sekitar 10 dollar AS per ton diduga dapat memberikan insentif cukup untuk menahan emisi gas rumah kaca dari perubahan fungsi lahan di Indonesia dan Brasil.

Demikian termuat dalam laporan International Union for Conservation of Nature yang dikeluarkan Selasa (15/12) di Kopenhagen, Denmark.

Perusakan hutan, antara lain dari pembalakan atau perubahan fungsi dari hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan peternakan, menyebabkan hilangnya hutan yang berfungsi menyerap gas CO—salah satu gas rumah kaca (GRK) utama.

Skema pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (reducing emission from deforestation and forest degradation/REDD) bertujuan ”memberi harga” pada karbon yang bisa diserap hutan dan yang bisa ditahan jika tidak terjadi penebangan hutan.

Dalam laporan itu disebutkan, REDD adalah cara efektif secara pendanaan untuk menahan emisi GRK. Para investor mempertimbangkan harga karbon antara 2 dollar AS dan 10 dollar AS per ton. Harga itu, antara lain, mempertimbangkan besar kompensasi bagi pemilik lahan dan pemerintah karena tidak menebang hutan, jenis hutan, nilai fungsi lain lahan, dan estimasi densitas karbon.

Akhir pekan lalu, metodologi untuk REDD plus yang digagas Indonesia telah mendapat persetujuan dari Badan Pembantu untuk Advis Teknologi dan Sains Pertemuan Para Pihak Ke-15 Konferensi Perubahan Iklim PBB.

Dalam laporan yang dibiayai perusahaan multinasional Rio Tinto yang bergerak di bidang pertambangan itu disebutkan, biaya ”menjaga hutan” didapatkan dari sebagian pembayaran karbon tersebut.

Di Indonesia, dituliskan, sekitar 85 persen emisi GRK adalah dari deforestasi dan kebakaran hutan. Adapun 75 persen emisi GRK Brasil berasal dari deforestasi di Amazon dan itu meliputi 8-14 persen emisi global dari penggunaan lahan dan perubahan fungsi lahan.

Laporan itu memberi fokus terhadap biaya riil bagi investor yang ingin berinvestasi pada proyek pengurangan emisi karbon melalui REDD. Harga berkisar 49 sen per ton untuk CO dari peternakan kecil hingga 19,6 dollar AS untuk perkebunan kelapa sawit yang dikonversi.

Nah, jelas sudah bahwa perdagangan karbon adalah muara dari segala urusan pengurangan emisi. Dan, di sana perusahaan-perusahaan multinasional bebas mengeluarkan emisi sembari merusak lingkungan. Dalam urusan ini tak jelas sosok masyarakat adat yang mewarisi lahan itu dari nenek moyangnya. (REUTERS/ISW)***

Source : Kompas, Rabu, 16 Desember 2009 | 05:37 WIB

Rabu, 23 Desember 2009

Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu Gelar Lokakarya KLHS

Lokakarya Lingkungan – Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat menggelar Lokakarya “Kajian Lingkungan Hidup Strategis” di ruang pertemuan Hotel Handayani, Indramayu, Rabu (16/12). (Foto : Ist)

Aep Surahman : “Tanpa Tindakan Nyata, Lokakarya Lingkungan Hidup Sia-sia”

INDRAMAYU - Sebagai daerah pantai, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa memiliki garis pantai sepanjang 113 kilometer. Namun saat ini daerah Pantura itu telah mengalami degradasi daratan pantai karena hantaman abrasi setiap hari. Sehingga diperkirakan, ratusan kilometer daratannya telah mengalami kerusakan akibat terjangan ombak laut Jawa tersebut.

Tak pelak lagi, kini Kabupaten Indramayu tengah menghadapi problema yang belum terpercahkan. Untuk itu diperlukan sebuah kajian strategis upaya-upaya untuk menyelamatkan bibir pantai dari “gempuran” ombak laut. Selain itu, pencemaran laut juga tengah menjadi perhatian serius pihak Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu.

Hal itu mengemuka dalam acara Lokakarya Lingkungan Hidup, khususnya daerah-daerah pantai dalam kebijakan tata ruang daerah. Lokakarya yang mengusung tema “Kajian Lingkungan Hidup Strategis” (KLHS) yang digelar Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu, bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Institut Teknologi Bandung (ITB) di Hotel Handayani Indramayu, Rabu (16/12).

Obyek kajian strategis dalam lokakarya kali ini adalah wilayah pantai di Kecamatan Pasekan dan Indramayu. Di kedua wilayah pantai kecamatan itu dinilai paling rawan bencana abrasi. Pada musim angin timur gelombang laut akan datang dari arah timur laut dengan kisaran tinggi 0,5 – 2 meter.

Sedangkan, pada musim angin barat, perairan di wilayah ini cukup tenang karena terlindung dari terjangan gelombang. Tunggang pasang surut maksimun di daerah pesisir mencapai 1,5 meter dengan type campuran cenderung semidiurnal (dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari). Arus permukaan mengikuti musim angin barat dan musim angin timur. Gelombang akan tinggi pada musim angin timur dan arus dapat mencapai kecepatan 60 cm/detik.

“Hal ini dapat dilihat faktanya dari lidah pasir di muara sungai Parawira Kepolo yang cenderung ke arah tenggara. Sedimentasi di muara sungai ini cukup besar dan membentuk teras sedimen di perairan depan muara sungai. Terjadinya sedimentasi di depan muara sungai dikarenakan adanya pengaruh debit sungai sedangkan abrasi tidak diketemukan di pesisir segmen 1 ini,” kata Ir. Aep Surahman, Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu.

Menurut Aep, adanya gelombang datang dengan arah timur laut pada saat musim angin timur, bisa menyebabkan terjadinya angkutan sedimen setelah gelombang pecah. Angkutan sedimen ini, kata Aep, pada musim angin timur akan menyusuri pantai dengan arah ke tenggara.

Dijelaskan, untuk wilayah pantai Karangsong, Kecamatan Indramayu, adanya pembangunan jetty (pemecah gelombang berbentuk beton cor), akan mengakibatkan muara sungai Karangsong selalu terbuka. Meskipun pada musim angin timur di saat angkutan sedimen sejajar pantai cukup besar, dan debit air sungai melemah. Sedangkan efek lain dibangunnya jetty ini adalah terjadinya erosi di bagian selatan jetty.

Di wilayah pantai Desa Brondong, tidak terjadi erosi yang serius di segmen ini. Namun abrasi (runtuhan sedimen), dimungkinkan oleh hantaman gelombang, khususnya pada musim angin timur, karena pantai di segmen ini menghadap laut terbuka. Namun abrasi oleh hantaman gelombang mungkinkan untuk dicegah dengan struktur pantai ataupun secara alami (vegetasi),” kata Aep.

Di akhir materi Lokakarya itu, Aep juga mengungkapkan, digelarnya Lokakarya Kajian Lingkungan Hidup Strategis (LKLHS) itu, tidak akan mempunyai efek nyata atau sia-sia, apabila tidak ditindaklanjuti dengan aksi yang dapat membawa pengetahuan, pemikiran dan usulan yang telah dikembangkan ke dalam tindakan nyata.

Untuk itu, Aep mengharapkan, agar hasil Lokakarya KLHS tersebut dijadikan dokumen resmi, dan dimasukkan ke dalam peraturan rencana detail tata ruang dan peraturan zonasi Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Program ini, harus di dukung pula oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat. (Satim) ***

Penambang Liar Harus Dihentikan !

Penambang Liar Rusak Lingkungan

Diarahkan Menekuni Profesi Lain

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengatakan, tidak ada program pemberdayaan masyarakat yang disediakan pemerintah untuk mengalihkan para penambang liar galian C di Kabupaten Magelang dan sekitarnya. Menurut Bibit, para penambang itu merusak lingkungan dan perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.

"Mereka itu berusaha sendiri, melakukan sendiri, dan melanggar aturan. Karena melanggar, harus dihentikan. Ke depan, masing-masing harus mencari usaha sendiri," kata Bibit di Kota Semarang, Senin (21/12).

Menurut Bibit, pemerintah tidak dapat menyediakan lapangan pekerjaan bagi penambang liar tersebut. Diperkirakan, jumlah penambang liar secara manual di Kabupaten Magelang dan sekitarnya 3.000-4.000 orang.

"Kegiatan merusak lingkungan tidak dapat dibenarkan. Orang yang merusak lingkungan harus dicegah, cari pekerjaan lain. Itu tergantung dari keuletan masyarakat untuk mencari mata pencaharian," kata Bibit. Dia mengatakan, pemerintah provinsi hanya dapat memicu pertumbuhan ekonomi agar tercipta lapangan pekerjaan bagi warganya. Profesi lain

Para penambang bahan galian C di Kabupaten Magelang kini diarahkan untuk menekuni profesi lain. Hal ini agar mereka menghentikan kegiatan penambangan yang merusak lingkungan cukup parah di Gunung Merapi.

Kepala Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Dinas Pekerjaan Umum, Energi, dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang Dwi Kundarto mengatakan, enam bulan lalu, Pemprov Jateng memberikan bantuan tiga mesin pemecah batu kepada kelompok penambang di Desa Keningar, Kecamatan Srumbung. Petugas dari Pemprov Jateng mendampingi dan melatih mereka.

"Mereka dilatih memecah batu-batu di sungai agar dapat dibentuk menjadi paving block," ujarnya, Senin (21/12).

Jumlah penambang di wilayah Desa Keningar sebanyak 600 orang dan 60 persen di antaranya penduduk dari daerah lain.

Pada 6 November, Pemprov Jateng memberikan bantuan senilai Rp 161 juta kepada masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Srumbung. Bantuan itu meliputi mesin pemecah batu, peralatan penyadap getah pinus, bibit tanaman, dan uang Rp 21 juta.

Pemerintah Kabupaten Magelang menertibkan penambangan secara lebih intensif, menggelar razia penambang baik yang bekerja secara manual maupun menggunakan alat berat. (UTI/EGI)***

Source : Kompas, Selasa, 22 Desember 2009 | 11:36 WIB

Masyarakat Rembang Diminta Waspada Bencana

PENANGGULANGAN BENCANA
Waspadai Kawasan Penambangan
REMBANG - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG Jawa Tengah memperkirakan curah hujan di Kabupaten Rembang pada Januari 2010 tinggi. Masyarakat Rembang yang tinggal di kawasan pegunungan, khususnya pertambangan dan daerah aliran sungai, perlu mewaspadai bencana longsor dan banjir.
Menurut Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Rembang Suharso, Senin (21/12), BMKG menginformasikan curah hujan di Rembang selama Januari 2010 adalah 400-500 milimeter per detik. Curah hujan normal hanya 200 milimeter per detik.
Bencana yang potensial terjadi adalah longsor dan banjir. Daerah-daerah rawan longsor di Rembang antara lain Kecamatan Sale, Sedan, Kragan, dan Gunem. Daerah-daerah itu merupakan kawasan tambang galian C. "Adapun daerah-daerah rawan banjir berada di Kecamatan Lasem dan Pancur. Dua daerah itu dilalui Sungai Lasem atau Babagan," kata Suharso.
Suharso mengemukakan, Kesbangpolinmas akan membentuk tim penanggulangan bencana di desa dan kecamatan rawan bencana untuk mengantisipasi hal itu. Secara khusus, Kesbangpolinmas juga akan menyurati pemerintah setempat untuk menyosialisasikan kepada warga supaya memerhatikan anak-anak agar tidak bermain di sungai dan tambang. "Akhir-akhir ini terdapat dua kasus anak tenggelam di sungai. Selain itu, peledakan batu tambang berpotensi pula melabilkan tanah sekitar tambang. Hal itu berbahaya bagi anak-anak yang bermain di kawasan itu," kata Suharso. Pelibatan masyarakat
Ahli penanggulangan bencana BMKG Jawa Tengah Gatot M Sudrajat mengemukakan, penanggulangan bencana membutuhkan peran aktif masyarakat. Pemerintah perlu melibatkan masyarakat lantaran mereka yang tinggal dan tahu daerah serta yang pertama berhadapan dengan bencana.
Selama ini pemerintah kurang membekali masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana dengan
pengetahuan dan keterampilan penanggulangan bencana. Setidaknya harus ada satu tim yang memiliki kemampuan itu dan selalu memonitor potensi bencana.
"Jika sewaktu-waktu terjadi bencana, tim dapat bergerak cepat melakukan langkah-langkah penanganan pertama tanpa harus menunggu-nunggu pemerintah," kata Gatot. (hen)***
Source : Kompas, Selasa, 22 Desember 2009 | 12:28 WIB



Badai Salju dan Pesan Kopenhagen


TAJUK RENCANA KOMPAS

Selasa, 22 Desember 2009

Badai Salju dan Pesan Kopenhagen

Apakah ada hal yang berbeda ketika pada bulan Desember atau Januari negara-negara di lintang tinggi berhias salju seperti sekarang ini?

Kemarin pun di media cetak, juga di siaran televisi, kita melihat kota-kota di Pantai Timur Amerika Serikat tampak putih diliputi salju. Musim dingin yang datang lebih dini, dengan tingkat yang lebih keras dibandingkan dengan masa-masa lalu, juga diamati di sejumlah negara Eropa.

Ya, White Christmas tetap harapan yang indah bagi banyak orang. Natal di negara empat musim sering dirasakan kurang komplet tanpa salju. Masalahnya, boleh jadi yang dialami sekarang lebih dari sekadar White Christmas, tetapi salju yang datang disertai dengan badai yang hebat. Karena itu pula, keadaan darurat diumumkan di sejumlah negara bagian di AS, seperti di Virginia dan Maryland. Satuan Garda Nasional juga dikerahkan.

Sejumlah penelitian menyebutkan, hari demi hari cuaca cenderung jadi lebih ekstrem sebagai salah satu wujud perubahan iklim. Di sejumlah tempat muncul laporan bahwa musim tak mengikuti irama tempo dulu. Kalau datang, musim panas dirasakan makin panas, dan musim dingin makin dingin. Sementara itu, di negara kita sendiri semakin sering kita mendengar laporan terjadinya fenomena alam, seperti puting beliung.

Dari Konferensi Perubahan Iklim PBB yang baru usai di Kopenhagen, kita pun mendengar laporan bahwa dari semua bencana alam yang terjadi sepanjang tahun 2009, lebih dari tiga perempatnya terkait dengan cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem ini juga disebut sebagai penyebab munculnya penderitaan 55 juta jiwa di seluruh dunia.

Yang lebih patut kita camkan adalah peringatan Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia Michael Jarraud. Ia menyebutkan, badai tropis, hujan ekstrem, dan kekeringan tidak dapat dicegah oleh siapa pun. Yang bisa dilakukan menurut Jarraud adalah meramalkan datangnya sehingga dampak buruknya bisa dikurangi.

Dalam kaitan inilah kita melihat kaitan antara pesan-pesan dari Kopenhagen dan fenomena alam yang kini banyak mendera wilayah Pantai Timur Amerika dan sebagian Eropa.

Kita sendiri, meski terbebas dari ancaman badai salju, tetap berada dalam ancaman banjir dan badai tropis, selain gempa bumi. Ketika musim hujan masih ada di depan mata, persiapan menghadapi banjir pun tidak boleh kita kendurkan. Bisa saja curah hujan ternyata tidak setinggi yang kita ramalkan. Akan tetapi, itu berarti ada ancaman lain yang harus kita hadapi, yakni kekeringan panjang di bawah fenomena El Nino.

Apa pun, berbagai kejadian cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia lain seyogianya terus kita pantau dengan saksama, setidaknya untuk selalu mengingatkan diri bahwa potensi bencana ada di sekeliling kita. ***

Delapan Kontainer Kayu Yang Dicurigai Ilegal Di Tahan Polisi Samarinda

Polisi Tahan Delapan Kontainer Kayu

SAMARINDA - Kepolisian Kota Besar Samarinda menahan delapan kontainer kayu-kayu olahan di Pelabuhan Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (22/12). Penahanan dilakukan karena polisi ingin memastikan kepemilikan, kelengkapan dokumen, dan sah tidaknya kayu-kayu tersebut.

Kepala Bagian Operasional Poltabes Samarinda Komisaris Yusep Gunawan mengemukakan hal itu ketika menjawab pers di Kantor Poltabes Samarinda, Selasa siang. ”Pemeriksaan menyangkut dukungan terhadap Operasi Pemberantasan Pembalakan Ilegal yang digencarkan Polda Kaltim,” katanya.

Operasi itu dimaksudkan untuk memastikan bahwa kayu-kayu yang keluar dari Kaltim sah, bukan hasil pembalakan ilegal. ”Kayu-kayu harus diketahui asal- usulnya dan jelas dokumen-dokumennya,” kata Yusep.

Sejauh ini, lanjutnya, belum diketahui siapa pemilik, perusahaan pengangkut, tujuan pengiriman, dan jenis kayu-kayu yang ditahan itu. Belum satu pihak pun yang diperiksa. Muatan kontainer belum dihitung. Isinya diperkirakan mencapai 108 hingga 148 meter kubik (m) kayu. Kontainer yang dipakai berukuran 20 kaki, yang bisa diisi 16-18 mbarang.

Sabtu lalu, menurut Yusep, polisi juga menahan 34 kontainer di Pelabuhan Samarinda. Isinya, 590 m kayu olahan dari jenis meranti, bengkirai, dan kapur. Polisi awalnya curiga kayu-kayu itu hasil pembalakan ilegal.

”Ternyata kayu-kayu itu berasal dari kilang penggergajian di Kecamatan Muarawahau, Kabupaten Kutai Timur, sekitar 350 kilometer dari Samarinda. Penguasa barang adalah PT Silviana dan PT Mandau. Setelah diperiksa, kedua perusahaan itu mampu menunjukkan faktur angkutan kayu olahan sehingga untuk sementara diyakini kayu-kayu itu berdokumen sah,” ujar Yusep.(BRO)***

Source : Kompas, Rabu, 23 Desember 2009 | 03:17 WIB

Selasa, 22 Desember 2009

Bibit Pohon Untuk Menghijaukan Bumi Wiralodra Indramayu

Persemaian Bibit Milik Dinas Hutbun Indramayu

Bibit Pohon Milik Dishutbun Indramayu – Bibit pohon milik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat masih ribuan macam jenis bibit yang disiapkan untuk program penghijauan Bumi Wiralodra Indramayu. Tampak dalam gambar, bibit pohon dan berbagai macam tanaman buah itu tersimpan di belakang kantor yang dipimpin Drs. H. Yayan Mulyantoro, MM tersebut. (Satim). Foto : Satim

Senin, 21 Desember 2009

Badai Salju, Sabtu (19/12), Menyapu Pantai Timur Amerika Serikat

Amerika Dilanda Badai Salju

Transportasi, Penerbangan, dan Bisnis Terganggu

WASHINGTON, Sabtu - Badai salju, Sabtu (19/12), menyapu pantai timur Amerika Serikat, mengakibatkan tenaga listrik bagi ribuan rumah terputus dan arus lalu lintas udara pun lumpuh. Gubernur Negara Bagian Virginia, Maryland, West Virginia, dan Delaware menyatakan status negeri dalam darurat.

Salju tebal di jalan juga menjadikan para konsumen AS enggan keluar rumah untuk berbelanja keperluan Natal. Padahal, biasanya masyarakat AS memanfaatkan Sabtu terakhir sebelum Natal untuk berbelanja.

Secara nasional, biasanya masyarakat AS membelanjakan hingga 15 miliar dollar AS selama Sabtu terakhir menjelang Natal. Konsumsi merupakan penggerak penting perekonomian AS.

Presiden Barack Obama yang sedang menghadiri KTT di Kopenhagen pulang lebih cepat untuk menghindari cuaca buruk.

Ketebalan salju mencapai 56 sentimeter di kawasan Baltimore, area Washington. Rekor ketebalan salju di Washington setinggi 30 sentimeter pada tahun 1932 dan di Baltimore setinggi 35 sentimeter pada tahun 1960.

Badai salju bergerak ke utara ke daerah New York dan New England. Dalam satu jam, salju yang jatuh mencapai lima sentimeter. Sampai-sampai Bandar Udara Nasional Ronald Reagan ditutup hingga Minggu (20/12).

Selain itu, sebagian besar perusahaan penerbangan juga menunda jadwal penerbangan mereka dari Bandara Internasional Dulles. Pejabat bandara mengatakan, sebagian besar penerbangan dari Baltimore ditunda, sementara penerbangan di Bandara Internasional Philadelphia sempat tertunda selama enam jam. Tidak hanya itu, beberapa penerbangan di Bandara LaGuardia New York juga ditunda atau dibatalkan.

Hantaman salju itu sampai membuat Wali Kota Washington Adrian Fenty mendeklarasikan keadaan darurat salju. Dia juga meminta penduduk di Distrik Columbia tetap berada di dalam rumah. Washington juga menghentikan operasional jalur kereta Metrorail yang beroperasi di atas tanah dan menghentikan semua pelayanan bus kota lebih cepat dari biasanya pada sore hari.

Penghentian itu dilakukan karena jalan-jalan tertutup salju dan tidak mungkin dilalui. Penghentian layanan transportasi tersebut juga menyebabkan para konsumen di pinggiran kota tidak dapat mencapai pusat perbelanjaan yang terletak di dalam kota.

Keadaan darurat juga diumumkan oleh gubernur di Virginia dan Maryland. Garda Nasional dipanggil untuk menanggulangi badai tersebut. Para pengendara motor di seantero kawasan juga disarankan untuk berhenti. Tidak hanya masalah transportasi dan bisnis, kegiatan olahraga juga terpengaruh oleh salju. Hingga sekarang belum jelas benar apakah Chichago Bears yang penerbangannya ditunda karena salju akan dapat bertanding dengan Ravens.

Badai salju diperkirakan akan terus bergerak ke arah Atlatik pada Minggu pagi dan menyelimuti beberapa kawasan di utara termasuk Philadelphia dan New York pada akhir pekan ini. (AP/AFP/Reuters/joe)***

Source : Kompas, Senin, 21 Desember 2009 | 02:54 WIB

Bumi Adalah Rumah Kita Bersama, dan Kita Harus Menjaganya Dengan Hutan

BENCANA IKLIM

Sebuah Seruan untuk Bertindak

Menteri Luar Negeri Norwegia Jonas Gahr Støre

Bentuk bumi kita, bulat biru putih berkilau, gulungan awan diwarnai kemilau es di kutub yang menyilaukan yang berlawanan dengan warna biru laut. Itulah gambaran umum di kepala semua manusia tentang simbol rumah bersama kita.

Namun, berapa lama lagi generasi penerus kita bakal bisa menikmati rupa bumi tersebut? Pekan lalu, para perunding perubahan iklim berkumpul di Kopenhagen, Denmark, untuk menanggapi isu pemanasan global. Mereka bicara soal 2020, 2030, atau 2050. Masa depan sistem iklim global bisa jadi ditentukan bukan oleh hitungan dekade tadi, melainkan oleh tindakan-tindakan kita—atau jika kita tidak bertindak apa-apa—dalam beberapa tahun mendatang, yang menentukan laju melelehnya es.

Cryosphere (kriosfer)—bagian bumi yang tertutup oleh salju dan es—telah lama dipandang sebagai canary in the coal mine (harapan di tengah bencana) bagi isu pemanasan global. Sudah lama kita tahu, yaitu sejak munculnya laporan pertama kali dari Panel Ahli Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) tahun 1990, bahwa Arktik mengalami pemanasan lebih cepat, dua kali lebih cepat dibandingkan bagian lain di dunia. Kita telah menyaksikan gletser di puncak Gunung Kilimanjaro secara perlahan lenyap, 85 persen sudah hilang pada abad lalu. Kita menyaksikan lapisan es Larsen B yang berusia 12.000 tahun di Antartika runtuh dalam beberapa minggu saja pada 2002.

Kita pun tahu bahwa kondisinya buruk. Kini kita tahu bahwa masa depan salju dan es di planet kita yang biru-putih sebenarnya amatlah buruk.

April lalu, Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore dan saya menyelenggarakan panel para ahli untuk merangkum kondisi lapisan es dan salju. Para ahli telah menyelesaikan tugasnya dan kami menyerahkan laporan tersebut kepada Badan Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) di Kopenhagen, Senin (14/12). Kami berharap laporan itu dibaca dengan bijaksana. Yang kami miliki itu merupakan tanda bahaya yang keras dari setiap sudut kriosfer, bel tanda bahaya melelehnya es:

• Menghilangnya es dari lapisan es Greenland meningkat tiga kali lipat hanya dalam satu dekade lalu.

• Tutupan salju berkurang dan gletser dari Himalaya hingga Alpen telah lenyap dalam kecepatan tinggi. Kehilangan lapisan salju terbesar terjadi di Andes dan bagian barat laut Amerika.

• Kriosfer yang semula diperkirakan tak akan meleleh, dan diduga bisa memengaruhi kriosfer lain, ternyata juga mengalaminya. Antartika yang luar biasa luas saat ini menunjukkan tanda-tanda kehilangan semua lapisan esnya karena naiknya temperatur.

Apa makna semua ini bagi seluruh umat manusia di dunia yang sebagian besar tinggal di daerah dekat es dan salju? Itu dapat berarti segalanya, dalam hubungannya dengan masa depan kita:

• Perkiraan terakhir IPCC (tahun 2007) bahwa muka air laut akan naik 0,5 meter pada tahun 2100 itu tampaknya adalah kenaikan minimum. Kecepatan melelehnya es di Greenland dan di tempat-tempat lain yang semakin tinggi memunculkan antisipasi, muka air laut diperkirakan bisa mencapai 1,5 meter pada 2100. Jika ini terjadi, ratusan juta manusia akan terkena dampak.

• Hilangnya salju dan es mengurangi fungsi reflektor permukaan bumi dan mencairnya lapisan permafrost (bagian bawah es yang selama ini tak pernah mencair pada musim panas) menyebabkan lepasnya gas metana (CH) dan CO dalam jumlah lebih besar dari perkiraan awal. Keduanya mempercepat proses pemanasan global.

• Lenyapnya gletser di atas bumi memicu kekurangan sumber daya air secara meluas. Sekitar 2 miliar orang hidupnya bergantung pada air dari dataran Himalaya—sering disebut ”kutub ketiga”.

Melelehnya salju dan es bukan hanya terkait dengan mereka yang tinggal di pegunungan atau Arktik. Ini adalah persoalan masa depan kita semua.

Lalu, apa maknanya bagi sejumlah bangsa yang sekarang berkumpul di Kopenhagen? Perlu bagi para pemimpin dunia untuk membuat perjanjian yang kuat dan agresif guna mengurangi emisi CO. Karena CO bertahan amat lama di atmosfer, maka untuk menghidupkan harapan dapat mempertahankan kriosfer kita harus mengurangi emisi CO hari ini, bukan besok, bukan tahun depan, bukan pasca-2020: tetapi sekarang.

Yang dibutuhkan di Kopenhagen adalah pemimpin yang visioner; yang mau melihat di luar batas kepentingan sempit negara-negara atau saling menyalahkan dan mencari kompensasi, ke arah ancaman masa depan bagi planet kita yang semakin rapuh.

Kita membutuhkan rencana darurat untuk kriosfer, bertindak sekarang untuk menjaga seluas mungkin tutupan es dan salju. Ini berarti kita harus mengurangi penyebab jangka pendek yang saat ini tidak masuk dalam perjanjian global iklim, seperti black carbon dan ozon, dan lebih memusatkan perhatian pada gas-gas berusia pendek, seperti HFC (hidrofluorokarbon) dan metana (CH).

Black carbon berkontribusi 12 persen pada pemanasan global, lebih lagi pada kriosfer, yang menghitamkan es dan salju dan mempercepat pelelehan. Studi terakhir menyebutkan, black carbon yang jatuh di Arktik datang dari pembakaran pada musim semi di Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia; kita perlu melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikan ini secepatnya. Secara global, asap dari tungku model lama tidak hanya menghasilkan black carbon, tetapi juga membunuh jutaan wanita dan anak-anak setiap tahun. Menggantinya dengan tungku yang bersih, terutama di sekitar Himalaya, akan menyelamatkan kehidupan dan membantu kondisi kriosfer.

Metana, sesuai dengan kesepakatan Kyoto, telah menyebabkan 25 persen efek pemanasan global, terlebih di kutub pada musim semi sehingga juga harus mendapat perhatian khusus.

Kesepakatan Kopenhagen butuh target jangka menengah dan jangka panjang, untuk tahun 2020, 2030, dan 2050 yang agresif. Jangan sampai tertipu oleh tahun-tahun penetapan tersebut karena untuk penyelamatan kriosfer butuh waktu panjang, tetapi saat bertindak adalah di sini dan sekarang. Planet kita yang berkilau biru
putih di antara taburan bintang bisa jadi tak punya kesempatan lagi....

Source : Kompas, Senin, 21 Desember 2009 | 03:45 WIB

 

TRANSLATE/TERJEMAH BAHASA

My Blog List

Site Info

Followers

LINGKUNGAN GLOBAL Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template